
Sesuatu yang merekah yang selama ini Sania jaga hanya untuk pria berstatus suami yang boleh menyentuhnya, Sekarang telah terjamah oleh jemari nakal Rangga.
Perlahan tapi pasti raga keduanya sudah tidak tahan untuk merasakan yang lebih dari sekedar foreplay. Tongkat sakti Rangga sudah tegak menantang dibawah sana, siap untuk bertempur memasuki goa kenikmatan milik Sania.
Bukan pengalaman pertama untuk Rangga, tapi ini jadi yang pertama ia rasakan saat mulai memasuki bunga mekar yang berlubang itu.
"Susah" gumam Rangga pelan.
Wajah Sania sedikit meringis merasakan gesekan yang sepertinya memaksa menjebol masuk.
Perlahan Rangga menautkan tangan kanannya pada tangan kiri Sania. Sedang tangan kirinya menyangga tubuhnya dibelakang tengkuk Sania, dengan jari jemarinya menggelitik bagian bawah telinga.
Paguutan lembut Rangga berikan pada bibir Sania, berharap akan mengurangi ketegangan atas respon tubuh Sania yang akan segera ia masuki.
Sania menikmati permainan indera lunak tak bertulang milik Rangga pada bibirnya, paagutan pun terbalas, lidah keduanya pun saling membelit mencecap rasa dan menikmatinya. Hingga akhirnya tubuh Sania terangkat, seiring dengan suara desahhan Sania yang keluar disela peraduan bibir mereka, saat masuknya tongkat sakti Rangga pada liang kenikmatan Sania.
"Mass..."
"Tahan sayang".
"aargghhh....."
Tak bisa digambarkan betapa nikmat yang Rangga rasakan, dia seperti tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
Bukan pengalaman pertama bagi Rangga, tapi kenapa rasanya ini baru pertama kali untuknya, padahal dia pernah melakukan ini dengan Cintya.
Begitu sulit, begitu sempit. Merremas penuh tongkat sakti miliknya didalam sana.
__ADS_1
Sebulir air mata Sania mengalir begitu saja disela senyumnya menatap sang suami yang sedang menikmati surga dunianya.
Mata Rangga terpejam, namun dia tau Sania menangis bahagia karenanya, air mata itu mengalir mengenai jemarinya di tengkuk Sania.
Permainan pun berlanjut hingga keduanya mencapai puncak dari pergulatan manis mereka, menjadikan Sania seutuhnya milik Rangga.
...πΊπΊπΊ...
Sang bulan telah bertengger cantik di atas sana, ketukan pintu yang disuarakan oleh Odet si asisten rumah tangga pun tak terdengar oleh dua insan yang tengah kelelahan seusai memadu kasih.
Sore yang syahdu untuk sepasang pengantin baru yang terlambat malam pertama. Disaat kebanyakan orang diluaran sana sibuk dengan padatnya jalanan dan penatnya bekerja, Rangga sibuk menyibak hasrat bergelora pada ranjangnya bersama Sania.
"Mas". Sania menggeliat merasakan remuk sekujur tubuhnya.
"Lapar ya ?" Tanya Rangga dengan mata terpejam, enggan sekali menyingkir dari sisi Sania.
"Iya... Lapar". Jujur Sania.
Sania hanya bisa pasrah, namun begitu Rangga segera bangun dari malasnya dan meminta Odet menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Tempur malam juga butuh tenaga". Gumam Rangga.
iiissshh... Sania meringis saat mulai melangkah ke kamar mandi.
Mendengar Sania merintih saat berdiri, sebagai suami yang tau diri, Rangga pun membantu Sania yang akan membersihkan diri.
"Eeh.." pekik Sania saat kedua tangan Rangga mengangkat tubuhnya.
__ADS_1
Dikecupnya pipi Sania seraya membawa tubuh sang istri ke kamar mandi. "Terima kasih sayang".
Sania tersenyum "Tapi nggak perlu repot gendong gendong aku ala bridal style gini mas".
Rangga tak menjawab, malah terus menciumi pipi dan bagian lainnya.
"Sudah mas, aku bisa sendiri".
Bahagia sekali rasanya, dicintai oleh seseorang yang selalu menghargai keberadaan kita. Sania.
Begitu terkesiap Sania saat keluar dari kamar mandi. ah mati lampu ya.
Pasalnya lampu di kamar mandi menyala tapi lampu utama kamar padam. Berdiri tegap menyambut sang istri, Rangga telah mempersiapkan baju gantinya. Meja makan malam pun telah tersedia begitu cantiknya, begitu romantisnya Rangga, Sania sampai ternganga didepan pintu kamar mandi.
Kapan dia nyiapin semua, apa aku terlalu lama tadi mandinya ?. Gumam Sania.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
visual support by Quora @google π