Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Pukulan


__ADS_3

"kaaaak...." Seru Leona. Seketika memegangi kakaknya. Leon geram menatap nyalang pada teman masa kecilnya itu, kaki Leon sudah satu langkah melewati Leona hendak memberi pukulan pada Rangga.


Rangga sendiri terkejut dengan kedatangan Leon yang mendadak muncul dihadapan mereka.


"Leon stop ! ". Kata Leona menarik tangan juga badan kakaknya agar menjauh dari Rangga, sementara Leon yang dipegangi berontak ingin menyerang mangsanya.


Seakan sudah di ubun-ubun segala amarah dan dendam leon terhadap Rangga, Leon melepas paksa pegangan tangan sang adik padanya, Leona semakin kuat memegangi tangan kakaknya.


Uuh... Hentakkan pada tanggan Leon membuat Leona terpelanting lalu jatuh tersungkur di lantai marmer yang dingin disana .


Leona seketika memekik.


aaaaa... Saakit kaaaak.


Mendengar adiknya kesakitan Leon pun berbalik, secepat mungkin ia berlari menghampiri sang adik yang sedang merintih dan terisak, lalu mengangkat tubuh Leona dengan kedua tangannya. Membawanya keluar dari kamar Rangga.


Rangga tersentak seakan baru pulih ingatannya. Kejadiannya begitu cepat, membuatnya seakan tak percaya ia menyakiti gadis kecilnya, tidak tidak.. bukan dia yang menyakiti.


Awalnya dia tidak sengaja melepas cengkeraman tangannya pada bahu Leona, dia juga tidak menyangka tubuh Leona semudah itu terdorong.


Tapi Leon menangkapnya, lalu malah mendorong Leona hingga jatuh, jadi itu bukan kesalahan Rangga.


Rangga masih tercengang melihat pada Leon yang pergi membawa Leona.


Melihat cara Leon panik lalu membawa pergi adiknya membuat Rangga teringat masa kecil mereka.


Kala itu Devan selalu ingin terlihat lebih menonjol dibanding Rangga, apapun di lakukan oleh anak itu demi mendapat perhatian Leona. Namun Leona kecil selalu menempel pada Rangga, membuat Devan gemas hingga membuat Leona menangis. Leon yang tak ingin adiknya menangis lalu menggendong Leona menjauh dari mereka.


Rangga tersenyum mengingat itu, namun sedetik kemudian senyum itu pudar karena ia teringat lagi. Tak lama dari Leon membawa pergi Leona, dia kembali lagi lalu memukul Devan.


Ia terkesiap, bahkan waktu itu mereka masih kecil Leon melakukan itu. Apalagi sekarang mereka sudah dewasa, Rangga menelan salivanya. Sudah pasti saat ini pun akan ada yang Leon lakukan karena air mata adiknya.


Braaaaak...

__ADS_1


Pintu yang tadinya setengah tertutup kini terbuka lebar karna sebuah tendangan.


Benar dugaannya, belum selesai dia teringat kenangan mereka. Ingatan Rangga sudah terbukti dengan kembalinya Leon ke kamar Rangga setelah membawa pergi adiknya.


Buggg...


Auhhh...


Satu pukulan melayang dari tangan Leon tepat mengenai pipi kanan Rangga.


Tanpa basa basi dan tanpa perlawanan dari Rangga, Leon menendang tepat bagian perut Rangga. Ketika Rangga baru memegangi pipinya.


Buug


Rangga terjatuh.. Leon maju selangkah lagi mendekati Rangga namun kakinya ditendang oleh Rangga dari tempatnya terduduk.


" Arrrggh... Awas kau sialan". Seru Leon.


Braaakk..


Pyarrrr...


Segala sesuatu yang ada disana terkena serangan dari Leon. Semua jatuh dari tempatnya, pecah berantakan tak beraturan.


"CUKUP LEON !!" Bentak Rangga.


Leon berhenti, cukup berjarak jauh dari Rangga. Nafasnya sudah terengah engah.


"Sini kau keparat !!" Pekik Leon. Sudah bersiap akan menyerang lagi.


"Apa salahku ?" Tanya Rangga.


"Siaal ....kau tanya apa salahmu ??" Bentak Leon. "Kau ada disini saja sudah salah besar, sekarang kau sakiti Leona".

__ADS_1


"Apa maksudmu ? Aku tidak menyakitinya, kau yang mendorongnya". Sanggah Rangga, merasa tidak bersalah.


"Ciiih... Kau dan keluargamu itu sungguh keparaaat. Bahagia sekali diatas penderitaan orang lain ?".


"Jangan bawa bawa keluargaku. Sekarang katakan ! Apa tujuanmu menyekapku disini ?"


"Menyekap ? Hahahaha... Bahkan matamu buta, tidakkah kau lihat kamarmu seperti kamar istana" Leon tergelak, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. "Oh no... Sekarang baru seperti gudang, berantakan semua. Hahaha..." Tawa Leon terus mengudara.


"Cukup basa basimu Leon".


"Hahaha... Kau benar. Sekarang kau ku sekap". Leon menyeringai.


"Aaaarrhh... Apa apaan ini ?" Rangga seketika berontak saat kedua tangannya dipegangi oleh dua orang pengawal yang biasanya berjaga di depan pintu kamarnya.


"Berterima kasihlah pada Leona.. sebab dia membutuhkanmu. Kalau tidak...... Hahaha"


Leon mendekat pada Rangga lalu melanjutkan kata-katanya. "Kalau tidak, mayatmu ini sudah jadi makanan singa peliharaanku".


Tangan Leon mengepal, bersiap menghantam ke arah perut Rangga dan-..


Bugg..


Arrrgggghh..


Nyeri yang tadi masih terasa, kini perutnya kembali dihantam oleh pukulan Leon. Cairan merah segar menyembur keluar dari mulut Rangga. Pria itu terbatuk, dua orang pengawal yang tadi memegangi Rangga sontak melepaskan pegangan mereka. Dan kini bodyguard itu pun mengikuti langkah kaki Leon pergi.


Rangga tersungkur, matanya mulai menggelap, hitam semua pandangannya.


Bruug..


Tubuh Rangga sudah tak mampu berjaga, bahkan membuka matanya pun yang dia lihat hanya hitam semua.


Rangga lalu tergeletak lemas tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2