
Ternyata dia yang kasih tau Rangga. Sok pahlawan. Batin Devan geram.
Mengingat malam itu Rangga tiba-tiba datang padahal dia sudah bayar mahal security Dadang untuk menghalaunya di depan. Masih beruntung dirinya tidak baku hantam dengan Rangga, karena sudah pasti akan remuk dia oleh sepupunya.
Jam dinding menunjukkan angka sepuluh malam waktu Singapore, Rangga dan Sania sudah tiba di hotel yang telah di booking Rangga sebelumnya, hanya sekitar 1 jam 45 menit mereka tiba di Singapore Changi airport .
Persiapan pernikahan akan dilaksanakan di sebuah masjid masih dilingkungan rumah sakit esok hari.
"Malam ini kita menginap disini dulu" ujar Rangga.
"Mas, tapi kamarnya dua kan?" Tanya Sania, mereka kini tengah berada di loby hotel.
Rangga mengusap kepala Sania seraya tersenyum manis "aku tau kamu nggak nyaman, aku hanya pesan satu kamar. Tapi tempat tidurnya ada dua"
"Mas"
"Aku janji tidurmu aman, tak akan terjadi apapun"
Mau menolak tak enak, dikira nanti Sania banyak maunya. Menurut dan percaya saja lah.
.........
Sementara di Indonesia, Devan sibuk memikirkan bagaimana cara mengelabuhi Reno. Segala keperluan makan dan hal lain yang dibutuhkan dibawakan oleh pelayan dari rumah Reno. Hingga tak ada celah untuk Devan beralasan keluar.
"Lama lama gue bius juga nih bocah" gumam Devan sambil berjalan menuju kamar mandi.
ketika melewati dua gelas minuman yang tersedia disamping Reno, Devan memasukkan sebutir obat tidur ke dalam salah satunya.
Beberapa menit kemudian. Setelah membersihkan diri, Devan keluar dari kamar mandi dengan menyunggingkan senyum liciknya. Nampak Reno tengah tertidur pulas dengan layar ponsel yang masih menyala terang.
"Tidur juga akhirnya ha ha" ia lalu bergerak cepat membereskan semuanya. "minum dulu lah, bye bocah hahaha"
Tengah malam Bu Sandra baru tiba di rumahnya "Jeng terima kasih ya atas tumpangannya. Jadi pengen deh punya jet pribadi, biar cepet kalau mau kemana-mana"
"Ah iya , kalau jeng Sandra minat, jeng Anies tuh mau jual jet nya dia lagi butuh cuan banyak buat nambah modal restonya yang lagi viral"
"Iya nanti aku pikirkan lagi, makasi lho sudah diantar juga sampai rumah" seraya menutup kembali pintu mobil temannya.
"Iya jeng sama sama, aku pulang dulu ya"
"Iya bye..." Bu Sandra melambaikan tangan "hati-hati di jalan!"
Bruuuumm nguuung....
"Suara mobil siapa sih malam begini, dikira perumahan ini sirkuit Sentul apa"
Gerutu Bu Sandra lalu berjalan masuk.
"Ini.. apa lagi, simbok lupa kunci pintu, kalau ada penjahat bagaimana ?"
Setelah menggerutu dengan keadaan rumah, Bu Sandra lalu melangkahkan kaki menuju kamar Devan sebelum ia masuk ke kamarnya sendiri.
__ADS_1
Diambilnya kunci cadangan yang ada di laci dpan kamar Devan.
"Ren.. bangun sebentar nak" ucap Bu Sandra membangunkan Reno.
Reno mengerjapkan matanya,merasakan guncangan pada tubuhnya. Tak ingat dia tertidur saat asik main game lalu seketika mencari Devan.
"Mana Devan ?"
"Seharusnya Tante yang tanya" jawab Bu Sandra bingung.
"Maaf tan... Reno Ketiduran"
"Pasti ulah anak itu. ya sudah, lanjutkan tidurnya ! Kita cari besok. Tante lelah"
"Reno pulang deh tan"
"iya...terserah Reno"
Akhirnya Reno pulang setelah kecolongan Devan kabur dari pengawasannya. Tak lupa dia beri kabar pada sang kakak tentang kepergian Devan.
"Yes berhasil ..wuu" Devan yang kini tengah berada di hotel dekat bandara senang bukan main berhasil menyadap nomor ponsel Adam. Semua percakapan dalam pesan singkat antara Rangga dan Adam ia ketahui semua. Ia segera pergi tidur agar tak terlambat untuk penerbangan pertama besok.
Rangga tak nyaman diatas kasurnya, melihat Sania terlelap diseberang sana membuatnya gelisah tak menentu. Hasrat kelelakiannya muncul, namun sebisa mungkin dia menahan, hanya butuh beberapa jam lagi mereka akan sah dan dia bisa sesuka hati mendekati Sania.
Ditambah pesan singkat dari Reno yang baru saja ia terima. Membuatnya sedikit tak tenang. Bisa saja Devan datang dan menggagalkan mereka saat ijab kabul berlangsung.
Rangga menggeleng, menepiskan pikiran negatif itu. Terserah apa yang akan terjadi besok. Tekadnya sudah bulat, ia tak akan melepaskan Sania
Pagi hari menjelang sunrise menampakkan silauannya. Bu Sandra mulai sibuk dengan ponselnya.
Nampak beliau sedang mendengarkan telpon dari seseorang.
"penerbangan pertama tujuan Changi telah lepas landas bu" ucap orang dari seberang sana.
"Itu artinya Devan sudah berangkat. Tolong siapkan helikopter saja"
"Baik Bu "
Panggilan dimatikan, Bu Sandra segera menghabiskan sarapan paginya lalu bergegas pergi menuju rumah sakit.
Beruntung ada kendaraan cepat yang bisa ia gunakan saat ini . Bu Sandra meminjam helikopter rumah sakit kakaknya. Kalau pakai jet pribadi milik temannya Bu Sandra harus ke bandara terlebih dulu dan itu memakan waktu.
Sedangkan lebih dekat jarak dari rumahnya ke rumah sakit pak Wijaya .
Bu Sandra tiba di helipad yang berada di rooftop rumah sakit milik pak wijaya.
"Don, kamu sudah ada ijin terbang kan ? Saya nggak mau nambah masalah lagi cuma gara- gara ini"
"Aman Bu, sudah siap semua"
.........
__ADS_1
Satu jam berlalu, Rangga sudah rapi dengan setelan jas formal. Dipandanginya calon istri yang masih terlelap itu.
"Sungguh indah ciptaanmu tuhan" Rangga membungkukkan badannya, mensejajari dengan tinggi ranjang yang ditempati sania.
Ingin rasanya mencicipi bibir ranum itu.
Sania menggeliat mengerjapkan matanya lalu bangun dari tidur nyenyaknya.
"Aah... Mau apa mas?"
"Hhmm..bangun juga"
"Maaf aku kesiangan, mau kerumah sakit sekarang ya ?" Tanya Sania yang segera pergi mandi.
"Sarapan dulu sudah aku siapkan."
"Maaf ya mas, aku merepotkan. Harusnya aku yang bangun lebih dulu"
"Tidak masalah, kamu bisa memulainya besok" tersenyum samar.
"Maksudnya ?"
"Setelah sarapan akan ada yang datang meriasmu"
"Memang mau kemana mas ? Bukannya hanya kerumah sakit"
"Iya.. Kita menikah di rumah sakit"
"Mas ?" Ada rasa bahagia sekaligus khawatir.
Pria ini tidak ada membicarakan apapun mengenai pernikahan yang akan mereka lakukan hari ini. Yang ada di pikiran Sania apakah ayahnya sedang sekarat sampai dia harus menikah mendadak sebelum ajal sang ayah tiba.
"Kenapa sedih ?" Tanya rangga. Terlihat sekali kegusaran diwajah sania yang tadi nampak segar sehabis mandi.
"Ayah kenapa mas ?"
"Calon mertuaku baik- baik saja" Rangga mendekat, tangannya mengacak rambut Sania.
"Aku mencintaimu, Will you marry me ?"
Gadis itu tak mampu berkata-kata kini ia tau apa yang telah direncanakan kekasihnya.
Sania berhambur memeluk Rangga. Sontak lelaki itu terkesiap mendapat serangan mendadak. Biasanya dia sendiri segan untuk menyentuh Sania lebih, selain mengusap pada rambutnya.
"Terima kasih mas, terima kasih untuk semua ini"
"Hei jangan menangis !! Mata indahmu bisa sembab nanti"
"Oh iya" senyum tersungging di bibirnya, ia usap air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Memeluknya erat sekali lagi sebagai ungkapan rasa bahagia antara keduanya.
__ADS_1
lalu terdengar ketukan pintu dari luar sana, membuat mereka seketika melepaskan pelukan hangat yang baru saja Rangga rasakan.