
Sania keluar dr ruang rawat ayahnya bersama sera. Bocah kecil itu merengek minta dibelikan ice cream.
Dada aman
Jantung Sania serasa ingin lepas dari penyangganya.
Sang ayah menitipkan dirinya pada seseorang yang baru dia kenal. Sepasang mata mereka saling tatap, tatapan itu mendamba seakan meyakinkan dirinya bahwa inilah yang ia mau. Beruntung ada sang gadis kecil yang memecah kegugupan Sania itu.
Rangga yang hendak ikut serta keluar ditahan oleh pak Wijaya, sebab mereka akan membicarakan suatu hal yang penting.
Setibanya Devan di rumah sakit, ia bertemu citra sang kekasih gelap. Bukan kekasih gelap sih, setau rekan kerja Devan, memang citra adalah kekasihnya yang matre tentunya, setiap bertemu selalu saja minta uang dan shopping .
Seperti biasa citra langsung saja memeluk Devan yang kini berjalan dengan dibantu tongkat.
Tak peduli ada Dina yang sedang menatapnya tajam "Dev.. aku kangen"
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Devan pada Citra yang belum melepas pelukannya.
"Mmmm anu.. jenguk teman, iya jenguk teman" Citra melepas pelukannya.
"Ooh.." Devan tak ingin berbasa basi lebih lama pada Citra . Tujuan dia kemari ingin bertemu Sania.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Sania tepat berada tak jauh dari Devan berdiri bersama dua gadis itu dan tentu melihat adegan barusan .
Akan salah paham jika seperti ini .gumam Devan
Devan berlalu melewati Citra, lalu diikuti oleh Dina.
"Ohh.. sudah beralih profesi rupanya" bisik Citra saat Dina melewatinya.
"Bangkai yang terpendam akan terendus juga aromanya" jawab Dina sinis.
Huuh sial .gumam Citra
__ADS_1
"Dev pelan..!!"
"Aaww.. kemana dia tadi" Devan terseok kehilangan jejak Sania, sepertinya Sania berjalan lebih cepat untuk menghindari Devan, sadar Devan juga melihat ke arah dirinya tadi.
"Mungkin arah kantin, sini ku bantu "
Dina yakin nanti pria ini akan mengeluhkan kakinya yang sakit sebab dipaksakan memakai tongkat, tertatih mengejar Sania.
"Sunshine" panggil Devan.
"Maaf nona.. Boleh kami gabung?" Tanya Dina sopan saat sudah sampai di meja yang Sania dan Sera tempati saat ini.
"Silahkan" jawab Sania.
Jangan ditanya seperti apa rasa dongkol Sania. Pindah tempat mereka rupanya. Gumam Sania dalam hati.
"Jangan bermesraan di depan umum, terlebih ada anak kecil". Ucap Sania, dia tak ingin melihat adegan yang masih teringat jelas menyakiti hatinya tadi.
"Om mau ?" Ucap Sera menawarkan ice cream ditangannya.
"Tidak sayang, makanlah!" ucap Devan seraya mengusap puncak kepala anak kecil itu.
"San... Aku minta maaf tapi tolong jangan dekat dengan Rangga " pinta Devan to the point.
Devan beralih pada Dina " Din... Tolong pergilah sebentar, aku ingin mengobrol dengan Sania"
Tapi sepertinya Dina enggan beranjak dari duduknya.
"Anggaplah aku tidak ada" sahut Dina memutar posisi duduk membelakangi mereka.
Devan masih merasa tidak nyaman, Dina seakan jadi body guard yang siap siaga melindungi Devan.
Adegan apalagi ini. Sania menatap jengah, tak habis pikir dia. lelaki dihadapannya ini banyak sekali teman wanitanya. Setau dia perempuan itu perawat, pernah merawat lukanya ketika insiden pertemuan pertama yang tak mengenakkan di rumah sakit ini dengan calon ibu mertua.
__ADS_1
"San... Aku masih ingin perjuangkan hubungan kita. Aku akan minta restu mama, pasti suatu saat mama bisa restui kita".
"Maaf Dev, mungkin sudah terlambat"
Devan lihat mata Sania melirik Dina.
"Dia hanya perawat... Bukan siapa siapa, ku mohon jangan salah paham"
"Maaf Dev, aku mundur..." satu buliran bening tak tertahan jatuh begitu saja. Setelah berulang kali Sania melihat Devan bisa bermesraan dengan dua gadis lainnya, rasanya hati Sania tak sanggup bertahan lebih lama.
Devan mendekati Sania kembali setelah tau sang kekasih mengenal Rangga. Devan tak rela sang kekasih polosnya direbut sepupunya. Padahal sebelumnya sikap Devan acuh karna dia merasa lebih nyaman dengan Citra yang bisa dirabanya sesuka hati.
"Jangan menangis... Aku bisa jelaskan semuanya. Ini salah paham" Devan terlihat gusar.
"Haii.. disini kalian rupanya" sapa Rangga yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Papaaa...."panggil Sera yang lalu minta digendong oleh Rangga.
"kami permisi" kata Rangga sambil menggendong dengan sayangnya bocah kecil dalam dekapan lalu berjalan meninggalkan Devan dan ternyata Sania mengekor dibelakangnya.
"maaf Dev... sepertinya aku sudah memilih" ucap Sania berdiri dari duduknya.
"apa maksudmu sunshine ?" tanya Devan tak paham ucapan Sania.
braaaaaakkk
"apa ini maksudnya"
Devan menggebrak meja dan membuat Dina terlonjak dari kursinya. spontan gadis itu berdiri.
Devan mencoba berlari akan mengejar Sania yang terlihat seperti pasangan suami istri bahagia dengan putri mereka.
Namun baru dua kali melangkah dirinya tersungkur jatuh ke lantai. Banyak pasang mata melihat kejadian itu.
__ADS_1