
"Mah aku ini dokter kulit, dokter kecantikan aku bukan perawat orang cacat." Ucap Dina seusai kegiatan makan malam selesai. Dari dulu mamanya juga tau putrinya itu hanya menyukai anak pemilik rumah sakit tempat putrinya itu bekerja.
"Sudahlah sayang, sampai kapan kamu mengharapkan seseorang yang sama sekali tak melirikmu" ucap mama Dina santai.
"MAH... " Dina beranjak dari kursinya, enggan berdebat dengan mamahnya. Dia tak ingin jadi anak pembangkang, hanya dia yang jadi harapan mamanya. Hanya mamanya yang ia punya saat ini setelah papanya tiada, makanya Bu Sandra ingin menjodohkan putranya dengan dina karna merasa mereka senasib, sama sama sudah tak punya ayah.
"Jangan lupa bersiap untuk besok pagi !" Teriak mamahnya Dina saat melihat putrinya sudah berlari masuk ke kamar meninggalkan dirinya.
.........
Sunshine : Dev, bisa kita bertemu ? Aku mau bicara sesuatu.
Pesan dari Sania masuk, Devan meletakkan secangkir tehnya lalu membuka ponselnya membaca pesan itu.
Baru akan mengetik balasan, Bu Sandra memanggil Devan.
"Van.. Sayang, coba lihat siapa yang datang. Mulai hari ini kamu ada teman ngobrol selama masa pemulihan"
Devan menoleh, melihat pada seseorang yang di bawa mamahnya masuk ke kamarnya, dan menghampiri dirinya yang sedang duduk di kursi balkon kamarnya itu.
Sepertinya nggak asing batin devan.
__ADS_1
"Dina, mulai hari ini kamu bebas keluar masuk kamar ini. Karna semua keperluan Devan kamu yang harus urus. Selama Tante keluar kota, Tante titip Devan sama kamu ya. Tolong pola makan Devan dan jadwal terapinya harus diperhatikan jangan sampai telat. Makasi ya sayang Tante tinggal dulu"
Setelah memberi wejangan panjang lebar pada Dina, Bu Sandra keluar dari kamar putranya itu.
Beliau mempercayakan betul segalanya tentang Devan pada gadis perawat anak teman arisannya itu yang sekaligus adalah calon istri yang akan dijodohkan pada Devan.
Secara personal Devan sudah mengenal Dina , karena mereka satu sekolah dulu. Dina juga adalah teman dari citra, gadis yang saat ini berhasil mengalihkan perhatian dan membuat Devan berpaling dari Sania.
"Kenapa masih disitu ?" Tanya Devan Mencoba membuyarkan lamunan Dina yang dilihatnya hanya diam mematung setelah kepergian mamanya tadi.
"Apa lihat lihat ? Suka ya lihat gue begini , cacat nggak bisa jalan, harus sewa perawat." Maki Devan yang sebenarnya dia merasakan kesal pada dirinya sendiri, bukan bermaksud kasar pada Dina.
Dina melangkahkan kaki perlahan menghampiri Devan. Kondisi psikis orang yang habis mengalami kecelakaan pasti sedikit terguncang, kekhawatiran akan kakinya yang cacat jalannya tidak normal atau akan lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi. Membuat mereka seakan frustasi dengan keadaan.
"Dari dulu kamu nggak berubah" ucap Dina lalu mendudukkan dirinya di kursi sebelah Devan.
"Siapa yang nyuruh duduk ? Ambil kan aku minum lagi ,pakai cangkir ini !" Ketus Devan memerintah Dina . Ya benar dia perawat dan segala kebutuhan Devan adalah tanggung jawab Dina, tapi nada bicara Devan mengisyaratkan seolah ia tak suka akan keberadaan Dina. Karna sudah tentu apapun yang akan dilakukan Devan semua pasti tak luput dari pengawasan Dina. Bahkan mungkin sekarang Dina sudah jadi kaki tangan Bu Sandra untuk selalu mengawasi putra tunggalnya itu. Arrrgh menyebalkan.
Sabar Dina ,ini baru hari pertama kau bertemu tuan muda Devan dengan kelakuan arogannya itu. Belum nanti segalanya akan dia rengekkan padamu , mengingat Devan punya sifat kekanakkan.
"Cepat ya ! Hangat jangan panas, inget hangat... Catet tu !"
__ADS_1
"Iya" sahut Dina lalu keluar kamar menuju ke dapur untuk mengambilkan secangkir teh yang Devan mau.
"Bawa saja sama tekonya lah, pasti dia nanti minta lagi". Gerutu Dina saat akan menuangkan teh ke cangkir itu.
"Sunshine aku kangen" lirih Devan dengan badan bersandar dan mata terpejam.
Ingin rasanya dia membalas pesan dari Sania yang kebetulan gadis itu juga ingin bertemu untuk membicarakan sesuatu.
Tapi dia ingat pesan mamanya, kalau dia masih berhubungan dengan Sania maka mamanya akan ambil tindakan dan tak segan untuk memecat Sania dari kantor.
"Van.. tolong bersikap dewasa, hanya kamu harapan mama, hanya kamu yang mama punya.. mamah tau, papamu bukan murni kecelakaan. Ada yang sabotase mobil papamu saat itu.
Tolong bekerjalah yang giat untuk merebut posisi CEO dikantor . Perusahaan itu aset terbesar yang papamu miliki, dibangun dengan penuh perjuangan dan air mata, kerja keras papa demi masa depan kita Van, masa depan kamu dan anak cucumu nanti. Mama hanya ingin memperjuangkan hak mu. Carilah pendamping yang kuat mental ! Dibalik laki-laki sukses, ada wanita hebat disampingnya. Mama harap kamu membuka sedikit hatimu untuk mengenal siapa Dina sebenarnya"
Setiap kalimat yang terucap oleh Bu Sandra terngiang-ngiang dikepala Devan. Itu artinya sang ibu ragu jika Devan melanjutkan hubungannya dengan Sania.
Bukan masalah kasta keluarga Sania orang berada atau bukan. Tapi masalah kesiapan sebagai pendamping Devan nantinya, dengan hidup yang diselimuti bayangan misteri meninggalnya sang ayah dalam kecelakaan.
"Ini minumnya Devan" . Ucap Dina membuyarkan lamunan Devan akan pembicaraannya semalam dengan sang ibu.
Haaaah.. Devan terperangah melihat tempat penyeduh tehnya dibawa juga oleh Dina .
__ADS_1
Dina melihat Devan terperangah dengan apa yang ia bawa, hanya bisa nyengir. Sudah pasti Devan akan cerewet lagi nanti.