Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Penolakan


__ADS_3

Berusaha untuk bersikap baik pada Leona mungkin itu salah satu cara yang bagus untuk menyelamatkan diri dari jerat gadis itu.


Sudah berjam-jam mereka diruangan yang sama. Namun sepertinya Leona memang betah menetap bersama Rangga, bahkan terlihat enggan meninggalkan Rangga barang sedetik pun.


Pria itu sudah berdiam diri di dalam kamar mandi hampir dua jam dan tidak melakukan apapun.


Berharap Leona risih atau bosan lalu pergi dari kamarnya.


Tapi cara itu tidak berhasil, malah Rangga sendiri yang jenuh berlama-lama didalam ruangan itu karena tidak ada sesuatu yang bisa ia lakukan, kecuali duduk bersandar dalam bathup yang kering lalu menunggu gadis itu pergi.


"Arrrggh..." Rangga menjambak rambutnya frustasi. Dia lupa membawa pakaian ganti, badannya sudah lengket karena keringat. Senyaman-nyamannya kamar mandi tetap tidak leluasa untuknya yang hanya berdiam diri tidak melakukan apapun.


Kalau dia mandi dengan berbalut handuk saja, apa kata gadis itu nanti. Pasti dikira dia akan menggoda atau semacamnya.


Tiga jam berlalu, Rangga hampir saja ketiduran di dalam bak mandinya.


Kalau saja Sania saat itu merajuk dan melarang keras agar Rangga tidak pergi, demi apapun Rangga pasti akan mengusahakan dirinya untuk tidak ikut kegiatan ini, membuang waktunya hanya untuk berdiam disangkar dan terperangkap berhari hari seperti ini.


Keluar dan hadapi, mungkin kata itu yang tersirat yang membuat Rangga akhirnya menyerah dan keluar dari persembunyiannya di kamar mandi.


Ceklek.. pintu kamar mandi dibuka.


"Hai.. sudah selesai ?" Ucap bibir manis Leona.

__ADS_1


Rangga hanya mendengus, menatap tajam pada gadis itu. Tidak mungkin dia mengusir paksa Leona seperti yang pernah ia lakukan pada Mona.


Leona mendekat "Wajahmu muram, sepertinya banyak yang kau renungkan".


"Keluarlah ! Aku mau sendiri". Ucap Rangga.


"Sampai kapan kau hanya akan menunggu seperti ini ? Cepatlah putuskan ! Menikah lah denganku".


"Tidak ! Tidak sampai kapan pun".


"Baiklah... Atau kau hanya ingin jadi simpananku ?".


"Cih... Kenapa bicaramu begitu ?, Lagipula itu kalimat yang harusnya pihak laki-laki katakan. Kau ini wanita, kenapa bisa seperti itu ?".


Rangga melengos, "Kau sudah bukan anak kecil yang harus aku turuti semua kemauanmu, janganlah jadi wanita murahan !".


"APA MAKSUDMU ?"


"Kau tanya maksudku ? Apa kau tidak sadar kau meminta suami orang untuk menikahimu ?".


"Kau bisa menceraikannya! Tidak lagi jadi suami orang".


"Kau keterlaluan" Rangga mengepal geram. Ingin rasanya memukul gadis didepannya ini.

__ADS_1


Dulu ia begitu menyayangi Leona, tidak sekalipun membuat gadis itu menangis. Tapi entah kenapa melihat Leona yang saat ini, sangat jauh berbeda dengan gadis masa kecilnya dulu.


"Atau kau mau identitasmu diubah mati agar wanitamu disana tidak lagi mengharapkan kehadiranmu ?".


Tatapan nyalang Rangga lemparkan terhadap Leona, dia mendekat lalu mencengkeram kedua bahu Leona.


"SAKIT ADDYSON !" Pekik Leona.


"Makan apa kau selama ini ? Kenapa hatimu sekeras batu, kau egois bahkan mampu menyakiti wanita lain demi obsesimu".


Bulir bening menetes dari manik lentik Leona, "Kau sedikitpun tidak pernah menganggap ku sebagai gadis yang menyayangimu kak, kau hanya menganggap ku adik kecilmu".


Bukannya luluh Rangga semakin mencengkeram gadis itu, hingga kulit putih mulusnya pun terlihat memerah dengan bekas cap tangan Rangga.


"Sakit kak.." hiks hiks...


Leona terisak menahan sakit bahunya, tapi Rangga masih enggan melepasnya cengkeramannya.


"Biarkan aku pulang !". Ucap Rangga, seketika dijawab melalui gelengan kepala Leona.


Sontak Rangga melepas kasar bahu Leona dan tidak sengaja sampai terdorong kebelakang.


Disaat yang bersamaan pria bernama Leon kakak kembar Leona pun datang membuka pintu, segera dengan sigap menangkap tubuh adiknya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan brengsek ???". Seru Leon.


__ADS_2