
Suasana canggung menyelimuti keduanya, sudah lama Devan memang tak pernah menemui sania.
Mereka satu kantor, tapi tak pernah bertemu bahkan tak pernah bertegur sapa.
Sania memang bukan type wanita yang terlalu merasa memiliki jika punya pasangan.
Dia perhatian, dia peduli, tapi tak mau posesif dan harus tau semua yang dilakukan oleh pasangannya.
Dia berikan kepercayaan penuh pada Devan. Tapi nyatanya sikap yang dilakukan Sania adalah salah.
Jika kita memiliki pasangan paling tidak kita harus tahu dia bergaul dengan siapa. Apa saja kegiatan sehari harinya, jadi jika terjadi sesuatu kita tahu harus pada siapa kita menanyakan kabarnya.
Devan mulai membenahi posisi duduknya untuk memulai pembicaraan.
Ditatapnya wajah cantik Sania, wanita yang dulu baru ia kenal beberapa hari saja namun bisa membuat Devan jatuh hati padanya.
"Sayang"
Sania menoleh pada Devan, dilihatnya wajah Devan seakan serius untuk mengatakan sesuatu.
"Akuu...." kikuk, canggung, gugup, rasanya campur aduk. Ada jantung yang berpacu sedikit cepat yang ia rasakan.
Rasanya seperti terkejut melihat sesuatu atau rasanya seperti anak remaja yang mau mengatakan cinta pada pujaan hatinya.
Biasanya Devan tak begini, dia sedari sekolah dasar saja sudah berani menggoda kakak kelas.
Membuat surat surat kaleng yang diletakkan di laci bawah meja, berharap sang empunya membaca dengan senyum centil ala bocah balita lalu membalasnya.
Sania menatapnya masih menunggu Devan lanjut bicara.
Mengumpulkan sedikit keberanian, dengan ragu Devan menyentuh tangan Sania diatas meja.
Sania masih diam tak merespon apapun.
"Maafin aku san...aku sayang sama kamu"
__ADS_1
Digenggam kedua telapak tangan Sania dengan kedua tangannya.
Mereka saling bertatapan
Dingin... Sania rasakan tangan Devan dingin.
*D*ia tidak sedang sakit kan. batin Sania
Beralih lihat kearah kendaraan yang dipakai Devan.
Dia pakai mobil kok, nggak kehujanan juga, dia kenapa ini.
Sania bertanya tanya dalam hati kini dengan tatapan curiga.
Sedetik kemudian Devan sudah beralih, beranjak dari kursi pindah di depan Sania.
Seketika Sania kaget, reflek ikut berdiri tepat berhadapan. "Kamu kenapa Dev, ada apa ?"
(Dipeluk)
"Dev......tolong jangan begini ! " Sania meronta menghempaskan pelukan Devan, namun tak ada hasil.
Tenaga Sania tak cukup untuk lolos dari pelukan Devan. Erat sekali, seperti menahan rindu yang sangat lama.
Sayangnya Sania menolak itu.
"Dev tolong Dev ....jangan begini, malu dilihat orang"
"Sebentar san...." tangan Devan memeluk erat, kepalanya disandarkan di pundak sania.
Sania mendorong dorong tubuh Devan " Dev....tolong ,jangan begini Dev, tolong ! "
Pak Dadang yang memang sengaja lewat depan rumah Sania melihat adegan pelukan itu.
Tapi pak Dadang hanya mendengar suara Sania meminta tolong. Ditajamkan pendengarannya, hanya kata tolong yang dia dengar.
__ADS_1
Pak Dadang dengan tergesa gesa masuk melewati mobil Devan yang terparkir di teras.
Prriiiiiitttttt...
Sontak keduanya kaget, Sania bernafas lega. Akhirnya Devan melepaskan pelukannya.
"Maaf nona ...apakah non Sania terluka ?"
Pak Dadang was was takut jikalau Devan menyerang tiba tiba.
Yang security itu tahu, Sania berteriak minta tolong tadi.
"Tidak pak..tidak ada apa apa"
"Beneran ?" Pak dadang Melirik curiga pada devan.
Devan bersuara "Maaf pak, jangan salah paham.. saya hanya memeluknya"
"Betulkah non? "
"ii iya pak betul" malu Sania menjawabnya.
Kenapa sih Devan seagresif ini, aku kan malu
" Dipeluk kok teriak non ?" seperti penyidik, banyak tanya.
"Hhhmmm" yang ditanya nyengir , bingung harus jawab apa.
"Tolong ya tuan Devan kalau mau peluk bicarakan baik baik..biar enak"
"Eh iya pak ..maaf y pak" Devan menunduk malu.
"Baiklah kalau memang tidak ada masalah, saya pamit mau keliling dulu ya non" pak Dadang lalu melenggang keluar dari teras rumah diiringi senyum dari Sania.
Udah si sana ! Ganggu deh. batin Devan tatapannya seolah mengusir pak Dadang.
__ADS_1