Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Di Kantin


__ADS_3

Jam makan siang tiba, Devan keluar dari ruangannya diikuti Doni yang mengekor dibelakang.


Nampak Mia berjalan cepat sampai mengacuhkan Devan yang baru keluar dari ruangannya.


"Kenapa Mia terburu-buru begitu". Gumam Devan.


Doni menggedikkan bahu "entahlah" ucapnya.


Mereka berjalan menuju lift yang kemudian membawa mereka ke arah kantin.


Sesampainya di kantin, Devan mengedarkan pandangannya.


Suasana riuh ramai memenuhi kantin siang ini. Tapi dia mencari sesosok gadis yang sering duduk di meja ujung sana bersama teman temannya.


Penuh, tak ada bangku kosong. Semua orang yang sering ia lihat berada pada kursi kesukaan mereka masing masing.


Namun sejauh ini seseorang yang ia cari tak terlihat batang hidungnya "kemana dia ? Apa masih cuti" gumam Devan yang ternyata terdengar oleh Doni.


"Siapa ? Kau cari siapa?"


"Dia" jawab Devan.

__ADS_1


"Dia ?" Doni mengedarkan pandangannya, mengikuti arah mata Devan.


Seketika Doni ingat sesuatu. "Oh... Dia ? Dia sudah resign" ucapnya kemudian.


Devan menoleh, menatap tajam pada Doni meminta kejelasan. Doni paham, ia lalu maju selangkah mensejajari temannya itu.


Doni menepuk pundak kiri Devan dengan tangan kanannya.


"Ayo makan ! calon pemimpin harus kuat sebelum menyerang"


Devan tersenyum sinis, tak menjawab apapun kata kata Doni. Entahlah apa yang di rasa, sulit untuk menggambarkannya. Dari luar nampak terlihat biasa saja, namun jauh di lubuk hatinya masih ada rasa sakit yang tersisa.


Devan sudah duduk santai dibarisan meja yang biasa para atasan tempati disana. Sedangkan Doni sibuk memilih di daftar menu yang disodorkan pelayan.


Tersenyum ramah, Devan menjawab "Baik". Karyawan itu pun membalas senyum Devan kemudian berlalu pergi ke tempatnya kembali.


Ternyata waktu itu terakhir kita duduk berseberangan, salahku tak pernah menyapamu sebagai kekasihku.


Aku masih berharap kau kembali padaku. Sunshine.


"Haaaah... Aku capek" seru Mia.

__ADS_1


"Hahaha kenapa ?" Seketika kumpulan gadis - gadis seberang Devan itu pun riuh. Devan hanya mengamati, dulu sewaktu ada Sania dia pun bersikap biasa saja. Apalagi sekarang, menganggap mereka semua seolah tak ada.


"Dia datang lagi" ucap Mia setengah berbisik.


"Jalangkung ?" Sahut salsa.


"Bukan lah" kata Dea, "jalangkung, datang tak di undang pulang tak di antar.. yang ini mah... Hahahaha" mereka tergelak bersama, sudah tau siapa yang dimaksud oleh sahabatnya.


Kekasih baru atasan mereka akhir akhir ini sering datang dan selalu membuat Mia sibuk menuruti apa kemauannya. Ada saja yang di minta pada Mia kalau wanita itu datang, sehingga membuat Mia sibuk di luar tugas kerjaannya.


"Dimana dia ? Apa dia sudah pulang ?" Tanya salsa.


"Pasti sudah lah, kan Mia sudah gabung sama kita" seru Dea.


Mia hanya mendengus, "aku lapar, besok aku mau cuti. Malas aku ketemu Citra".


Devan yang tadinya sedang menikmati makanan yang sudah tersaji, kini terdiam. Menajamkan pendengarannya, mencoba menyimak pembicaraan para gadis diseberang sana.


"Emang boleh cuti ? Sedangkan kalau dia datang pak Erik selalu cari kamu untuk melayani kekasihnya itu". ejek Dea.


"haha.. pasti alasannya anaknya takut ileran kalo nggak di turutin". timpal salsa.

__ADS_1


"Wee... biarin aja anaknya ileran, capek gue nurutin dia terus". Mia benar benar jengah dengan kelakuan Citra yang selalu memerintah dirinya.


"sejak kapan Citra sama om Erik berhubungan" gumam Devan.


__ADS_2