
Semua keluarga sudah kembali ke Jakarta termasuk pak Hendra, yang memang sudah diperbolehkan untuk pulang, keadaan Bu Sandra pun sudah menunjukkan kemajuan dengan sadarnya beliau dari tidur panjangnya selama beberapa hari, hingga membuat Devan kehilangan semangat hidupnya.
Namun dengan inisiatif pak Wijaya membawa Sania bertemu dengan Devan keajaiban seolah menyertai kebahagiaan keluarga mereka, Devan bersemangat lagi, Sania sendiri ceria lagi, ayahnya bisa langsung keluar dari ruang perawatan yang selama ini mengurungnya, lalu sadarnya Bu Sandra setelah mengalami koma beberapa hari. Bukankah ini adalah kebahagiaan bersama ? Padahal hanya dengan pertemuan Sania dan Devan yang juga selalu diawasi banyak pasang mata, sungguh luar biasa efeknya.
Ini hari terakhir di Minggu ketiga kepergian Rangga, itu artinya satu Minggu lagi suaminya akan pulang. Sania tidak sabar untuk itu.
"Bu... Kita harus bikin acara apa ya untuk penyambutan mas Rangga ?" Tanya Sania pada ibu yang sedang berkutat dengan bahan masakan di dapur kediaman pak Wijaya. Seperti biasa sudah banyak pelayan disini, tapi ibu selalu ikut andil dalam kegiatan masak memasak di dapur.
Jam makan siang sebentar lagi, pagi tadi Reno melewatkan momen sarapan bersama jadi sudah pasti siang ini dia akan segera pulang untuk makan siang, sebenarnya anak itu bisa saja makan dimana pun sesukanya, tapi ternyata masakan ibu Sania mengalahkan masakan koki diluaran sana ditambah lagi kebersamaan yang tercipta membuat suasana hati Reno menghangat dengan ramainya anggota keluarga.
Tangan ibu berhenti memotong, sejenak berfikir tentang pertanyaan Sania "apa ya ? Makan bersama atau santunan anak yatim atau ya sejenis acara syukuran lah atas kembalinya mantu ibu".
"Iya ibu bener, itu ide bagus". Setelah menikah rasanya dia memang belum pernah mengadakan syukuran, kini hidupnya sudah ada yang menjamin, dia tidak perlu repot menjadi wanita karir lagi. Apalagi memikirkan biaya berobat ayahnya yang sewaktu waktu bisa saja kumat lagi.
Tabungan milik orang tuanya sudah habis untuk berobat ayah Sania, tinggal rumahnya saja sebagai aset terakhir.
Simpanan Sania pun terbilang masih sedikit, hanya ketambahan dari hasil pelelangan rumah dan penjualan motornya.
Untungnya Reno memberikan satu kartu yang lebih dari cukup sebagai nafkah Rangga terhadap dirinya juga untuk kebutuhan keluarganya.
Setelah menghampiri ibu di dapur Sania lalu mencari Sera, semenjak di asuh Santi Sera sudah jarang menempel pada dirinya.
Namun baru akan melangkah ke kamar gadis kecil itu Sania menghentikan langkahnya. "Ayah" panggilnya.
Nampak pak Hendra sedang memindai sesuatu didepan lemari buku di ruang keluarga.
Ayah Sania membuka lembaran demi lembaran sebuah album foto ukuran besar yang saat ini beliau letakkan dipangkuannya.
"Ayah ngapain ?" Tanya Sania menghampiri pak Hendra, "mana susternya ?".
__ADS_1
"San.. sini ! Suster lagi ke toilet" jawabnya, walau sudah membaik tapi pak Wijaya memerintahkan seorang perawat untuk selalu memantau perkembangan besannya ini yang sekarang tinggal di rumah besarnya, setidaknya sampai Rangga kembali barulah mereka pulang.
"Apa ini yah ?"
Pak Hendra tersenyum menunjuk pada sebuah foto yang terpampang disana, "lihat !"
"Siapa ini yah ?"
"Ini suamimu waktu kecil" jari telunjuk pak Hendra mengarah pada foto Rangga "Yang ini Reno" bergeser menunjuk sebelahnya.
Sania terpukau, kakak beradik ini memang tampan dari masih kecil.
Penasaran dengan lainnya Sania meminta sang ayah membuka lembaran lainnya, dilihat dari isinya rupanya itu album masa kecil Rangga dan Reno. Di lembaran terakhir Sania terkesiap melihat ada gadis kecil cantik berambut pirang dirangkul oleh Rangga.
Dahinya berkerut menandakan dia bertanya-tanya tentang siapa gadis itu. Dirinya dan Rangga memang belum berhubungan lama wajar saja dia belum tau semua tentang bagaimana cerita kehidupan suaminya.
Cemburu, mungkin saat ini rasa itu sedang menghampiri Sania dilihat dari bibirnya yang mengerucut setelah ayahnya memuji gadis kecil difoto itu. Dari cara Rangga merangkul anak itu nampaknya mereka saling menyayangi outfit mereka pun selaras walau bukan couple. Ya sudah lah mungkin saudara jauh atau apa, Sania tak ambil pusing. Dia lebih memilih duduk di sofa dekat pak Hendra.
Selesai melihat lihat Pak Hendra lalu meletakkan kembali album foto itu dibawah meja yang memang tadi beliau ambil dari sana.
"Wah ada banyak album foto disitu, Sania baru tau yah". Ucap Sania terheran.
"Pasti kamu nggak pernah bersih-bersih ya di rumah ini ?" Tuding ayahnya. "Sampai nggak tau ada banyak buku dan majalah dibawah itu".
"Hehe iya" Sania mengakui, memang dirinya dilarang melakukan apapun oleh Reno sebab kakaknya, Rangga, meminta menambahkan pelayan hanya untuk mengurusi segala kebutuhan istrinya dan ibu mertuanya. Sania merasa diratukan di rumah ini oleh Rangga. Walau dia tidak ada, tapi semuanya di persiapkan rangga melalui asisten terhebatnya yaitu adiknya sendiri.
Ternyata ada banyak album foto dibawah meja didepan posisi Sania duduk. Tapi dia terlanjur tak berminat untuk sekedar penasaran melihatnya lagi. Nanti saja lah kalau sudah ada Rangga, jadi bisa langsung dia tanya-tanya, pikirnya.
Sudah terlanjur duduk, Sania lupa tujuannya yang ingin menemui keponakan cantiknya. Malah sekarang ikut menonton televisi yang dinyalakan pak Hendra.
__ADS_1
"Assalamualaikum... "
"Waalaikumsalam... "Seketika keduanya menengok siapa yang memberi salam, tapi didengar dari suaranya sudah pasti Reno yang datang.
"Aku lapar" Keluh Reno, yang disambut oleh satu pelayan mendekati Reno mengambil alih tas yang digendongnya.
"Hai Ren, sudah pulang ayo makan ! Ibu sudah masak banyak". Ucap Sania menyahuti keluhan Reno.
Sania mendorong kursi roda ayahnya menuju meja makan lalu diikuti oleh Reno dibelakangnya.
Benar saja, di meja makan sudah tersedia banyak makanan hasil masakan ibu dibantu oleh pelayan. Bahkan ibu sudah duduk manis menunggu kedatangan mereka.
Dilain meja masih di ruangan yang sama, para pelayan Reno pun mulai berdatangan dan duduk di kursi masing-masing.
Ruangan makan ini sudah terlihat seperti kantin saja, mereka semua makan siang bersama. Reno tak keberatan dengan keinginan ibu yang seperti ini makan beramai ramai dengan para pekerjanya bersamaan. Malah ini suasana baru dalam hidupnya, semenjak mamahnya meninggal, Rangga juga jarang di Rumah Pak Wijaya pun sama, rumah besar ini terasa sepi.
Tapi beda kali ini, semenjak kakaknya menikahi Sania dan keluarganya tinggal bersama, rumah ini lebih hidup.
"Ayah dan kakak pasti suka suasana seperti ini" gumam Reno tersenyum.
"Sebentar lagi kita akan berkumpul bersama" sahut ibu yang ternyata mendengar ucapan Reno.
"Terima kasih Bu" ucap Reno.
"Ibu dan keluarga yang terima kasih sama keluarga nak Reno, ibu bahagia Sania dicintai oleh kakakmu dan kalian menerima kami disini".
Reno membalas dengan senyum setiap perkataan ibu.
Kakak nggak salah pilih, menikahi istri yang tumbuh dalam keluarga harmonis.
__ADS_1