
Devan menghela nafas, "Mah.. mama kapan mau cerewet lagi. Kenapa mamah diam aja?".
Anak ini, jadi selama ini aku dikatai cerewet . awas ya .geram Bu Sandra, rasanya ingin sekali memukulnya, memeluknya mengucapkan kata selamat atas keberhasilannya. Tapi masih beliau tahan.
Devan berlutut di paving taman itu. Membungkukkan diri lebih merendah lagi. Dia cium kaki ibunya.
Mendongakkan kepala Devan berkata "Mah..kata dokter Richard mamah sudah boleh pulang. Sekarang Devan urus dulu administrasi kepulangan mamah ya". Diraihnya tangan kanan Bu Sandra, lalu dikecup lama. Bu Sandra menatap haru putranya.
Devan tersenyum, kemudian bangun berdiri, "Din... Titip mama ku dulu ya".
Gadis itu tersenyum "Pergilah !".
Tak berselang lama kepergian Devan yang sedang mengurus administrasi. Tiba-tiba mama Dina datang.
Jeng Sarah, untuk apa dia kemari. Apa dia mau membully ku lagi ?.
Sorot mata Bu Sandra menandakan ketidaksukaannya pada seorang wanita paruh baya yang saat ini tengah berjalan menghampiri dirinya dan Dina berada.
"Mama.."
"Sayang.. mama cari-cari kamu, ternyata ada disini". Lirikan sinis terlempar pada Bu Sandra yang sedang duduk di kursi rodanya.
Dina tersenyum, kedua tangannya memijat pelan pundak Bu sandra yang ada didepannya.
"Sayang, kamu jangan capek-capek ngurusin hal nggak penting deh. Besok malam kan launching produk skin care mu. Mama nggak mau owner nya malah kalah cantik sama model ambassador nya". Dari nada bicara kentara sekali bu ibu satu ini sedang memprovokasi putrinya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa mah. Dina suka ngelakuinnya. Dina masih pengen andil merawat Tante Sandra".
Bu Sarah memutar bola matanya jengah. Susah sekali membujuk putrinya ini.
"Mah.. aku kebelet nih. Tolong jagain tante sebentar ya !". Ucap Dina pada mamanya, lalu berjongkok didepan Bu Sandra. "Tante sama mama Dina dulu ya, Dina mau ke toilet sebentar". Pamitnya.
Walau wajah masam mamanya mengiringi langkah cepat Dina, gadis itu tetap menitipkan Bu Sandra pada mamanya.
Ia yakin, mama nya tidak akan menyakiti karena Bu Sandra dan Bu Sarah adalah teman, bahkan mereka berniat menjodohkan Dina dengan Devan. Hanya saja beberapa hari ini mama Dina itu selalu uring-uringan. Tidak terima anak gadisnya selalu saja di jadikan perawat gratis oleh sahabatnya itu.
Terlebih Bu Sandra tidak bisa apa-apa sekarang, bicara dengannya saja tidak bisa. Akan jadi apa masa depan putrinya kelak.
Belum menikah saja Dina sudah harus sibuk mengurus mertua yang menderita stroke dan hanya jadi patung di kursi roda.
"Lihat kondisi mu jeng ! Masa depan Dina masih panjang. Lagi pula tidak ada kepastian yang Devan berikan pada anakku".
Bu Sarah nampak menghela nafas.
"Cukup sudah suamiku saja yang mengabdi pada keluargamu. Hingga akhir hayat pun dia setia pada suamimu. Sekarang biarkanlah anakku bahagia dengan yang lain tanpa harus dibayang-bayangi keluarga kalian".
Menyesal yang Sarah rasakan saat Dina mulai mengagumi Devan, tapi pria itu tidak membalas perasaan putrinya.
Andai waktu itu ia tidak memaksakan mungkin putra sahabatnya yang lain akan datang meminang.
Berdiri bersedekap dada di depan kursi roda Bu Sandra, mama Dina itu dengan lugas mengutarakan unek-unek nya.
__ADS_1
"Jujur jeng, aku menyesal pernah menolak lamaran jeng Anis pada Dina untuk putranya. Sekarang sudah Mapan, kaya, terlebih setelah restorannya viral waktu itu.
Sekarang usahanya ada dimana-mana. Punya jet pribadi dan yang jelas bisa membahagiakan anakku. Tidak seperti Devan, yang hanya karena cinta masa lalu perusahaan kalian hampir saja terbengkalai". Bu Sarah membuang muka ke arah lain.
Pandangan Bu Sandra lurus kedepan, namun telinganya senantiasa mendengar dentuman ocehan dari sahabat sosialitanya ini.
Jadi hanya itu yang kau incar. Aku kira niatmu baik mempersatukan anak kita karena dedikasi suami mu pada keluargaku.
Kenyataannya tidak lebih hanya seorang janda matre yang memperalat putrinya untuk menggaet pria yang tajir. Batin Bu Sandra melirik sebal sahabatnya.
Benar ya kata orang, yang harus kau anggap teman adalah dia yang ada saat kau terpuruk, bukan mereka yang datang saat kau berjaya.
Nggak sia-sia aku masih pura-pura sakit. Ternyata lingkaran pertemanan ku yang jelek terbongkar saat seperti ini. Maafin mama Van.
.
.
.
next ya 🤗
Terimakasih yang masih setia baca karyaku sampai episode ini.
😘
__ADS_1