Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Pegal


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut dua insan yang baru saja membuka netra mereka untuk melihat dunia. Setelah makan malam romantis, Sania tertidur dengan nyenyak nya, tanpa gangguan apapun dari sang suami.


"Makan siang hari ini mau dibawakan apa mas ?" Tanya Sania, keduanya telah selesai ritual sarapan.


"Apa aja yang penting sama kamu".


Sania hanya tersipu mendengar ucapan suaminya, kata yang diucapkan serta cara Rangga memperlakukannya dirinya begitu lembut Sania merasa sangat dicintai oleh pria ini.


Rangga bangun dari duduknya, menyambar tas kerja yang sudah disiapkan Sania disisinya, lalu mencium kening istrinya.


Keduanya saling merangkul, berjalan beriringan keluar pintu.


Seperti biasa, Sania hanya mengantar sampai di teras.


Tangan Sania terangkat akan melambai saat Rangga sudah menapaki area halaman rumah mereka, namun tidak jadi sebab Rangga berbalik badan bukan untuk melambaikan tangan.


Rangga berjalan kembali menghampiri Sania lalu mencium pipi kanannya.


Tidak hanya itu, tangan kanan Rangga mengusap perut Sania dengan senyum merekah saling berpandangan.

__ADS_1


Sania balas mencium pipi Rangga dengan sedikit berjinjit. "Aku mencintaimu mas".


Cup..


Cium lagi kening Sania, "terlebih aku, sangat mencintaimu". Binar kebahagiaan terpancar dari sorot netranya. "Jaga dia disana ya !".


Sania tersentak, menyatukan kedua alisnya terheran. Kemudian tersenyum malu lalu mengangguk.


Iya saja, biar suaminya juga bahagia. Bukankah setiap ucapan adalah doa ?. Dan rangga sedang mendoakan apa yang ia usahakan kemarin sore.


Diusapnya pipi Sania. Dipandangi dengan seksama wajah istri yang dicintainya ini dengan penuh rasa sayang.


Wanita yang kelak akan memberikan keturunan untuknya.


Terimakasih Dev, kau menjaga istriku dengan baik. Batin Rangga.


Dia tahu benar siapa Devan, melihat respon Sania yang polos saat ia sentuh. Itu tandanya belum pernah ada pria lain yang menyentuhnya. Terlebih Devan memilih selingkuh dengan Citra. Sudah pasti apa yang Devan butuhkan tidak pernah Sania berikan padanya, dan terlampiaskan melalui Citra.


Selepas kepergian Rangga yang sudah memasuki area rumah sakit untuk bekerja, Sania pun masuk kembali kedalam rumah.

__ADS_1


Menyibukkan diri membantu Odet mengerjakan tugas rumah, juga memasak untuk makan siang suaminya.


"Nyonya..." Panggil Odet yang baru saja tiba dengan tas belanjaan berisikan sayur dan buah-buahan. Sepertinya dari pasar, begitu arti tatapan Sania pada Odet. Siapa dia ?.


Odet yang melihat Sania memandang arah pintu pun lalu menjelaskan siapa gerangan wanita yang ada dibelakangnya itu.


"Dia ahli terapis, tuan meminta saya memanggilnya untuk melayani nyonya".


Sania tersenyum, begitu perhatiannya Rangga. Baru satu ronde melayaninya saja dia sudah memanggilkan ahli terapis untuknya. Atau jangan - jangan ini untuk persiapan nanti malam.


Sania menggeleng, terkekeh sendiri.


Sepertinya suamiku mau kejar target.


"Mari masuk !" Ajaknya.


Kemudian wanita itu pun masuk.


Dipijat seluruh tubuh Sania, dilulur dengan racikan tradisional, benar - benar membuat Sania merelaksasi tubuhnya dengan nyaman.

__ADS_1


Tau aja mas Rangga pegal semua badanku.


Empat jam berlalu, ritual perelaksasian pun selesai. Sania nampak lebih segar kembali setelah mendapatkan pelayanan dari orang yang dibawa Odet. Pijatan tangannya cocok ditubuh Sania, sampai-sampai Sania mengingatkan Odet untuk selalu memakai jasanya saat ia membutuhkan.


__ADS_2