Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
19. Belum selesai


__ADS_3

"Ada laki- laki baik yang menolongku....."


"Siapa namanya ?" Potong Devan sangat tidak sabar.


iih..apa si ini orang .wajah Sania berubah masam.


"Rangga"


"Siapa nama lengkapnya ?" Raut wajah tegang Devan tak bisa ditutupi, Sania menyadari itu.


"Aku nggak tau, aku juga belum lama kenal" jawab Sania acuh.


"Gimana kamu bisa kenal dia ? Kenal dimana?" tanyanya tak sabar.


"Cukup ya Dev.. kamu introgasi aku seolah aku melakukan kesalahan fatal--.."


"Iya fatal.. sangat fatal karna akan mempengaruhi hubungan kita" sela Devan, mengintimidasi lawan bicaranya.


"Trus apa yang kamu lakuin nggak fatal Dev ? Apa kamu kira aku nggak tau semua kelakuan kamu, apa yang kamu obrolin sama temen temen kamu itu ?" Lantang Sania tak mau kalah, walau masih mengontrol volume suaranya agar orang tuanya tidak dengar.


Devan diam sepertinya Sania mulai membuka suara. Pak komandan sudah menceritakan semua pada Devan sesuai apa yang dia lihat pada cctv, namun Devan tak yakin Sania mendengarnya. Maka dari itu Devan ingin tau langsung dari Sania.


"Kamu tega Devan status kita masih pacaran tapi kamu bermesraan sama perempuan lain di tempat umum pula"

__ADS_1


"Maaf sayang.. itu cara aku jaga kamu" kilah Devan.


(Haaah jaga) lirik Sania jengah, bisanya Devan beralasan jaga dirinya.


Jaga macam apa yang Devan maksud. Sania sakit saja tak dijenguk apalagi menungguinya, dia bilang apa tadi, Jaga ?


"Sudahlah Devan, mungkin cukup sampai di sini hubungan kita"


"Kenapa secepat ini ambil keputusan ? Aku udah jauh nyusulin kamu sampe sini. Tapi kamu segampang itu bilang udahan ?" Marah Devan, apa yang dia takutkan akan terjadi.


Sania akan berpaling darinya karna sudah mengenal Rangga, yang jauh lebih baik darinya.


"Apa kamu jatuh hati sama lelaki itu?"


"Aku kan sudah bilang, kami baru kenal tidak ada hubungan apapun dan dia cuma menolong, harus sedetail apa aku jelasin ?" Jawab Sania , sikapnya mulai datar malas untuk berdebat lebih panjang.


Sania berdiri hendak melangkah pergi masuk kedalam rumah, tapi tangannya dicekal oleh Devan. "Lepaslah ! Aku ambilkan minum dulu untukmu"


Mendengar kata minum, Devan bernapas lega.


Tangan Devan dengan sigap mencegah Sania karna dia pikir Sania akan mengacuhkannya dan mengusirnya atau mungkin mau ambil air karna jengkel lalu menyiramnya dengan air seember.


Haah berpikiran negatif si Devan, Sania bahkan tak Setega itu untuk melakukannya.

__ADS_1


.........


Sore itu setelah berunding singkat dengan Sania, Devan akhirnya memutuskan untuk pulang.


Hanya enam jam kalau lewat tol tak lama menurutnya, tapi nyatanya kondisi fisik tak bisa dipaksakan walau diawal perjalanan terasa baik- baik saja nyatanya Devan kelelahan dan ngantuk mulai menyerangnya.


sudah mampir rest area untuk makan dan istirahat sejenak, setelah dia rasa cukup Devan melanjutkan perjalanan lagi.


Devan memang terbiasa mengemudikan mobil sendiri tanpa supir tapi perjalanan hari ini begitu melelahkan.


Apalagi memikirkan status dia yang masih digantung oleh Sania.


sudahlah Dev. kalau memang kamu nggak mau kita putus sekarang lain kali kita bahas lagi disana.


Jangan disini ! jangan sekarang ! Nggak enak didengar orang tuaku.


Ayahku sedang sakit. Aku juga masih nggak enak badan.


Tolong mengertilah dulu.


sementara itu handphone Devan terus berdering dengan banyak panggilan tak terjawab dari citra.


Makanya Devan memutuskan pulang saja, dan mengiyakan Sania untuk membahas keputusan hubungan mereka selanjutnya bagaimana nanti, Dirumah sania bukan di rumah orang tuanya.

__ADS_1


Tiiin...... Brrrrrruuuuaaaakk


__ADS_2