
Gelisah, mendadak takut dan cemas. Itulah yang Sania rasakan saat ini.
Biasanya dia leluasa di kamar ini seorang diri, tapi sekarang ingin memejamkan mata saja rasanya takut.
Dia sudah berbaring di ranjang empuk itu, namun bahasa tubuhnya mengatakan ranjang itu sudah tidak nyaman. Miring ke kanan atau kekiri rasanya jadi serba salah.
Tidur tengkurap, masa iya begitu. Pasti tidak akan nyenyak.
Terlentang, ya apa boleh buat. Ia menarik selimut tebal itu sampai menutupi seluruh tubuhnya dari kaki hingga ujung rambut di kepala pun tak nampak.
Sedikit susah karena yang ia gunakan tangan kiri. Tangan kanannya masih sakit.
Kok lama banget sih mas Rangga, dia ngapain ya ?
Aku takut dia minta hak nya malam ini.
Pendingin ruangan nyala tapi gerah yang Sania rasa.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terdengar di buka oleh suaminya. Makin gugup saja ia.
Tak terdengar suara langkah keluar dari sana, hening. Tak ada suara apapun.
Kemana dia ya, biarin ah yang penting bajunya udah aku siapin.
Sania menutup mata, berusaha pura-pura tidur. Padahal memang ngantuk betulan, tapi takut untuk tidur duluan.
Ini malam pertama ia tidur lagi bersama suaminya. Tangannya masi nyeri kalau terlalu banyak bergerak. Tapi apa suaminya masih akan menunggu sampai tangan Sania sembuh ?.
Aaaaa...
Teriak Sania.
Tangan dingin Rangga menggerayangi kaki Sania dibawah sana.
Lebarnya netra Sania menjadi bukti betapa kagetnya sentuhan tangan Rangga yang dingin menebas rasa nervousnya sedari tadi.
Kepekaan Rangga tau saja istri cantiknya ini grogi sekamar lagi dengan dirinya, "Sayang" panggilnya.
"Mmm.." Sania menyahut walau dibalik selimut itu bibirnya manyun.
__ADS_1
"Buka sayang !".
Hhh... Sania melotot.
Apa katanya tadi ? Tuh kan... Nanti kalau tangan aku ketindih gimana.
Dia udah nggak sabar banget deh.
Bukannya menjawab perintah suaminya, Sania malah perang dengan pikirannya sendiri.
Sambil memakai seluruh pakaian ganti yang sudah disiapkan istrinya di ujung ranjang, Rangga memandangi istrinya yang tidak nampak sama sekali, hanya terlihat seperti gundukan selimut menutupi bantal guling, tapi ini lebih panjang dari guling.
Sania bergelung di dalam selimut itu, gemas Rangga menatapnya.
Melihat tidak ada pergerakan dari dalam selimut itu, ia coba meraba mencari kaki Sania. Gadis itu malah berteriak, membuatnya malah tertawa geli.
Rangga sudah selesai berganti pakaian. Memakai semua pakaian untuk tidur, dirinya memang mandi lagi sebab kegiatan sore tadi membuatnya sedikit berkeringat.
Sania masih enggan membuka selimutnya barang sedikit.
Ingin rasanya Rangga menarik selimut itu, pasti ada wajah imut yang sedang cemas di dalam sana, Rangga terkikik geli membayangkan.
Dari pada membuat istrinya tidak nyaman dengan kehadirannya yang mendadak, sepertinya lebih baik Rangga memilih untuk tidur di sofa dekat jendela. Perlahan Rangga berjalan menjauh dari kasur tempat Sania tidur.
Ia turunkan sedikit selimut itu sampai batas hidungnya, netranya mencari keberadaan sang suami.
Sosok gagah nan tampan itu saat ini tengah berbaring di sofa sendirian.
Aaah... Mas Rangga marah.
"Mas" panggilnya pada Rangga.
Yang dipanggil seketika bangkit untuk duduk. "Apa sayang ?".
"Kok tidur disitu?". Pertanyaan yang sebenarnya ragu ia ucapkan. Takut rangga tersinggung dengan sikap Sania yang bersembunyi dengan selimutnya.
"Nggak apa-apa, aku disini aja" tersenyum, meyakinkan dia tidak masalah tidak bisa tidur bersama. "Tidurlah yang nyenyak, nggak usah gelisah !".
Tak enak hati, susah payah Sania singkirkan benda tebal yang menimpa dirinya. Kemudian mendekati sang suami yang mengkerutkan kening menatapnya.
Rangga merentangkan kedua tangannya, menyambut kedatangan Sania menghampiri dirinya.
__ADS_1
Sania didudukkan dipangkuan Rangga. Seketika saja bulu kuduk mereka meremang. ini yang Rangga hindari, berdekatan dengan Sania akan memicu hasratnya untuk menjamah sang istri.
Tangan Sania juga masih sakit, dia tidak ingin memaksakan kehendaknya untuk meniduri sang istri.
Bisa saja saat dia memeluknya, malah akan menyakiti Sania.
Tapi apa ini ? tadi dia membiarkan Sania agar tidur nyenyak di ranjangnya, nyatanya gadis ini malah gelisah. Dan sekarang malah memancing gairah Rangga dengan duduk dipangkuannya.
"Jangan menggoda sayang".
Sania tersenyum kikuk.
"Mas nggak mau tidur bareng?".
Hhpp.. Salah tingkah Sania. pertanyaan agresif yang terlontar begitu saja sampai Rangga menaikkan sebelah alisnya kemudian tersenyum penuh makna. Dia sendiri kaget merasa kata-katanya salah.
"Mau ? Apa boleh sekarang ?". bisik Rangga.
Sungguh.. ini sulit di ungkapkan. detak jantung berpacu dengan cepat. Gugup melanda Sania.
Tapi apa boleh buat, menolak pun tak boleh jika suaminya memaksa sekarang.
cup..
Kecupan Rangga membuat Sania mengangguk pasrah.
Rangga tersenyum, sudah tidak tahan. Tangan kanannya mulai bergerilya masuk ke dalam piyama tidur milik Sania.
Mencari sesuatu yang enak untuk dimainkan disana.
Tangan kiri Rangga memeluk tubuh istrinya. Posisi ini membuat wajah Rangga tepat pada dua buah kembar milik Sania.
Ssshh... aah.. maas...
Sania Merasakan geli saat tangan Rangga dengan lembutnya menyentuh ujung yang mencuat bulat itu.
Rangga mendongak. "Apa tangannya masih sakit ?".
Sania mengangguk, Rangga kecup tangan berbalut perban.
"Kita minta obat ke Richard besok, maafkan aku lalai menjagamu".
__ADS_1
Eeehh.. kenapa dia melow. Haduh salah aku, harusnya bilang nggak sakit.