Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
30. Benih Cinta


__ADS_3

Sania hanya menatap nanar kepergian mereka yang kini sudah semakin menjauh.


Tak terasa bulir beningnya menetes kembali.


"Jangan kau tangisi mereka !"


mendengar suara Rangga lantas Sania menoleh kearahnya.


Rangga menyeka air mata Sania dengan tangannya.


Jantung Sania berdebar, ingin menolak tapi sudah terjadi.


Badan Sania reflek agak menjauh, sentuhan jari tangan Rangga membuat hatinya bergetar.


Entah perasaan apa ini, tapi aku sangat berterima kasih padamu


Kau selalu ada disaat sedihku


"Maaf" ucap Rangga tau Sania mungkin tersinggung dengan sikapnya yang main sentuh saja.


Sania membalasnya dengan tersenyum lalu menyeka air matanya sendiri.


"Tunggu disini dulu !" Perintah Rangga pada Sania, belum sempat gadis itu bertanya untuk apa dia harus menunggu, Rangga sudah terlebih dulu melangkah pergi dari sana mengejar Devan dan Tantenya.


Sepuluh menit kemudian Rangga telah kembali, dia sedikit berlari menuju tempat Sania menunggu sedari tadi.


"Mari saya antar pulang" ajaknya.


"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Sania takut dibilang menggoda keponakannya nanti kalau bertemu Bu Sandra lagi.


"Aman.. sudah pulang " yakinkan Rangga yang tau kekhawatiran Sania.

__ADS_1


.........


Di dalam mobil, Sania hanya termenung menatap kosong jalanan entah apa yang sedang dipikirkan.


Pria itu menyadari gadis disampingnya masih terus bersedih, dia sengaja membelokkan arah lajunya ke tujuan lain.


Sania belum juga menyadari ini bukan arah jalan pulang.


Sesampainya disana Rangga mengajak Sania untuk turun.


Dimana ini .gumam Sania.


Matanya melihat sana sini, dia tak mengenali tempat ini.


Pohon rindang nan asri menjulang tinggi.


Banyak pohon besar disana, lebih tepatnya seperti hutan tapi ramai pengunjungnya.


"Dimana ini mas?" Tanya Sania kemudian, daripada dia menerka nerka tidak pasti.


"Kota hujan" jawab Rangga berjalan mendekati Sania.


"Hujan ? Nggak hujan kok" tangan Sania menengadah ke atas, merasakan barangkali ada air menetes di telapak tangannya.


Rangga yang melihatnya merasa lucu, mungkin Sania hanya dengar kata hujannya saja makanya dia melakukan hal itu.


"Mau cemilan apa? " Tanya Rangga kemudian.


"Cemilan ?" Sania melihat lihat sekitaran, memang banyak sekali yang berjualan, banyak juga keluarga yang sepertinya sedang berekreasi. Kebun siapa ini pikirnya.


"Kita jajan itu.. sepertinya enak" Sania berjalan mendahului Rangga.

__ADS_1


Mungkin perlahan moodnya sudah mulai membaik. Sania sudah paham untuk apa Rangga mengajaknya ketempat ini, masalah dimana dan punya siapa hutan ini nanti bisa dia tanya lagi.


Dawet Ireng, cimol, rujak bebek, soto mie bogor. Beberapa bungkus makanan itu sudah berada ditangan Sania. Hanya bungkus minuman saja yang terlihat dua porsi.


"Sebanyak itu ? Bisa makannya ?" Tanya Rangga membulatkan matanya melihat banyak jajanan ditangan Sania.


"Bisa, cuma makan mah bisa . Bikinnya yang tidak bisa hahaha"


Sania tertawa renyah menjawab pertanyaan dari Rangga.


Rangga pun nampak tersenyum melihat kebahagiaan Sania yang hanya sepele tapi bisa membuatnya tertawa lepas seperti itu.


Merekapun mencari tempat untuk duduk tapi semua terlihat penuh.


Tiba-tiba ada seorang bocah mendekati mereka entah datang dari arah mana membuat mereka terkejut setelah tertawa tadi.


"Boleh kakak tikarnya" kata bocah itu.


Oh jualan tikar batin Sania


"Berapa harganya ? Boleh seharian ?" Tanya Rangga pada bocah itu.


"20rb sepuasnya" bocah itu tersenyum menampakkan giginya yang rapi agak kekuningan.


Sania mengernyitkan keningnya, tak paham arah pembicaraan dua lelaki beda generasi ini.


Rangga lalu memberikan uang lima puluh ribu. "Mau yang anyaman atau plastik kak?" Tanya bocah itu.


"Yang ini saja" tunjuk Rangga pada tikar plastik yang digulung panjang dan dipeluk oleh bocah itu.


Mereka lalu mencari tempat teduh dibawah pohon beringin besar nan rindang, lalu duduk bercengkrama disana.

__ADS_1


"cuacanya terik, semoga hari ini tidak ada hujan" kata Rangga mulai mengambil jajanan yang Sania beli tadi.


__ADS_2