Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Rencana Jahat


__ADS_3

Jam makan siang tiba, kebetulan yang tak disengaja. Sania bertemu dengan Devan yang juga akan makan siang di kantin kantor.


Meja mereka bersebrangan. Pandangan mereka pun bertemu, namun keduanya enggan untuk saling menyapa.


Dulu juga begitu, ketika status mereka masih berpacaran. Sekantor tapi jarang bertemu, bertemu tapi tak pernah sapa.


Ada yang beda kali ini, dalam hati Devan memohon, agar siang cepatlah enyah berganti malam . Ada yang Devan inginkan malam nanti dan dia tak sabar untuk itu. "biarlah Adam tak mau bantu lagi, aku bisa sendiri" batin Devan.


Pukul lima sore seharusnya Sania sudah bersiap untuk pulang. Tapi lagi lagi setumpuk dokumen masih melambai, berteriak minta diselesaikan.


Salsa menghampiri Sania " San.. udah yok pulang !"


"Aku dikit lagi, duluan aja deh !"


Salsa meletakkan tasnya, menggeser kursi lalu duduk dekat Sania "San, jangan kemaleman.. denger denger kalo ada perawan di sini sendirian sampai matahari tenggelam, bakal dikerjain hantu jail"


Perkataan salsa sontak membuat Sania terkejut. Dia teringat dengan ban motornya yang bocor di parkiran.


"Ahh ... Jangan nakut-nakutin dong" kesal Sania.


"Sumpah, makanya ayo!"


Mau ditinggalkan besok tambah numpuk, kalau dikerjakan mau pulang jam berapa nanti.


Terlintas peringatan Rangga pada dirinya tadi pagi, lantas Sania segera mematikan komputernya lalu bngun dari duduknya. Cepat menyambar tas, dan menggandeng salsa keluar dari ruangan.


Tanpa Sania sadari setangkai mawar putih jatuh dari dalam tasnya.


Tadi pagi sebelum Sania sampai dikantor, Rangga mengajaknya mampir sebentar ke toko, membelikan sebuah mainan untuk Sera sebagai buah tangan. Dibuat senyaman apapun ruang tunggu keluarga di rumah sakit yang ditempati ibu Sania dan keponakannya itu, tetap saja yang namanya rumah sakit pasti tidak senyaman rumah sendiri.


Makanya Rangga ingin memberikan sebuah mainan untuk Sera dan Sania yang memilihkan. Ketika Sania sedang asik memilih, Rangga diam- diam memasukkan setangkai bunga mawar plastik yang ia beli dipelataran toko.


"Eh tunggu, ada yang ketinggalan di meja.. my bag" salsa berlari masuk.


Salsa keluar membawa tasnya dan setangkai bunga ditangannya.


"Nih.. ada di kaki meja" ucap salsa seraya menyodorkan bunga itu.


"Punya siapa ? "Tanya Sania,dan Langsung ia masukkan begitu saja kedalam tas "Dea udah duluan ya sa ?" Tanya Sania pada salsa.


"Iya Dea pulang cepat, katanya mau antar sepupunya kebandara" jawab salsa.


"Rangga udah sampe belom ya" gumam Sania.


"Eh San..liat deh !" Teriak Salsa sambil menyodorkan ponsel miliknya.

__ADS_1


"Rangga ?" Tebak Sania


"Siapa Rangga ? Itu Dea sama pacarnya deh " kata Salsa, karena sebelumnya Dea mengatakan akan pergi bersama kekasihnya untuk mengantar Dina, sepupunya ke Singapura.


Apa janjimu palsu mas, baru juga tadi pagi.. nyatanya kamu pergi sama dia.


"Yakin itu pacarnya ?" Tanya Sania tak percaya, melihat sahabatnya foto dengan kekasih juga perempuan yang dicemburuinya kemarin.


Dalam foto itu nampak Rangga di tengah, diantara dua wanita.


"Nggak yakin sih... Nanti tanya aja ke Dea nya"


Sesampainya di rumah, Sania mandi dibawah guyuran air shower meredakan kepalanya juga hati yang panas. Pikiran positif tetap mendominasi isi kepalanya walau kadang hati merasa tak terima dengan apa yang dilihat oleh mata.


Ia ambil setangkai mawar putih plastik itu dari dalam tas kerjanya. "Apa ini dari dia ? Huh palsu.. ternyata sama seperti cintanya"


.........


Devan menghampiri Reno yang sedang mencuci mobilnya di halaman.


"Rangga kemana?" Tanyanya to the point.


"Pergi dari pagi, kakak lagi sibuk banget"


"Pergi kemana?" Selidik Devan Memastikan keberadaan Rangga.


"Berarti dia sekarang disingapura ya ?"


"Sepertinya" jawab Reno tanpa melihat ke arah Devan. Fokus memoles mobilnya dengan telaten agar kinclong untuk dipakai traveling besok, mencoba senapan yang baru ia beli kemarin.


"Siapa tadi yang ngajakin ngobrol ? Menghilang". Tanya Reno pada dirinya sendiri ketika melihat Devan sudah tak ada di sekitarnya.


Kembali ke teras Devan, rupanya dia dipanggil asisten rumah tangganya yang ingin berpamitan pulang kampung karena ada keperluan mendadak.


"Rumah kosong hmm..." gumam Devan, ia lalu bergegas mengambil kunci mobil, dan tas ransel lalu melajukan kendaraannya dengan tergesa-gesa.


Reno yang sedang menerima panggilan telepon dari Rangga dibuat terkejut dengan suara mobil Doni yang bising, rupanya mobil itu dipinjam oleh Devan sedari pagi karena mobil merah Devan masih dipakai oleh citra.


"Weeeeh... Mau kemana tuh orang, ngebut banget" ucap Reno lalu menghubungi kakaknya kembali karena sempat terputus.


Setelah menyogok kedua security di gerbang masuk, Devan sampai dirumah Sania.


"Ada apa kemari ? Kita nggak ada hubungan lagi Devan" ucap Sania ketika Devan mohon dibukakan pintu rumahnya.


"Kamu memutuskan secara sepihak San, aku nggak terima seperti ini"

__ADS_1


"Devandra Arya saloka.. aku minta maaf untuk semuanya. Aku mohon pergilah.." pinta Sania dari balik jendela.


"Sunshine, apa sopan memperlakukan tamu seperti ini ?" Tanya Devan memelas ia berharap segera dibukakan pintu.


"Devan, aku sedang tidak enak badan. Aku mau istirahat"


"San... Bukalah sebentar! Aku ingin tunjukkan sesuatu padamu"


Sania tidak penasaran akan ucapan Devan, ketakutannya lebih mendominasi kali ini.


"Devan tolong pulanglah!"


"SAN... kamu itu dibodohi Rangga , Dina dan Rangga saling mencintai kamu harus tau itu !!" Teriak Devan putus asa pintu rumah Sania tak kunjung dibuka untuknya.


"Mereka menginap di rumah sakit, mereka bercumbu di kamarku, seorang perawat memfoto adegan mesum itu lalu memberitahuku" lanjutnya.


Sania nampak diam mendengarkan ocehan Devan.


Ya Sania lihat foto itu, tapi hanya foto Rangga dan Dina yang sedang bersandar terlelap.


"Kamu tau kemana kekasihmu yang sok romantis itu ??" Tanya Devan mengintimidasi.


Sania masih terdiam mencoba mengumpulkan kepingan kejadian hari ini.


"Mereka berdua liburan ke Singapura untuk merayakan kebodohanmu"


Sania menatap lekat Devan dari balik jendela, kenapa Devan berbicara setega itu padanya.


"Bukalah dulu San, aku akan jelaskan semuanya sedetail detailnya. Percayalah !!.." mohon Devan dengan menangkupkan kedua tangannya.


Sania akhirnya luluh lalu membuka pintu rumahnya. Belum juga pintu terbuka lebar, Devan mendorong tubuh Sania masuk kembali kedalam rumah lalu mengunci pintunya lagi.


"APA APAAN KAMU DEV ?" Teriak Sania .


Devan memeluk Sania erat, lalu mengikat tangan Sania kebelakang punggung gadis itu.


"Dev lepasin dev !! TOLOOOOONG " Teriak Sania.


Devan langsung membungkam bibir Sania dengan bibirnya, mencecap mulut yang sedang terbuka karna berteriak itu.


Sania berontak menggelengkan kepalanya yang di pegang kedua sisinya oleh Devan.


Dia menutup rapat bibirnya, tak lagi berteriak karna pasti dibungkam dengan bibir Devan lagi.


"Ayo sayang... Belum pernah ada kenangan indah kita selama pacaran"

__ADS_1


"sakit Dev lepas..!" tubuh Sania di dorong membentur ke dinding.


__ADS_2