Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Sentuhan Mantan


__ADS_3

Hari berganti..


Selesai sarapan Devan berniat mengunjungi rumah sakit janendra milik om nya itu. Setelah semalam gagal menyatroni sunshine nya, pagi ini dia berharap bisa melihat langsung keadaan Sania.


Dia sengaja pergi sendiri tanpa pengawalan Adam. Jadi bisa bebas melakukan apapun tanpa harus mendengar Adam ceramah seperti malam tadi.


Berbinar netranya, jantungnya berdebar kencang, setelah sekian lama rasa ini selalu ada untuk orang yang sama.


Cuti sehari tidak apalah bagi Devan, dia pemimpinnya sekarang. Masalah kerjaan dia punya banyak teman yang bisa diandalkan. Loyalitas kerja untuknya yang tak diragukan. Mungkin setelah ini dia akan menghujani mereka dengan uang bonusan, sebagai tanda terima kasihnya pada semua orang.


Devan turun dari mobilnya setelah memastikan terparkir rapi pada tempatnya.


Senyum selalu tersungging di bibirnya.


Langkah gagahnya terayun semangat.


Sebuah bouket bunga mawar pun tak lupa dia bawa sebagai buah tangan. Satu lagi yang tidak dia lupa, yaitu bawa makanan. Siapa pun pasiennya, pasti tidak akan suka dengan menu makanan rumah sakit yang terasa hambar di lidah mereka.


Sejenak dia teringat, Sania pernah mengalami ini sebelumnya. Tapi dimana dirinya kala itu ? Bahkan saat Sania sudah beberapa hari sendirian dalam bangsal sepi tidak ada yang menjenguknya, Devan bahkan baru tau kabarnya setelah itu. Saat dia akan menjenguk kekasihnya, ternyata sudah ada pria lain yang membawanya pulang. Parahnya lagi, saat Sania minta dia temani malam itu.


Dia malah party membawa gadis lain untuk dikenalkan pada teman-temannya. Bodoh memang, entah bagaimana perasaannya dulu terhadap Sania.

__ADS_1


Kenapa setelah sekarang menjadi milik orang, baru dia merasa tertantang untuk memperbaiki sikapnya. Bukankah ini telat dan tidak sepantasnya ?. Sania sudah jadi istri orang. Bahkan orang itu adalah sepupunya sendiri.


Beberapa langkah kemudian senyumnya memudar. Mengingat itu semua membuat dirinya selalu merasa bersalah.


Memperbaiki hubungan baik mungkin masih terdengar wajar, tapi berdosa jika dia mengusik yang sudah jadi milik orang.


Devan menggeleng, ia tepis kenangan buruk atas perlakuannya dulu terhadap Sania.


Saat ini dia ada untuk gadisnya,eh ralat.. istri saudaranya maksudnya.


Selagi Rangga tidak ada disisi Sania, setidaknya dirinya akan selalu ada melindungi Sania, untuk Rangga.


Kamar VVIP terbaik yang ditempati Sania. Kemarin dia sendiri yang mengantar gadis itu ketempat ini dan mengurus semuanya.


Rupanya benar, Sania masih tertidur. Ini masih terlalu pagi untuk jam kunjungan. Namun bukan Devan jika kedatangannya bisa ditolak lagi. Cukup semalam dia tau diri dan memutuskan untuk kembali, sebab memang sudah terlalu malam untuk mengganggu sunshine nya ini.


Tiga langkahnya terayun dari pintu, ia lihat sebelah kanan. Ada sorotan mata tajam mengarah padanya. Tersenyum kikuk Devan membalas tatapan itu.


Tapi dia tidak peduli. Selagi bocah itu tidak mengusirnya, ini tidak jadi masalah.


Devan dekati ranjang pasien Sania yang masih terbaring tidur disana.

__ADS_1


Devan menengok lagi, posisinya di belakang, sebelah kanannya.


Sosok itu berdiri menatapnya geram, seakan ingin menerkam.


Tapi lihatlah, dia hanya melihat gerak gerik Devan dan tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


Hanya saja sorot mata pandanya menyatakan ketidaksukaan dengan kehadiran Devan.


Devan menyengir lalu berkata "Pulang sana, istirahat di rumah biar kakak ipar aku yang jaga". Ucapnya sopan.


Padahal dalam hati ingin sekali mengucapkan, "Balik Sono ! Dasar mata panda, mimik susu trus bobok di rumah haha" dia tergelak dengan candaan dalam pikirannya sendiri.


Cari mati kalau sampai dia berani bilang begitu, ini daerah kekuasaannya. Bisa-bisa dia terdepak dari ruangan ini sebelum bisa mengobrol indah dengan sunshine nya.


Devan menarik kursi untuk duduk, disebelah kanan Sania. Tangan kanan Sania di gips, tangan kirinya di infus. Devan menatap sedih pemandangan ini.


Langkah Reno membuat Devan menoleh lagi padanya. Rupanya anak itu ke toilet. Mungkin tiba-tiba saja mules setelah menusukkan sorotan mata tajamnya ke Devan.


Devan tersenyum, tidak sia-sia dia tergopoh berlari menggendong Sania dan membawanya kesini kemarin. Sekarang dia datang menjenguknya Reno mengijinkan, terbukti dari tidak adanya ucapan pengusiran yang keluar dari mulut anak remaja itu.


Hanya saja Devan harus benar menjaga sikap. Menahan hasratnya untuk tidak menyentuh sedikit pun kulit tubuh Sania. Itu saja, tapi sulit.

__ADS_1


Baru beberapa detik tanpa pengawasan Reno. Diam diam tangannya terulur untuk mengelus lengan Sania. Namun mata Devan mengawasi pintu toilet disana.


Benar-benar tidak bisa dipercaya manusia satu ini.


__ADS_2