
Tak lama Dina pun keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap dan segar nampaknya Dina sudah mandi . Devan segera beranjak menghampirinya memegang tangan Dina meminta maaf atas kelakuannya.
"Lupakan kejadian tadi, aku mau tidur"
Ucap Dina lalu naik lagi ke tempat tidur mereka.
"Baby please.... Tolong maafkan khilafku"
"Iya , salah aku juga. Memang tidak sepantasnya kita sekamar, tidak baik ".
"Jangan begitu, aku minta maaf "
Tak munafik , Dina pun tadi sungguh menikmati gejolak rasa yang ada. Namun kecewa saja, kenapa harus Sania yang dia ucapkan. Tapi beruntungnya ia, dengan begitu mahkotanya tetap utuh terjaga sebab sunshine telah membuyarkan hasrat keduanya.
Melihat Dina sudah berbaring tertutup selimut, hasrat Devan malah naik lagi.
"Aaarrggh.. sial. Harus dituntaskan ini" gumam Devan dalam hati. Lalu larilah dia secepatnya ke kamar mandi sebelum rasa ingin mencumbu Dina kembali datang.
.........
Di pagi hari ini, Sania sesuai janjinya sudah bangun terlebih dulu dari sang suami. Sebagai istri ,Ia dengan semangat dan senang hati mempersiapkan makanan yang telah ia pesan melalui pelayan. Menyiapkan baju ganti untuk suaminya, dia sendiri pun sudah selesai mandi dan berdandan rapi.
Tirai dibuka perlahan, cahaya matahari memang belum nampak, namun suasana hingar bingar kota di pagi hari sudah tampak ramai sekali Sania melihat dari jendela kamar hotelnya.
Rangga menggeliat ,mengerjapkan matanya. "Sayang" panggilnya.
"Iya" Sania menoleh.
Lambaian tangan Rangga menginstruksi Sania untuk mendekat disertai senyuman penuh arti.
Tak menolak Sania pun mendekat. "Cum !" Kata Rangga memajukan bibirnya . Sania pun mencium pipi sang suami.
Rangga menggeleng "bukaaan" menunjuk bibirnya sendiri. Sania tersipu lalu mencium bibir sang suami. Tertahan lama, tubuh Sania pun didekap Rangga.
Sania masih canggung, malu malu ia membalas pelukan sang suami.
"Hhmm wangi.. mau kemana, pagi pagi sudah cantik ?" Tanya Rangga masih memeluk Sania.
"Katanya mau pindah hotel hari ini ?" Sania balik bertanya.
"Oh iya , sekalian jalan jalan ?"
"Terserah, aku nurut saja"
Dicubitnya hidung sang istri. "Ahh jail deh" gerutu Sania, ia lalu beranjak akan pergi.
"Hei mau kemana ?"tangan Sania ditarik lagi "Aku lupa semalam harusnya jadi malam pertama kita" kini Rangga memeluk Sania dari belakang.
Rambut Sania yang terikat tinggi menampakkan leher mulusnya, Rangga lalu menciumi leher Sania meniup niup disana.
"Geli mas"
__ADS_1
Pelukan diperut Sania pun dipererat. "I love you"
"I love you too mas" Sania membalas dengan mencium pipi Rangga.
"Ayo sarapan dulu !"
"Terima kasih istriku" selesai sarapan dan mandi, rencananya hari ini mereka akan pindah hotel , agar lebih dekat juga dengan rumah sakit tempat ayah Sania dirawat.
Ditengah sarapan yang sedang berlangsung ponsel Rangga berdering. Sania cepat cepat mengambilnya dari atas nakas samping tempat tidur lalu menyerahkan pada Rangga .
"Terima kasih sayang" di balas anggukan oleh Sania lalu melanjutkan makan lagi.
"Iya hallo ayah ?"
...
"Kapan yah ?"
...
"Baiklah yah tunggu kami disana"
Panggilan diakhiri.
"Ada kabar apa mas ?" Tanya Sania penasaran.
"Ayah memintaku untuk menemuinya, ada yang mau dibicarakan penting katanya"
"Kita tunda saja rencana kita hari ini, temui ayah dulu, aku juga mau ketemu Sera disana. Aku kangen anak itu"
Selesai sarapan, mereka naik taxi untuk kerumah sakit terlebih dulu.
"mas setelah ini bolehkah kita kesana ?" tunjuk Sania suatu tempat bermain.
"tentu sayang, pilihlah kemana pun kau suka. tapi nanti malam temani aku ya " Rangga mengedipkan sebelah matanya.
Sania menelan salivanya, kata- kata absurd yang memiliki makna terselubung.
Sesampainya di rumah sakit Rangga berjalan sedikit cepat, nampaknya ia sangat ditunggu kehadirannya, mungkin ada meeting pagi gumamnya.
"Mas duluan saja" Sania merasa tak mampu mengimbangi langkah suaminya, ia pun meminta Rangga meninggalkannya.
"Maaf ya sayang, seperti urgent" cup.
Satu kecupan ia terima didahinya lalu ditinggal oleh sang suami.
"Ada apa ya, biar lah yang penting bukan perihal ayah" gumam Sania lalu melangkah menuju koridor lain.
Itu kan Devan, ya tuhan apa dunia begitu sempit. Kenapa harus ketemu lagi, kenapa dia belum pulang ke indonesia. Pura- pura nggak lihat deh.
Sania berjalan santai seolah tidak mengenal Devan dan Dina .
__ADS_1
Sejak semalam hingga bangun pagi tadi, Dina terus terusan bersin tak henti. Devan yang khawatir dengan kondisi Dina lalu membawanya memeriksakan diri, sebab memang tengah malam tadi Dina mandi, mungkin itu penyebab gadis ini flu sekarang. Dina minta diantar kerumah sakit tempat ia bekerja saja, Devan pun menurutinya. Tak disangka mereka bertemu Sania .
"Kenapa harus kebetulan begini ?" Batin Dina . Ia lalu memperhatikan tangan kiri Devan yang sedari keluar ruang pemeriksaan selalu merangkulnya. Ia ingin tau apa reaksi Devan bertemu mantan yang sudah menjadi istri orang itu.
"Kita cari makan dulu, setelah itu minum obat" ucap Devan . Agaknya Devan tidak sadar ketika mereka berpapasan dengan Sania .
Beberapa langkah kemudian Sania menoleh pada pasangan yang telah melewatinya itu.
Syukurlah, semoga mereka berjodoh.
"Van...kita langsung pulang saja ke Indonesia"
Devan diam. Malah menoleh kebelakang mencari Sania. Kenapa dia sendiri ? Dimana si brengsek.
"Van.. kau dengar aku ?"
"Iya..kita pulang kehotel saja"
Plaak.. "pulang ke indo bukan ke hotel "
"Baby.. jangan pukul kepalaku, bisa gagar otak nanti"
"Issh... Tengok terus, samperin sana jangan panggil aku baby! "
Dina melepas rangkulan Devan ,lalu pergi meninggalkan lelaki itu.
My sunshine lirihnya. "Baby tunggu" Devan lalu mengejar Dina yang sudah menyetop taxi di Jalanan sana.
.........
"Apa ada yang keberatan dengan nama- nama yang telah disebutkan tadi ? Ini demi prestasi dan reputasi rumah sakit kita. Berbanggalah bagi seluruh dokter terbaik yang dikirim untuk penelitian skala internasional ini ".
"Maaf prof.. apakah boleh saya membawa serta istri saya, maaf sebelumnya"
"Kami tau dokter muda, anda baru saja melangsungkan pernikahan bahkan baru berumur 24jam . Tapi aturan yang berlaku disana harus kita patuhi. Tidak boleh membawa sanak saudara bahkan pasangan, demi kelancaran dan fokus pada penelitian" ujar salah satu profesor beruban, dokter senior di rumah sakit milik ayah Rangga itu.
Astaga, aku bahkan belum malam pertama dengan istriku.
"Baiklah terima kasih prof"
Harus bagaimana aku menjelaskan pada Sania, belum lagi kalau Devan mengejarnya.
Belum genap sehari menikah, Rangga sudah akan meninggalkan Sania demi tugas. Dia menjadi salah satu yang terpilih untuk dikirim menjadi peserta penelitian di jerman. Selain mewakili nama rumah sakit yang ia bawa, pak Wijaya pun mendukung sepenuhnya impiannya terdahulu melalui sang anak.
Bagaimana pun caranya putranya itu harus ikut serta, tapi secara kebetulan memang dari pihak kampus pun memilih Rangga melalui sponsor salah satu rumah sakit di Indonesia.
.
.
.
__ADS_1
.
terima kasih buat yg uda sempetin waktu baca karya aku 😘