
Untuk melangkah pun aku sulit
apalagi untuk menggapai dia kembali bersamaku
kenapa harus dia yang merebutmu dariku
kenapa dia selalu lebih beruntung dari aku
semua ini tak adil untukku
aku yang menemukanmu
kenapa harus dia yang memelukmu
Devan tak peduli dirinya menjadi tontonan orang yang ada di kantin tersebut. Mencoba berdiri dan berjalan lagi mengejar Sania yang kini sudah tidak terlihat dari tempatnya berada.
Teriak memanggil nama Sania pun tak mungkin. Gebrakan tangannya pada meja saja sudah membuat perhatian semua orang mengarah padanya. Apalagi jika dirinya sampai meluapkan amarahnya disana. Dia bisa ditangkap oleh tim keamanan karna dianggap membuat kegaduhan.
"Tetap disisiku Din.. terima kasih" ucap Devan melihat pada genggaman tangan Dina yang sedari tadi setia menemaninya.
Rasanya sesak ditinggal begitu saja oleh Sania ,terlebih tadi dia bilang sudah memutuskan untuk memilih. Lalu dia pergi mengikuti Rangga.
Rasa penasarannya mengalahkan rasa sakit di kakinya. Devan mencari kearah mana gadis yang masih berstatus kekasihnya dan juga sepupunya itu pergi.
" Nak... Ayah ingin kamu segera menikah, agar suatu saat ketika ayah sudah tiada ada yang menjagamu."
"Ayah kok bicara begitu, selama ini Sania baik-baik saja".
Ayah Sania kemudian mulai bercerita, sebenernya pak Wijaya adalah teman yang pernah meminjam uangnya dulu. Pada saat itu usaha mereka sama-sama gulung tikar . Uang tabungan ayah Sania yang sudah disimpan selama masa kejayaannya dulu diambil rencananya untuk modal awal lagi, namun pada saat yang bersamaan pak Wijaya datang meminjam uang untuk berobat istri dan ayahnya. Jumlah yang cukup fantastis pak Hendra berikan hanya untuk berobat, tapi dua bulan kemudian pak Hendra pun jatuh sakit hingga menguras tabungan sang istri.
Pak Hendra mengira dia telah ditipu sahabatnya karena semenjak itu pak Wijaya tidak pernah ada kabarnya.
"Maafkan aku hen... Waktu rumah sakit ini selesai pembangunannya, aku sempat mencarimu..." ucap pak Wijaya menggantung, mengenang kejadian masa lalu itu.
"Pasti kau kerumah lamaku kan ? Kami sudah pindah waktu itu" sahut pak Hendra menimpali.
__ADS_1
"Tapi kenapa pak dokter tidak mencari kami lagi atau menghubungi ayahku" ucap Sania sedikit tak terima, mengingat dia dan adiknya yang bernama Lina harus mencari kerja sampingan untuk bisa tetap bersekolah.
"Kejadiannya begitu rumit. Meneruskan pembangunan rumah sakit ini yang sempet tertunda karna kehabisan uang, istriku meninggal lalu ayahku sakit keras dan akhirnya meninggal juga , setelah itu mencari ayahmu yang ternyata pindah dan tidak bisa dihubungi lagi. Begitu membuatku sangat frustasi, disaat semua keadaan kembali normal orang orang di sekelilingku sudah tiada . Akhirnya takdir yang membuat kita bertemu lagi" ucapan pak Wijaya sesuai kenyataan yang memang pada saat itu dialami.
Pak Hendra pun tidak menyangkal karena memang beliau sendiri memutus hubungan dengan semua rekan serta kerabat tentang alasan kepindahan mereka.
Rumah pertama dijual tanpa pikir panjang karena memang harganya ditawar tinggi, lumayan untuk isi rekening yang saldonya sudah terkuras dibawa oleh pak Wijaya waktu itu.
Rumah kedua dijual karna memang kehidupan mereka belum stabil, dan uang semakin habis untuk biaya berobat.
Rumah ketiga dijual karna untuk menghindari cemoohan orang tentang aib putri keduanya yang hamil karna diperkosa oleh orang tak dikenal.
"Sudahlah kita lupakan masa lalu. Saat ini kamu satu-satunya teman yang aku punya". Ucap pak Hendra lirih.
Semua yang mendengar tersenyum, tidak ada lagi salah paham diantara dua keluarga itu tentang kejadian di masa lalu.
"Nak Sania, ayahmu perlu perawatan lebih intensif lagi.. kami pihak rumah sakit akan memindahkan ayahmu dirumah sakit luar negri". Kata pak Wijaya memberitahukan kepada Sania.
"Apa separah itu ayah?"
Kali ini ibu mendekat pada Sania.
"walaupun ibu bukan ibu kandungmu, ibu selalu berharap yang terbaik untukmu. Ibu yakin nak Rangga pilihan yang tepat untuk menjadi suamimu"
"Apa ini perjodohan hutang ?" Tanya Sania.
Dia tak merasa dipaksa untuk dijodohkan tapi kenapa secara kebetulan seperti ini, apakah Rangga memang sudah tau dan merencanakan sebelumnya?.
"Kamu polos sekali nak" kata pak Wijaya menertawai Sania, beliau menyukai perangai Sania sejak menolongnya saat gadis itu kecelakaan. Ditambah beliau melihat Rangga putranya, seperti sedang jatuh cinta pada Sania.
Sejak mengenal Sania, Rangga yang tadinya selalu bersikap dingin sekarang banyak perubahan dan itu dirasakan oleh pak Wijaya.
"Apa ini waktu yang tepat untuk aku melamarmu ?" Rangga yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
"Terima saja nak" pak Hendra meyakinkan Sania.
__ADS_1
"Ayah...tapi..."
Sania sudah tau masa lalu Rangga yang pernah menikah . Rangga sosok baik yang sering menolongnya, tapi Sania ragu karna mungkin terlalu cepat untuk memutuskan sebuah penikahan. Baginya menikah sekali seumur hidup, pilihannya sekarang adalah untuk menentukan masa depan nya nanti. Jika ia menyetujui Rangga sebagai calon suaminya itu artinya ia harus siap mengabdikan dirinya menjadi istri Rangga selamanya.
Melihat keyakinan orang tuanya yang telah merestui hubungan mereka Sania pun menganggukkan kepalanya tanda ia menerima perjodohan ini.
Rupanya ada hati yang sedang terbakar cemburu dibalik pintu ruangan sana. Dia kuatkan kaki untuk melangkah masuk, terserah apa tanggapan mereka nanti terhadapnya. Yang dia pikirkan bagaimana cara menculik Sania dari dalam sana, agar perjodohan itu tidak terjadi.
Devan menoleh pada Dina yang saat ini menggelengkan kepala dan mencekal pergelangan tangannya. Gadis itu mencegah Devan agar tidak mengamuk didalam sana.
"Bu Sandra merestui kamu dengan Rangga, bukan dengan Devan"
Deg
Ucapan ibu Sania terdengar menyakitkan, Devan mendengar kata-kata itu.
Ada yang tidak jadi melangkah masuk setelah mendengar ucapan ibu Sania. Dia lalu menutup pintunya lagi, tubuhnya merosot terduduk di lantai masih mencoba mencerna apa yang didengarnya tadi.
Merestui Sania dengan Rangga,
bukan dengan Devan
Merestui Sania dengan Rangga,
bukan dengan Devan
Kata-kata itu seakan berputar diingatan Devan, terngiang dikepala, mendengung di telinga tak ada habisnya.
Kenyataan macam apa ini..
Kepalanya pusing... Pintu yang digunakannya bersandar tadi tak mampu menopang berat punggung Devan dan akhirnya terbuka lebar.
Semua orang melihat kearah Devan yang tidur di lantai lalu menghampirinya.
Dina yang melihat Devan terduduk lemas tadi, berinisiatif mengambilkan kursi roda untuk membawanya pergi namun saat ia kembali semua orang telah mengerumuni Devan yang tak sadarkan diri .
__ADS_1
"Astaga Devan.." teriak Dina panik ditengah semua orang yang ada disana.