Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
33. Akrab


__ADS_3

"hahh ..dasar malas, takut disuruh bolak balik ngambil lagi ya ?" Tanya Devan menaikkan sebelah alisnya.


Dina hanya nyengir, menggedikkan bahunya lalu ikut duduk di kursi depan Devan.


Mulai hari ini dan seterusnya Devan harus membiasakan diri dengan kehadiran Dina setiap harinya. Menolak sang ibu juga percuma, yang ada malah suruh cepat menikah nanti.


Selesai meminum teh, dengan telatennya Dina membantu Devan belajar jalan pelan. Devan bukan pria kaku yang susah untuk didekati wanita. Sifat sabar dan mengalahnya Dina membuat suasana hati Devan sedikit mencair. Dia pun mengira Dina bukan gadis yang asik, nyatanya mereka sekarang nampak akrab bercengkrama. Diajak ngobrol nyambung, diajak bercanda jokes nya ngena, diajak curhat pun keduanya sama sama pendengar yang baik.


Keasikan Devan dan Dina membuat mereka tak menyadari, ternyata di balkon kamar seberang sana nampaknya ada sepasang mata mengawasi, juga sepasang telinga yang mendengarkan percakapan mereka sedari tadi.


Wanita usia hampir setengah abad itu nampak mengulas senyum. Putranya itu walaupun pergaulannya bebas, tapi dia amat patuh pada ibunya. Mungkin niat awal sengaja dijodohkan, tapi siapa tau cinta datang karna terbiasa bersama.


"Mama berharap kalian berjodoh tanpa halangan suatu apapun" ucap Bu Sandra.


.........

__ADS_1


Di lain tempat kekasih Devan panik tak karuan. Baru saja Sania mendapat kabar ayahnya dirujuk ke rumah sakit di jakarta, tepatnya di RS yang dirinya maupun Devan pernah dirawat disana.


Di tengah perjalanan sang ibu baru sempat mengabari Sania akan kondisi ayahnya. Sakit yang waktu itu kambuh lagi, parahnya ayah Sania hampir dua hari tak sadarkan diri.


Setibanya Sania disana tenyata sang ibu dan Sera keponakannya sedang ada di kursi tunggu di luar ruangan.


"Buu... " Panggil Sania yang langsung disambut pelukan hangat oleh sang ibu.


Ibu melepas pelukannya dari Sania, lalu membawanya duduk bersama dekat Sera . Gadis kecil itu tersenyum manis dengan banyak jajanan di dekapannya.


"Katakan Bu.. kenapa ayah? "


"Ibu sudah deposit 50jt untuk biaya perawatan. Jantung ayahmu bengkak, harus di operasi segera."


Sania menatap ibunya intens, netranya berkaca-kaca. Sejak kapan ayahnya punya penyakit jantung ? Selama ini sakitnya tak pernah separah itu.

__ADS_1


"Bu.. apa asuransi nggak bisa dipakai Bu sampai harus keluar uang? " Tanya Sania pada sang ibu, dia rasa limit asuransinya cukup banyak.


"ada biaya yang tidak dicover oleh pihak asuransi, dan itu totalnya lumayan banyak. tabungan ibu sudah habis"


Sania terkesiap mendengar kejujuran sang ibu. Ia tau betul memang uang transferan bulanan dari dirinya lah yang ditabung oleh sang ibu. Untuk biaya sehari hari masih ada dari usaha bakery milik ibunya.


Sedang sisa harta ayahnya sudah habis sering dipakai untuk berobat. Andai dulu ayahnya tidak ditipu oleh rekannya mungkin ayahnya masih punya modal untuk memulai usahanya kembali. Tapi entahlah, roda kehidupan berputar begitu cepat. Dulu mereka memiliki segalanya, tapi dalam sekejap habis begitu saja.


Setelah usaha sang ayah bangkrut, uang modal dipinjam, dibawa kabur teman tanpa ada kabar.


Sania dan Lina harus bekerja part time semenjak mereka sekolah. Hingga pada akhirnya Lina, adik tiri Sania harus mengalami pemerkosaan dan melahirkan Sera. Lalu ayahnya sering sakit sakitan. Ah .... Mengapa cobaan itu seakan datang silih berganti. Ralat ! Bukan silih berganti, tapi datang bersamaan secara beruntun.


"Sania masih ada uang Bu, nanti bisa ibu pakai"


ucap Sania lirih. Begitu menyakitkan harus pindah rumah empat kali demi menjaga uang di rekening tetap ada. Rumah mereka tadinya mewah. Sekarang tinggal rumah sederhana yang ayah ibu dan keponakannya tempati saat ini.

__ADS_1


__ADS_2