
Pagi ini Sania bersiap akan kerumah sakit. Devan memberinya kabar bahwa dia sudah diperbolehkan untuk pulang.
Sania memesan taxi online, karna kalau dia kerumah sakit naik motor maticnya akan repot nanti mengantar Devan pulang.
"Devan pasti senang aku bisa mengantarnya pulang, masalah ketemu mamanya terus marah lagi ya urusan nanti deh. Mungkin dengan sedikit aku peduli pada Devan, mamanya bisa berubah sikap padaku" gumam Sania dalam hati, saat ini dia sudah berada dalam mobil yang membawanya melaju ke rumah sakit.
Setelah beberapa hari di rawat secara intensif di rumah sakit akhirnya hari ini Devan diperbolehkan pulang.
Bu Sandra meminta Rangga dan Reno untuk menemani beliau menjemput Devan. Sebab akan sangat kesulitan bila hanya supirnya seorang yang mengangkat tubuh Devan dari kursi roda untuk berpindah ke dalam mobil.
Bagaimana pun kondisi Devan belum bisa berjalan dengan lancar bahkan berdiri pun masih tertatih dan dia Masi harus melakukan terapi untuk beberapa kali kedepan.
Tentunya Bu Sandra sudah menyiapkan juga perawat yang akan senantiasa menjaga dan merawat Devan selama masa pemulihannya nanti. Mungkin bukan hanya sekedar perawat, tapi ada sesuatu yang telah mama Devan rencanakan ketika di resto waktu itu.
Rangga dan Reno berada dalam mobil yang berbeda dengan Bu Sandra . Namun mereka berangkat bersamaan karna memang rumah mereka bersebelahan.
.........
Ruang rawat devan.
"Sayang makasih ya sudah merawatku, nemenin aku, kasih amunisi terbaik, mood booster ku, obat mujarab love you pokoknya" Devan mencium pipi citra lagi dan lagi.
__ADS_1
Citra bergelayut begitu manja , kedua tangannya melingkar pada leher Devan.
Posisi kaki kiri Devan turun menggantung dari brankar sedang kaki kanan lurus diatasnya. Mata mereka beradu pandang saling menginginkan, Devan lalu mencium bibir citra.a
Biasanya kalau kaki devan tak sakit seperti sekarang, mungkin citra sudah duduk di pangkuannya sambil menggesekkan sesuatu milik Devan itu. Tapi saat ini hanya tautan bibir saja yang bisa mereka lakukan.
Citra melepas pagutan bibir Devan yang membara itu.
"Mmmmppt... Hahaha, sudah donk sayang kamu harus siap-siap sebentar lagi mamamu akan datang"
"Hhmm kurang" kata Devan merajuk, seakan tak rela ciumannya disudahi sepihak.
"Tapi besok beli tas itu ya, ada keluaran terbaru dan itu limited edition lho yang" kata citra manja.
"Apa uang yang kemarin kurang ?" Tanya Devan.
"Jangan perhitungan dong sayang.. aku aja servisnya totalitas lho !" Rajuk citra dengan gaya dibuat-buat.
"Iya iya.. sini cum dulu !" Tangan kiri Devan sudah menahan tengkuk leher citra mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu lagi.
.........
__ADS_1
Rombongan mama Devan sudah tiba di rumah sakit.
" Reno Tante ketoilet dulu, kamu sama kakakmu duluan saja tolong sekalian kemasi semua barang- barang Devan !" perintah mama Devan pada Reno dan Rangga.
Klik
Pintu terbuka, namun sepertinya dua sejoli itu tak menghiraukan suara lain selain deru nafas dan cecapan bibir mereka.
Ya Tuhan.. aku melihatnya lagi
Tenyata hubungan mereka sudah sejauh itu.
Tak tertahan, air mata itu akhirnya lolos jatuh ke pipi.
"DEVAN " teriak sania.
Devan dan citra kaget bukan kepalang, seperti orang mesum yang tertangkap basah oleh warga lalu akan dihakimi.
"Sania " lirih Devan melihat Sania sudah berderai air mata.
"aku bisa jelasin san"
__ADS_1
"CUKUP ! cukup jelas Dev ,terima kasih" Sania lalu berbalik badan keluar lagi dari ruangan itu dan langsung menabrak Rangga yang baru saja tiba.