
"Selamat pagi Bu" sapa Reno saat tiba di meja makan.
"Selamat pagi nak Reno" balas ibu.
"Kak Sania mana Bu ?"
"Sedang packing"
"Packing ? Mau kemana Bu?"
"Mau ikut pulang kampung dulu, boleh kan nak ?"
Sejenak Reno terdiam, "saya ikut"
Ibu tersenyum "boleh"
"Berapa hari rencananya bu?"
"Kemungkinan nggak lama, karena ibu juga harus menjenguk ayah Sania"
"Mau berangkat jam berapa Bu, Reno mau packing juga" ucap Reno antusias.
"Selesai sarapan ini kita berangkat"
"Omaaaaa..." Suara melengking Sera mengudara, anak kecil itu nampak berlarian disusul oleh pengasuhnya.
"Jangan lari lari sayang". Kata Sania yang juga ikut bergabung ke meja makan, diikuti Lina.
"Kak... Selagi ada bodyguardnya minta izin dulu tuh" kata Lina bernada sindiran.
Reno acuh tak menanggapi. Sedangkan ibu hanya menggeleng, tersenyum samar mendengarnya.
"Ren, kakak mau ikut pulang kampung boleh ya" sebuah kalimat bernada pertanyaan yang terdengar memaksa, terlontar dari Sania.
Mengangguk, Reno tetap lahap dengan sarapannya, tanpa melihat pada Sania.
"Ren..." Panggil Sania.
Mengangguk lagi, masih menikmati sarapannya seolah tak terganggu.
"Hhhmm.. Ren ,kakak nggak betah tinggal disini" ucap Sania.
"Apa KAK ?" Pekik Reno, membuat semua turut terkesiap.
Sania menyunggingkan senyuman, "kakak mau ikut ibu pulang kampung"
"Oh... Kirain nggak betah beneran" lanjut makan lagi.
"Bukan kok, pulang cuma sebentar boleh ya?" Rayu Sania.
"Boleh aja kak, kan aku ikut"
__ADS_1
Sania tercengang, kenapa nggak bilang dari tadi sih.
"Buahahaha... Bodyguard beneran ternyata" kelakar Lina.
Selesai sarapan bersama, mereka menunggu Reno mengemasi barang- barangnya, karena sudah dari semalam yang lain membereskan miliknya masing masing. Sedangkan anak laki- laki yang satu ini baru rencana dadakan untuk ikut bersama mereka.
Benar kata Lina, Reno merasa kesepian tinggal di rumah sendirian. Juga anak itu cepat membaur dengan keluarga Sania tanpa sungkan, apalagi dengan ibu. Dia merasa kasih sayang seorang ibu hidup kembali dalam hatinya, setelah sekian lama menjadi piatu.
Ibu pun menyayangi Reno setulus hati, sebab memang belum pernah memiliki seorang anak laki- laki dalam hidupnya, anak kandungnya perempuan, anak tirinya perempuan cucunya pun perempuan. Merasa ada kebahagiaan lain ketika ada seorang laki- laki berada diantara mereka.
Reno keluar dengan barang bawaannya, lengkap juga yang ia persiapkan. Bahkan melebihi barang bawaan Lina dan Sania, juga Sera yang salah satu koper khusus tempat mainannya pun selalu dibawa kemana mana.
Mereka menyambut antusias bus travel Hiace yang mulai masuk pekarangan rumah. Reno sengaja menyewanya untuk mengantar perjalanan mereka pulang kampung. Dia mengajak seorang pelayan dan pengasuh Sera, turut serta bersama mereka.
"Ramainya... Sudah seperti family gathering" kata Lina.
"Memang family" ucap ibu menimpali.
Semua sudah duduk rapi ditempatnya masing - masing, mobil pun perlahan melaju membelah jalanan padat meninggalkan ibu kota.
.........
"Makanlah dulu, habiskan sarapanmu !" Perintah Bu Sandra pada Devan, ketika ia baru saja sampai di meja makan.
Tak butuh waktu lama untuk Devan menghabiskan dua potong sandwich buatan tangan mamanya, lalu meminum jus apel kesukaannya.
"Terima kasih mah" Devan beranjak dari duduknya.
"Tunggu..! Duduk lah, mama mau tanya"
Devan menurut, "ada apa mah?"
"Langsung saja, jawablah jujur !"
Devan mengangguk "iya"
"Apa benar berita itu ?"
"Yang mana mah ?"
"Kau hamili perempuan itu ?" Sesak mengatakannya, rasanya tak akan kuat mendengar jawaban putranya kalau kenyataannya sampai benar begitu.
"Jangan percaya mah, Devan nggak pernah seliar itu"
"Sudah cukup kamu membangkang pada mamah Van... Kalau sampai berita ini benar adanya, mamah nggak tau lagi harus bagaimana cara mamah bersikap padamu. Mamah merasa gagal mendidikmu."
"Mah tolong jangan percaya berita nggak benar, itu hoaks... Mamah tau kan sebentar lagi aku akan kembali ke kantor, pasti ada yang tidak senang aku kembali dan mau menyingkirkan aku dengan berita itu"
"Buktikan saja kalau memang itu tidak benar" kata Bu Sandra seraya pergi meninggalkan Devan yang masih duduk disana.
"Tante tunggu !..." Panggil Dina yang nampak baru datang, terlihat dirinya yang masih di ambang pintu.
__ADS_1
Bu Sandra menghentikan langkahnya melihat pada Dina.
"Devan memang tidak melakukan itu tante, percayalah" .
"Apa pengakuan kalian bisa dipegang ?"
Mereka kompak mengangguk. Devan punya kekuatan untuk membuktikan bahwa dia tidak menghamili wanita itu, dan Dina ada dipihaknya, membela.
Dirinya yakin benar walau ia mabuk ia selalu pulang kerumah dalam kondisi aman, komandan security yang selalu memastikan itu. Menjaga semua tentang keadaan, dan keamanan putra tunggal bosnya.
Devan hanya perlu mengumpulkan bukti cctv, bahwa Citra pergi bersama pria lain setelah mabuk bersamanya. Walau itu harus menguras waktunya.
Besok hari pertamanya pergi bekerja setelah sekian lama cuti, sedang hari ini dia sudah diterpa berita tak mengenakkan yang telah sampai di telinga mamanya. Sudah ia pastikan ketika ia masuk kantor besok, akan ada banyak wartawan yang menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
Tak sia-sia kemarin Devan pergi bersama Dina lalu bertemu dengan wanita itu, dan mendengarnya secara langsung. Tapi setelahnya ada Erik yang datang menghampiri. Sudah Devan duga, pasti ada campur tangan sang paman angkat di balik Citra yang mengaku hamil benihnya.
Selepas Bu Sandra pergi, Dina benar- benar bertanya pada Devan tentang wanita itu. Tidak disangkal, Devan pernah menjalin hubungan dengan Citra. Tidak menutup kemungkinan sesuatu pernah terjadi saat mereka pernah bersama.
"Aku berani sumpah demi apapun, aku masih perjaka" kata Devan penuh penekanan.
"yakin ?" Dina memicingkan matanya "kalian pernah mabuk bersama saat di cafe party bulanan kau dan teman- temanmu itu".
"Tapi sungguh, aku sadar betul, nggak pernah sampai masuk lobang terlarang" ucap Devan mantap.
"Terus kalian ngapain aja, sejauh mana kalian berhubungan ?"
"Ya.... ya.." ragu ragu Devan bicara, "sekedar foreplay, petting sedikit".
"iissh" Dina memutar bola mata jengah. vulgar sekali lelaki ini. "Jangan jangan kau memang ikut tanam benih ya?" tunjuk Dina .
"sueeer" Devan menggeleng, melambaikan tangan berulang.
"Kau harus bisa yakinkan mamamu kalau kau benar, jangan sampai reputasi baik yang selama ini Tante Sandra bangun mati-matian runtuh seketika karena skandal memalukan putra semata wayangnya".
"iya aku janji".
"jangan cuma janji, BUKTIKAN !" pekik Dina.
"iya baby iya".
"iya iya.. jadi lelaki tuh harus bisa dipegang kata-katanya"
"Pegang yang lain pun Masi bisa"
plak
pukulan spontan Dina tepat mengenai luka lengan Devan.
"awwwwhh..." lirih Devan.
"uuuhh.. maaf maaf.." usap Dina lengan Devan.
__ADS_1
Devan memajukan bibirnya dengan mimik wajah seolah akan menangis.
"cup cup cup... maaf ya bbuuuuuuhh " ditiupnya luka itu "suster ganti perbannya mau?" kata Dina yang lalu di angguki oleh Devan.