
"Ma... Jangan tinggalin Devan ma
Ma.... maa......mamaaaaaa"
"Dev... ini aku Dina" Gadis itu menggenggam tangan Devan. Lagi dan lagi, Dina merasa dirinya sudah tidak profesional dalam menjalankan perannya sebagai perawat Devan. Dia melibatkan perasaannya semakin dalam.
Melihat keadaan Devan yang terpuruk membuatnya iba, terlebih perhatian yang selama ini diberikan sebagai seorang perawat kepada pasiennya telah berubah menjadi perhatian rasa sayang untuk memilikinya.
"Apa dia mengigau lagi?" Tanya Rangga yang baru saja masuk.
"Iya.. yang disebut mamanya, bukan Sania" jawab Dina.
"Dasar anak mami" umpat Rangga.
Dari dulu Rangga tau betul kalau anak itu sakit pasti akan selalu mengigau memanggil mamanya. Lain hal jika terjadi sesuatu padanya dihari itu, pasti ketika tidur Devan akan mengigau menyebutkan nama teman bermainnya tadi.
Syukurlah dia tidak cinta. Dia hanya terobsesi memiliki Sania karna Sania bukan perempuan gampangan yang mudah dicumbunya. Rangga
Kenakalan Devan menjadi rahasia umum di komplek perumahannya. Sedari kecil memang playboy ulung, ada anak perempuan baru kenal asal mau dicium olehnya tentu akan diberinya banyak hadiah. Keesokan harinya pasti Bu Sandra mengumpulkan Rangga dan teman-temannya untuk menanyakan nama perempuan yang disebut Devan ketika tidur itu.
Mereka tumbuh bersama sedari kecil, memang dari dulu Devan terlampau iri pada Rangga sebab kakek selalu membanggakan Rangga. Disebutnya Rangga lah cucu yang paling patuh dan baik kelakuannya. Banyak perempuan yang jatuh hati pada Rangga dan Devan tak suka itu. Dia selalu membuktikan bahwa dirinya bisa seperti Rangga.
__ADS_1
"Apa tidak apa-apa jika seperti ini terus? Ini sudah ke delapan kalinya dia mengigau" Dina nampak cemas, terus menggenggam tangan Devan.
"Tante Sandra sebentar lagi datang kau jangan khawatir".
Rangga merebahkan diri di sofa, sudah hampir larut malam. Acara melamar dadakan sempat terganggu tadi, namun Sania sudah memutuskan untuk memilih dirinya dan tidak lagi ada jalinan hubungan dengan Devan.
Bahkan kedua keluarga sepakat untuk mempersiapkan pernikahan Sania dan Rangga setelah kepulangan pak Hendra nanti. Hanya satu bulan, itu artinya bulan depan mereka sah terikat dalam ikatan suci pernikahan.
Selepas pulang kerja lalu menjemput Sania, mengantar Sania dan ibunya pulang lalu sekarang harus mengurus Devan dengan segala dramanya hari ini membuat Rangga kelelahan. Ia rentangkan kedua tangannya disandaran sofa panjang itu, tak lama kantuk menyerang, matanya pun terpejam. Rangga sangatlah lelah, dia harus beristirahat malam ini karna besok pagi-pagi sekali harus menjemput calon istrinya untuk berangkat kerja.
Dina yang duduk disamping ranjang pasien pun mengalami hal sama dengan Rangga. Menunggu Bu Sandra yang tak kunjung datang membuatnya tertidur dalam posisi duduk disamping brankar Devan.
Tok tok...
Devan yang terjaga dari tidurnya seketika bangun mendengar ada yang masuk.
"Maaf tuan... Saya akan mengecek infus anda"
"Anak baru ya ?" Tanya Devan.
"Iya saya masih magang, menggantikan perawat jaga malam yang sedang absen"
__ADS_1
"Ooh" bisa nih dimanfaatin .gumam Devan
"Bisa tolong pindahkan wanita ini, kasian kakak saya ketiduran" kata Devan pada laki-laki itu.
"Pindahkan kemana tuan?"
"Sana" menunjuk sofa yang ditempati Rangga yang juga sedang tertidur dalam posisi duduk.
"Biarkan dia bersama suaminya" ucap Devan dengan senyum licik.
Andai yang datang perawat lama pasti tau siapa Rangga. Karna Rangga adalah security rumah sakit tersebut dan semua security disana masih single belum ada yang menikah.
Mendengar Devan menyebutkan kata suami, dia pun meletakkan tubuh Dina berdekatan dengan Rangga.
Selepas kepergian laki-laki itu Devan nampak mencari ponselnya. Dibawah bantal, di atas nakas, bahkan dia buka tas selempang milik Dina yang diletakkan di atas nakas sebelum Dina ketiduran tadi. Ponsel miliknya tak kunjung ia temukan.
Mungkin Devan lupa ponselnya sudah hancur sore tadi, dan dia belum sempat membeli yang baru.
"Pakai ponsel Dina saja lah" Devan ambil ponsel Dina lalu membuka icon camera.
Devan mengirim foto ke nomer Rangga yang memang dia hafal, ternyata dikontak Dina sudah ada nomor Rangga dengan gambar hati putih.
__ADS_1
"Wow.. " Devan menaikkan sebelah alisnya.
"ponsel ada rahasianya kok tidak pakai pengaman hahaha"