
Untung saja Sania tidak gegabah dan terkejut lalu menjatuhkan rantang yang ia bawa, sehingga Rangga masih bisa menikmati santap siang bersama istri tercinta.
Hari ini Rangga membawa Sania makan siang di taman. Setelah kemarin di ruangan dan di kantin. Sensasinya berbeda sebab tidak ada pohon besar yang rindang disana.
Mereka memilih berteduh dari terik sinar matahari siang ini dibawah gazebo berbentuk jamur.
Seusai makan siang Rangga tidak kembali ke ruangan kerjanya, ia malah mengikuti Sania pulang.
"Nggak perlu diantar mas, kan kelihatan dari sini. Tuh tuh". Tunjuk Sania rumah mereka. Ada Odet yang nampak bersantai ria di teras sana.
Rangga mendekatkan bibirnya pada telinga Sania. "Mas mau pulang".
"Hiiish.... Kerja sana !".
"Besok kan masih bisa kerjanya. lagian aku udah nggak sabar".
Tersipu malu Sania mencubit perut Rangga. "Aaahh... Sakit sayang". Protesnya.
"Kerja dulu. Nanti malam baru kita lakukan".
"Bener ya ?".
Ekspresi Rangga menuntut penuh harap.
Dan Sania mengangguk.
"Yes" teriak Rangga sembari kedua tangannya ditarik cepat dari atas kebawah.
"Ssstt... Malu mas". Keduanya berpelukan.
"Aku pulang dulu, mas kerja yang fokus. Pulangnya jangan larut malam".
"Iya sayang".
Cup
Satu kecupan pada kening Sania mengakhiri keromantisan mereka siang ini. Walau cuaca terik menembus kulit tak dirasa oleh mereka.
Tutur kata dan perlakuan dari pasangan membuat hati mereka sejuk.
Setelah memastikan istrinya sampai di teras rumah mereka, baru lah Rangga berbalik arah untuk masuk ke gedung rumah sakit.
__ADS_1
Baru juga dua langkah, Rangga menghentikan laju kakinya. Ada seorang gadis di depannya berdiri menatap dengan tangan bersedekap dada.
Sudah seperti orang tua yang memergoki anaknya berpacaran, namun kecemburuan jelas terukir di wajah cantiknya.
"Kenapa kau kembali ?" Ucap Rangga ketus.
"Ohh.. jadi itu istrimu ? Yang seperti itu seleramu ?".
"Apa maksudmu ?"
"Aku cuma tanya sayang, jangan ketus begitu".
"Panggil aku kak, atau sebut saja nama!".
Malas berdebat, Rangga bergeser satu langkah lalu melewati Leona.
"Tunggu akuuu !"
Rangga berhenti mendadak membuat Leona menabrak tubuhnya dari belakang.
"Aaaaaahh.."
Reflek Rangga berbalik badan menangkap tubuh Leona yang terhuyung. Pandangan Leona menangkap bentuk kepedulian Rangga terhadap dirinya. Itu artinya masih ada harapan mencari simpati dari pria ini. Dia harus bisa membujuk Rangga untuk mengantarnya pulang ke Jerman.
"Kaaaak" Leona memeluk Rangga.
"Jangan disini, kita ke kantin saja".
Leona mengangguk lalu melepas pelukannya. Mereka berjalan beriringan menuju kantin.
Sesampainya di sana Rangga menarik sebuah kursi mempersilahkan Leona duduk terlebih dahulu, lagi-lagi gadis itu terbawa perasaan akan perhatian yang diberikan Rangga.
Selanjutnya Rangga menarik dua kursi lain kemudian dia duduk disalah satunya. Salah seorang pelayan kantin datang menyapa Rangga kemudian Leona, sementara gadis itu sibuk memilih pesanan Rangga sibuk dengan ponsel dalam genggaman.
"Kak... Tidak ada menu favorit kita dulu disini".
Rangga terkekeh "Pesan saja yang ada, kau bisa makan segalanya kan?".
"Ih.. memangnya aku omnivora" Leona mencebik lucu.
"Jangan salah, manusia termasuk dalam kategori omnivor lho".
Mereka lalu tertawa bersama.
__ADS_1
"Kak... Apa kau tidak ingin tinggal bersamaku di Jerman. Aku dan Leon membutuhkanmu. Kita kelola bersama bisnis kesehatan milik keluargaku. Kita juga akan jadi dokter hebat, bukankah itu cita-cita kita dari sejak kecil. Aku dan kau". Sudah merasa Rangga welcome terhadap dirinya, maka dari itu Leona langsung ke inti tujuannya mencari Rangga.
Helaan nafas Rangga membuat gadis itu memandangnya lekat. "Aku kan sudah bilang. Aku punya istri. Dan sebentar lagi dia--.."
"Mas.." Nampak di sudut kantin itu seorang wanita melambaikan tangan pada Rangga. Siapa lagi kalau bukan Sania, istrinya.
Dalam pesan yang Sania baca pada ponselnya, Rangga mengatakan seorang gadis yang pernah ia ceritakan waktu itu datang menemuinya. Dan Rangga ingin Sania menemaninya. Segeralah Sania menuju tempat yang telah disebutkan Rangga.
Maka disinilah Sania berada. Sampai pada meja sang suami yang sedang mengobrol dengan seorang gadis cantik.
Ya.. sangat cantik, wajah blasteran Indo Jerman. Dengan penampilan modis, cara duduk pun memperlihatkan wibawa sebagai wanita terhormat.
Sania tersenyum kikuk, harus bagaimana dia menyapanya.
Rangga tersenyum dengan kedatangan Sania. Kemudian menepuk kursi kosong disebelahnya, sebelumnya memang sudah ia persiapkan untuk diduduki oleh istrinya.
"Terima kasih mas". Ucap Sania seraya mendudukkan dirinya disana.
Leona yang melihat semua gerak gerik suami istri itu nampak melirik malas.
Panggilan Sania terlalu kampungan dan tidak romantis. Setidaknya itu menurut Leona yang agaknya cemburu dengan kedatangan istri dari pria yang ia kagumi.
Di taman, Leona sudah melihat perlakuan Rangga pada Sania yang terlihat seperti sepasang kekasih harmonis. Lalu sekarang apalagi yang akan mereka tunjukkan.
Tidak ada waktukah untuknya hanya berdua saja dengan Rangga. Kenapa pria ini seolah berusaha keras menghindari pertemuan dengan dirinya jika hanya berdua saja.
Baru juga sekali dia merasakan Rangga tidak menolak pelukannya . Kalau ada istrinya begini, bagaimana bisa dia bermanja manja dengan Rangga.
Tadi pagi saja terpaksa Leona pergi dari ruangan Rangga sebab pria itu mengeluhkan kursi kerjanya rusak, lalu memanggil seorang maintenance. Jika laki-laki tulen mungkin saja dirinya akan bersabar berada di ruangan Rangga sampai perbaikan itu selesai. Juga menemani Rangga mengobrol tentunya.
Tapi rupanya maintenance rumah sakit ini adalah seorang wanita kelaki - lakian, dan Leona risih dengan penampilan itu. Rangga masih mengingat apa saja yang disuka dan tidak disukai wanita itu. Kemudian Rangga baru bisa bernafas lega setelah Leona dengan sendirinya keluar dari ruangan itu tanpa harus ia usir.
.
.
.
.
next ya 💕
Terima kasih yang masih setia dengan kisah rumah tangga Sania dan Rangga 😍
__ADS_1
gambar by Google. balithi