Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Perhatian ?


__ADS_3

Kurang lebih sudah satu jam mereka dari mansion melewati hektaran perkebunan milik keluarga Leon.


Perusahaan D.L group milik orang tua Leon bergerak di bidang produksi alat kesehatan dan farmasi terkemuka, tapi keluarganya juga memiliki hektaran ladang pertanian dan perkebunan di beberapa daerah negara ini


Bisa dibayangkan betapa suksesnya keluarga Leon setelah berpindah ke Jerman dilihat dari semua titik pencapaiannya. Tapi untuk apalagi dendam dan mengungkit masa lalu akan kakek Rangga yang pernah menipu orang tuanya. Untuk apa ? Bahkan mereka disini lebih sukses dari keluarga pak Wijaya di negara asalnya.


Mungkinkah ucapan Steve benar, Leon hanya akan memanfaatkan kedekatan mereka juga Leona yang katanya suka pada Rangga sedari dulu, menghancurkan keharmonisan keluarga pak Wijaya melalui Rangga.


Atau mungkin dengan bersatunya Leona dan Rangga akan membuat mereka terima, disaat Leon mencapai puncak suksesnya kedua orang tua mereka telah tiada dengan masih menyimpan dendam pada keluarga pak Wijaya.


Hamparan tumbuhan hijau, seperti perkebunan apel, anggur, berry, telah Rangga lalui. Menikmati pemandangan indah dan tanpa kejaran orang suruhan Leon entah apa yang terjadi di mansion saat ini, yang pasti sejauh ini perjalanan kabur Rangga dan Clara aman lancar tanpa hambatan.


Namun hati Rangga rupanya tidak tenang, sejauh perjalanan yang mereka lalui dia belum menemukan satu pun klinik untuk singgah sekedar memberikan pertolongan terhadap Clara yang masih meringkuk pingsan di bangku belakang.


Dia sendiri belum melihat lagi bengkaknya kaki Clara seperti yang di ucap oleh pria botak tadi. Dia yakin ular sawah atau ular kebun yang mematuk gadis itu tidak memiliki bisa beracun yang melumpuhkan korbannya secepat itu.


Langit mulai orange, senja berganti petang. Jalanan yang mereka lewati sudah nampak gelap. Bingung, kalut sudah pasti membingkai perasaan Rangga saat ini. Masih sekitar satu kilometer lagi untuk sampai jalan raya perkotaan tepatnya di pinggiran kota Frankfurt am Main.


Tujuan mereka yang pertama adalah Stasiun Sentral Frankfurt yang merupakan salah satu terminal stasiun terbesar di Eropa, untuk kemudian mengantar mereka ke bandara Frankfurt yakni salah satu bandara internasional tersibuk di dunia.


Frankfurt sendiri merupakan kota terbesar di negara bagian Hessen di Jerman.


Pada tahun 2011 firma konsultan menempatkan Frankfurt sebagai kota dengan Kualitas Hidup terbaik ketujuh di dunia.


Menurut majalah The Economist, biaya hidup di Frankfurt adalah yang termahal di Jerman, dan biaya hidup kota ini berada di urutan ke-10 termahal dunia. Jadi sudah jelas seberapa hebat Leon memegang kuasa dalam dunia bisnis di negara ini atas semua pencapaiannya. Rangga mengakui itu.


Tali kendali kuda di tarik perlahan, tanda ia memerintah hewan berkaki empat itu berhenti.


Rangga mengedarkan pandangannya pada sekeliling jalan, tempat tinggal Leon memang di pinggiran kota sebab letak mansionnya di tengah perkebunan yang luasnya hektaran. Entah bersembunyi atau apa, tapi yang pasti mereka tinggal di kota yang terkenal sebagai pusat keuangan dan transportasi serta pusat finansial terbesar di benua Eropa.

__ADS_1


Kota ini menjadi tempat dari kantor pusat Bank Sentral Eropa, 


Bank Federal Jerman, Bursa Efek Frankfurt dan Pameran Perdagangan Frankfurt, serta beberapa bank besar lain seperti Deutsche Bank, Commerzbank dan DZ Bank. dan Frankfurter Kreuz juga merupakan salah satu persimpangan Autobahn tersibuk di Eropa. Indonesia juga memiliki konsulat jenderal di kota ini.


Rangga menghela napas, dia lapar. Jalan kudanya juga sudah melemah tanda meminta istirahat, sedang Clara masih tertidur dibelakang. Ia usap wajah lelahnya, masih berharap gadis yang ia bawa bersamanya tidak mengalami hal buruk. Sebab malah akan membuatnya sulit untuk pulang ke Indonesia jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Clara.


Rangga menoleh, sebelum akhirnya dia berpindah kebagian belakang untuk memastikan keadaan Clara baik-baik saja.


Ia coba bangunkan gadis itu terlebih dahulu.


"Maaf ya". Rangga sentuh kening Clara.


Suhu tubuh gadis itu normal menurut punggung tangannya, sebagai seorang calon dokter, instingnya benar.


Jika memang si melata tadi mentransfer bisa pada gadis itu, sudah dipastikan saat ini racunnya sudah menyebar keseluruh tubuhnya mengingat sudah lebih dari tiga puluh menit si melata tadi menggelayuti kaki Clara dan minimal gejala yang timbul adalah demam di awal.


Clara tak sadarkan diri, ya.. karena terkejut, melihat si ular melotot padanya tanpa berkedip. Buktinya saat ini sentuhan tangan Rangga pada keningnya mampu membangunkan dirinya, dari lelapnya tidur disaat matahari sibuk berganti tugas pada sang bulan untuk menyinari bumi ini.


Rangga mundur, duduk bergeser memberikan ruang pada gadis itu untuk bangun dari rebahannya.


Sedikit terkejut saat clara membuka mata indahnya mendapati wajah tampan seorang pria tepat didekatnya.


"Astaga .... dimana aku ?" ucapnya kaget.


Rangga mengernyit, jangan sampai gadis ini akan menuduhkan macam-macam pada dirinya. Sementara sedari tadi saja dia takut-takut untuk menyentuh bagian tubuhnya gadis itu.


"Apa kepalamu terbentur saat tidur diatas delman ini ? kenapa kau jadi amnesia ?". tanya Rangga .


"ma-maaf dok, kepala saya pusing".

__ADS_1


Rangga membuka tas ranselnya, mengeluarkan beberapa makanan yang diberikan oleh Steve padanya, saat persiapan melarikan diri tadi. "Baiklah, sekarang bangun ! makanlah ini !". Serahkan Rangga beberapa roti isi pada tangan Clara.


Gadis itu menerima dengan senyuman "terimakasih dok.... aaaaw".


"Kenapa ?"


tanya Rangga panik, melihat mimik wajah Clara yang meringis seakan menahan sakit.


"kaki sakit" Clara memegang kakinya yang diikat Rangga.


Sontak Rangga memeriksa, mengangkat kaki Clara pada pangkuannya lalu menyentuh bagian yang terikat itu.


Deg .. Jantung Clara berdebar dibuatnya.


Perlakuan sigap Rangga dan perhatiannya membuat gadis itu nyaman berada didekatnya.


Sebagai seorang dokter jelas Rangga harus cekatan terhadap setiap keluhan pasiennya.


Namun lain hal yang dirasakan oleh Clara.


Gadis itu merasa nyaman mendapat sentuhan dan perhatian dari dokter tampan, putra pemilik rumah sakit tempatnya magang saat ini.


Sejauh ini, Rangga bersikap baik padanya walau mereka hanya orang asing yang baru berkenalan dalam keadaan mendesak.


Rangga tercengang melihat tali yang ia ikat di kaki mulus gadis itu, tidak ada perasaan lain selain ingin memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi pada kaki Clara.


"Ya Tuhan kenapa begini?" gumamnya. Sebagai seorang yang belajar dalam bidang kesehatan memberikan pertolongan pertama merupakan hal dasar yang ia pelajari.


Tapi melihat kuatnya tali yang ia ikat pada kaki Clara , menunjukkan betapa tidak konsentrasi dirinya saat mengikat tali itu.

__ADS_1


Begitu kencang hingga membuat darahnya seakan mengumpul dan membuat bengkak.


Warna keunguan dan bengkak yang disebut si botak tadi tak lain adalah karena ikatan kuat yang Rangga lakukan itu.


__ADS_2