Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Putus


__ADS_3

Sania duduk bersandar dengan tumpukan bantal yang disusun oleh Rangga.


"Tenangkan hatimu, aku ada disini menjagamu" ucap Rangga menggenggam tangan Sania.


"Akhiri saja hubungan kita !"


Deg


Setelah sedari tadi diam, akhirnya terucap kalimat yang yang cukup mengejutkan Rangga.


Dia cukup mengerti, kekasihnya itu baru saja mendapat perlakuan buruk dari mantannya.


"Minumlah dulu !" Sania menurut.


Pikirannya menerawang jauh menjelajah sejauh pandangannya saat ini. Ada lampu lampu kota dibawah sana, terlihat dari balik celah gorden yang tak tertutup sempurna itu.


"Tidurlah lagi, ini masih malam" perintah Rangga.


"Kenapa nggak jadi berangkat ?"


"Siapa yang bilang mau berangkat?" Rangga tersenyum mengejek.


"Katamu kemarin? Akan dua hari disana?" Sania mulai bingung.


"Tapi nggak berangkat hari ini" bantah Rangga.


"Ibu sama Sera gimana?"


"Kan aku sudah bilang, aku suruh seseorang menjaga mereka"


"Siapa ?" Tatap Sania serius.


"Dina. Perawatnya Devan" Sengaja dia bilang perawat bukan teman. Karena yang Sania kenal Dina memang perawat Devan.


"Kenapa harus foto foto dulu ?"


"Hmm..hahaha itu ide temanmu, katanya dia ngefans sama aku" Rangga tertawa melihat Sania ternyata cemburu padanya.


"Kenapa kamu ikut antar sepupu Dea itu ? Apa jangan jangan kamu ya pacarnya Dea ?" Tuduh Sania.


"Uhh gemesin" Rangga mencubit hidung Sania.


"Aw sakit mas"


"selain di rumah sakit milik ayah disini, Dina juga kerja di rumah sakit pusat di singapura . Aku kira dia sudah stand by disana, ternyata baru mau berangkat. Makanya aku titipkan mainan yang kita beli tadi pagi untuk Sera padanya ". Tutur Rangga menjelaskan kejadiannya.


Masuk di akal menurutnya. "Terus foto itu ?"


"Katanya sepupu Dina itu lihat aku tadi pagi di kantor kamu, ya aku bilang memang kesana kan tadi pagi"


"Kenapa harus foto foto ?" Tanyanya lagi masih belum puas dengan jawaban sang kekasih.

__ADS_1


"Dia mau nunjukin ke kamu. Terima kasih ya kamu jujur sama temanmu mengakui hubungan kita. Itu artinya kamu nggak malu punya calon suami jelek kayak aku".


"iih apa sih" Sania tersenyum malu menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.


Rangga bersyukur Sania sudah melupakan kejadian tadi setidaknya malam ini keadaan sudah membaik.


Namun sedetik kemudian suasana hangat yang sudah dihiasi dengan tawa dan candaan kini berubah seketika.


"Tapi aku mau hubungan kita sampai disini saja"


"Kenapa begitu ? Apa aku masih ada salah sama kamu ?" Rangga bingung, ia kira suasana hati Sania sudah membaik walau hanya sejenak dengan obrolan mereka tadi.


"Aku takut kalian perang saudara kalau kita tetap menikah" ucap Sania lugas.


"Itu nggak akan terjadi, aku akan lindungin kamu. Kita menikah dan kita bersama" yakinkan Rangga pada Sania.


"IYA AKU NGGAK APA APA tapi keluargaku hiks hiks hiks..." Suara Sania meninggi kemudian ia terisak.


Bukan hanya Sania yang terancam, tapi mungkin malah keluarganya. Bisa saja Devan mengancam akan menyakiti keluarga Sania jika gadis itu tidak mau kembali padanya.


Bahkan Devan mungkin akan memperalat Sania karena dendam. Karena Devan tau betul, Rangga mencintai Sania.


"Semua akan baik baik saja, aku juga akan melindungi keluargamu"


"Aku takut dia.. aku benci dia.. aku takut ketemu dia" Sania menutup kepala dengan bantal perlakuan Devan yang menggerayangi tubuhnya jelas teringat dalam ingatannya.


Rangga mencoba menenangkan sania, namun tak berhasil. Apa yang di ucapkan rangga tak terdengar ditelinga Sania. Hingga Sania lelah akhirnya tertidur setelah terisak hampir satu jam.


Menyiapkan sarapan untuk Sania dan akan mengajaknya jalan-jalan .


Rangga masuk ke dalam kamar untuk membangunkan kekasihnya.


"Sania..bangunlah san" selimut terbuka dan ternyata Sania tidak ada.


"SAN... SAN... Sania " Rangga mencari keberadaan Sania , kamar mandi, dapur, dan ruangan lainnya.


Rangga keluar mengejar Sania dengan kunci mobil dan kunci rumah Sania yang sudah siap ditangannya.


"Dimana kamu San ?" Lirih Rangga dibalik kemudinya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan rendah, netranya tak lepas mengawasi setiap sudut jalanan yang ia lewati. Berharap Sania belum jauh dari apartemennya. Rangga bahkan berfikir Devan datang dan menculik Sania ketika ia sedang ke foodcourt memesan makanan dan meninggalkan Sania sendiri dikamar. Hah sungguh lalai.


Rangga kira semua akan baik- baik saja sesuai ucapannya. Kenyataannya Sania ragu pada dirinya. Gadis itu kabur setelah semalaman membuat tidurnya tak tenang.


"Tunggu sini sebentar pak !! " Sania keluar dari mobil taxi yang mengantarnya pulang.


Ia cari-cari kunci rumahnya, Sania lupa kalau semalam Rangga yang mengunci dan membawanya ke klinik.


"Neng jangan lama-lama ya, saya mau narik penumpang lagi !" Teriak sopir taxi dari dalam mobilnya.


Kebetulan pak Ujang lewat joging pagi " pak pak.." panggil Sania.


"Pinjam uang 100 ribu buat bayar taxi, nanti saya kembalikan" ucap Sania.

__ADS_1


"Yah maaf non...saya nggak ada uang"


"Haduh gimana ya ?" Sania mulai panik.


"Saya pinjam ke Dadang dulu deh, dia ada di pos. Semalem dia habis menang jackpot katanya, pasti ada uang"


Pak Ujang berlari ke arah pos namun tak kunjung kembali.


"Neng kalau nggak bisa bayar jangan naik taxi dong. Majikannya belom pulang ya ?"


Hardik sopir taxi, mengira Sania pembantu di rumah itu. Karna memang Sania terlihat kucel dan belum mandi.


"Uhh songong" batin Sania.


"Berapa pak ?" Rangga tiba- tiba datang dan menyodorkan uang selembar merah kepada pria paruh baya itu.


"Pas..Makasih ya" taxi itu kemudian berlalu pergi.


Pintu rumah Sania dibuka oleh Rangga. Dia membiarkan gadis itu melakukan apapun yang ia mau. Mungkin dengan begitu perasaannya bisa tenang.


Sania langsung menuju kamarnya, membersihkan diri dan mengemasi barang -barangnya.


Rangga duduk di sofa ruang tamu yang berantakan, melihat semua itu bayangan Devan yang akan memperkosa Sania muncul. Betapa takutnya Sania diperlakukan tak senonoh oleh Devan. Rangga bisa merasakannya.


Ketika Rangga mulai membereskan posisi sofa dan meja yang tak beraturan, Kakinya tak sengaja menendang sebuah ransel yang ia yakin itu adalah milik Devan.


"Astaga... Devan berniat melakukan pembunuhan berencana" gumam Rangga, sambil menoleh memastikan Sania tak mendengarnya. Jika Sania tau pasti akan syok, psikis sania dipertaruhkan disini.


Semua yang ada di dalam tas itu sudah pasti bisa dipakai untuk alat penyiksaan, Rangga bahkan menemukan cairan obat bius dalam sebuah botol dibungkus plastik hitam. Tertera tulisan berbahasa asing yang dalam ilmu kedokteran lebih mudah disebut dengan nama obat bius.


Untung saja dia tidak menciumnya karena kebanyakan orang akan mencium suatu cairan itu untuk memastikan aromanya seperti apa.


Rangga secepat kilat menyimpan tas ransel itu kedalam mobil Reno yang ia pakai dari semalam.


Gagal sudah rencana liburan Reno karena terganggu hal tak terduga, dan saat ini dia sedang menjaga Devan yang tengah frustasi di kamar rumahnya karena gagal melampiaskan hasrat terpendamnya pada sang mantan.


Sania keluar dari kamarnya, membawa dua koper baju dan tas ransel penuh seperti orang pindahan.


"Sayang..." Rangga lebih sering memanggil sayang, Sania pun tak menolak itu.


"Aku ingin kita pisah mas, aku nggak mau berhubungan dengan kalian lagi, aku juga mau resign aku nggak mau ketemu Devan lagi"


.


.


.


.


lanjut apa putus ya ??

__ADS_1


__ADS_2