Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Langkah Awal


__ADS_3

Akhirnya mereka tiba di ruangan Devan.


Hanya beda satu lantai dengan Dea yang menjabat sebagai staf keuangan, namun cukup membuat mereka untuk sementara waktu terhindar dari celotehan Dea yang sudah pasti akan banyak bertanya.


Salsa mengetuk pintu, saat akan masuk ruangan manager pemasaran yang tak lain adalah ruangan dimana Devan berada.


"Masuk !" Sahut Devan dari dalam.


Pintu terbuka, Salsa lalu melangkah masuk.


Devan tercengang


"Ya Tuhan.. hindarkan aku dari si biang gosip ini. Kenapa sampai menyusul keruanganku".


"Pagi pak" sapa Salsa formal.


Devan mengangguk "Pagi".


"Apa laporan yang aku perintah sudah selesai Sa?" Tanya Doni yang tiba- tiba menyela, sebelum Salsa mengutarakan hal macam macam di luar pekerjaan, yang pasti akan membuat Devan tak nyaman dihari pertamanya bekerja.


"Sss..sudah pak" Salsa menarik nafas dalam, sebelum masuk ke ruangan ini sebetulnya dia sudah menenangkan diri untuk bersikap profesional antara atasan dan bawahan. Namun melihat Devan saja mulutnya sudah gemas ingin bertanya-tanya perihal tadi yang sudah ia tanyakan tapi tak mendapat jawaban memuaskan, untung ada Doni yang langsung ingin membahas pekerjaan.


"Ini saya bawakan laporan keuangan bulan ini pak" ucapnya kemudian.


"Bagus!" Sahut Doni, lalu mendekat duduk disebelah gadis itu dengan posisi mereka tepat di depan Devan.


Salsa menoleh pada Doni, pria itu mengangguk . "bapak silahkan periksa mulai dari awal !". Salsa menyerahkan sebuah map kepada Devan untuk dibaca.


Devan menerima dokumen itu lalu membacanya. Kening Devan berkerut, tanda dia sedang menemukan sesuatu yang aneh dalam laporan itu. Lagi pula laporan keuangan biasanya bukan diserahkan pada Devan untuk memeriksanya. Tapi pada manager keuangan lah yang seharusnya Salsa datangi.

__ADS_1


Salsa juga Doni menatap intens atasan mereka.


Doni bersuara "aku menemukan yang aneh dalam laporan keuangan akhir-akhir ini".


"Siapa yang melakukannya ? Apa semua stafnya seperti ini ?" Tanya Devan. Pasalnya Sania pernah bekerja sebagai staf keuangan bersama dengan Dea, tapi Devan yakin mantan kekasihnya itu bersih. Tidak mungkin berani menyalahgunakan bahkan sampai memanipulasi data keuangan perusahaan.


"Atasan tertinggi yang bermain curang" jawab Doni mantap.


Salsa terkesiap, Doni berani terang- terangan pada Devan.


Sebagai anak orang kepercayaan mendiang ayah Devan sekaligus sahabat sang pewaris tunggal, Doni selalu waspada dengan keadaan, dia selalu ambil tindakan mengenai sesuatu yang mencurigakan lalu dilaporkan pada Devan.


Dia dan Adam berteman baik dengan Devan ataupun Rangga sedari mereka sekolah dasar hingga kini dewasa.


Beberapa waktu lalu, ketika Devan kecelakaan. CEO perusahaan yakni Erik paman angkat Devan, mencoba mencairkan dana yang jumlahnya terhitung besar dengan alasan sebagai anggaran belanja perusahaan, namun dengan jumlah yang demikian besar dan alasan yang tidak masuk akal menurut Doni, ia lalu menelusuri rekam jejak pengeluaran uang perusahaan milik Devan itu. Dengan di bantu para sahabat wanitanya, yakni Dea, salsa dan juga Mia yang menjabat sebagai sekretaris Erik.


"Kerja bagus, ini jadi alat bukti kuat untuk melengserkan paman dari kursi tamaknya". Devan menyeringai, walau dia masih belum dipercaya untuk menduduki kursi kepemimpinan perusahaan tapi dia dikelilingi para sahabat yang sigap setulus hati menjaga perusahaan miliknya itu.


Devan mengiyakan "Terima kasih Sa, silahkan kembali !" ucap Devan.


Salsa tersenyum mengangguk lalu pamit undur diri.


Selepas kepergian Salsa, Doni masih menatap lekat Devan. Yang ditatap sadar lalu berkata "APA ? Jangan melihat ku begitu !" Pekik Devan.


"iissh...." Doni membenahi posisi duduk.


"Iya iya... Aku tau maksudnya. Dasar pamrih"


Doni tergelak "bukan begitu... merayu Salsa kan nggak gratis man, banyak jajannya dia"

__ADS_1


"Haha" tawa Devan menggema namun sedetik kemudian dia terdiam .


Aku merindukanmu.


Teringat dulu, Sania juga selalu banyak jajannya. Beli aneka makanan ini dan itu, tapi semua dimakan tidak ada yang mubazir dan Devan suka itu. Ya.. tapi itu dulu, dua tahun yang lalu ketika awal mereka jadian.


Devan membuka laci meja kerja, masih ada foto Sania terselip disana. Hanya dilihat tapi enggan mengambilnya, Dia tersenyum.


Aku kerja dulu ya.


Kemudian Devan meraih kaca mata lalu memakainya.



Fokuslah pada keinginan sang mama dulu, untuk ia bisa merebut kembali posisi kepemimpinan perusahaan mereka yang telah dikuasai Erik semenjak papa Devan meninggal.


Devan yakin jika ia bisa membahagiakan mamanya dengan menuruti permintaannya satu per satu, keinginannya pun akan tercapai sebagai balasannya. Dia yakin itu.


Maka mulai hari ini Devan bertekad fokus bekerja dengan baik demi aset dari jerih payah kedua orang tuanya itu. Setelah itu barulah ia gapai keinginannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


next ya 😘


__ADS_2