
Sania keluar dari kamar mandi dengan perasaan tak enak. Dia memakai piyama yang benar kata rangga, sudah disediakan disana.
Berjalan perlahan sembari mengintip apa yang sedang dikerjakan suami.
"Kenapa dia melamun ? Apa sebenarnya yang membuat dia seperti banyak pikiran" batin Sania.
Ponsel Rangga berdering.
"Iya.. ada apa?" Tanya Rangga dingin menjawab panggilan dari seseorang disana.
"Lusa ya ? Iya terimakasih" imbuhnya lalu menutup panggilan itu.
Rangga mengusap wajahnya kasar. Tak pernah seberat ini dia melakukan pekerjaan.
Walau belum lama kenal, tapi ia begitu mencintai Sania. Tak ingin membuat wanitanya bersedih apalagi menangisi kepergiaannya.
Berulang kali Sania sudah mengucapkan terima kasih padanya telah memberinya kebahagiaan, tapi sekarang apa...
Kegelisahan Rangga tak luput dari tatapan Sania yang mengintipnya sedari tadi. Ia kembali menatap nanar kelopak mawar yang masih tertata rapi di ujung ranjang.
Setelah menetralkan perasaannya, Sania kemudian memberanikan diri mendekati, Sania memanggil "Mas.."
Panggilan sang istri membuyarkan lamunannya. "Kemarilah !" Kata Rangga.
Sudah duduk bersebelahan dengan suaminya. Rangga mengusap rambut Sania.
"Mas apanya yang lusa ?" Tanya Sania penasaran.
Haaah... Rangga menarik nafas kasar, harus cerita dulu atau ceritanya nanti setelah bercinta. Pikirnya.
"Kamu dengar apa?"
"Kamu bilang lusa, iya memangnya besok lusa ada apa ? Ya kalau boleh tau sih"
Rangga mendekatkan dirinya pada sang istri. Tercium aroma sabun menguar wangi dari tubuh sania.
Rasanya dia mandi tidak sewangi ini tadi, apa Sania baru saja treatment untuk malam pertamanya. Senyum Rangga mengembang, perasaan gundahnya seketika menghilang.
Semakin mendekat, Rangga merengkuh sania. menempelkan bibirnya pada bibir istrinya, manik teduhnya menatap lekat sang istri. Kedua tangannya merengkuh tubuh istrinya.
Cukup menikmati ciuman yang mulai memanas, seketika membangkitkan gairah kelelakian Rangga. Namun Sania menahan tangan Rangga yang akan membuka piyamanya.
"Jangan mas... !"
"Kenapa ? " Rangga memicingkan matanya. Sania diam, ragu mengatakannya.
"Oke oke baiklah... Aku akan ceritakan yang sejujurnya " Rangga memposisikan duduknya senyaman mungkin disamping istrinya. Tangan Sania mulai digenggamnya.
Eeehh... Kenapa ya, aku kan cuma mau bilang anu...
"Pihak rumah sakit memintaku berangkat ke jerman"
"Untuk apa?"
"Untuk melakukan sebuah penelitian tentang obat"
__ADS_1
Sania mengerutkan keningnya "obat ?"
"Iya... Aku dokter muda di rumah sakit pusat"
Sania menggeleng masih tidak paham arah pembicaraan suaminya.
"Lusa... Lusa aku berangkat ke jerman karena hal itu".
"Berapa lama ?"
"Satu bulan"
Sania tersentak, belum juga menikmati honeymoon. Dirinya akan ditinggal pergi oleh sang suami.
Genggaman tangan Rangga dilepas Sania,lalu membuang pandangannya ke arah lain, malas menatap sang suami.
"Aku tau ini bukan waktu yang tep...."
"Pergilah !"
Belum selesai Rangga bicara Sania langsung menyela.
"Sayang... Aku minta izin padamu, aku tau ini berat, aku juga sebenarnya ingin menolak tapi..."
"Berangkat lah mas aku tak akan menghalangi" suara Sania tercekat, membelakangi suaminya menahan air mata yang akan tumpah.
Rangga memeluk Sania dari belakang, "sayang aku mohon bersabar, ini demi masa depan kita"
"Katamu kau security, ternyata suamiku Seorang dokter ya" air mata Sania tumpah.
"Sayang" Rangga merasakan air mata Sania tumpah mengenai tangannya.
"Banyak yang masih aku belum tau tentang suamiku ternyata" Sania menyeka air matanya.
Berbalik posisinya menghadap sang suami. "Maafkan aku sayang. " Ucap Rangga.
"Apa aku boleh ikut ?" Tanya Sania kemudian, sontak membuat Rangga terkesiap.
Ini yang dia takutkan. Apa yang akan terjadi setelah Sania tau bahwa dirinya tidak bisa ikut serta sang suami.
"Sa.. sayang..."
Sania tersenyum. "Aku janji tidak akan ganggu waktumu bekerja, tapi aku ikut ya"
Helaan nafas Rangga terdengar berat. "Maaf sayang... Aku nggak bisa bawa kamu ikut serta ke sana"
"Maaaaass .." Sania kecewa.
Rangga merengkuh tubuh itu lagi sebelum menghindar pergi darinya "Ini yang aku takutkan"
"Mas , kamu tega ninggalin aku sebulan ? Katamu kau cinta aku mas ?"
"Sayang ini demi masa depan kita"
"Kemana pun kau pergi aku mau ikut mas"
__ADS_1
"Iya... Tapi tidak bisa untuk kali ini"
"Apalagi yang belum kamu ungkapkan mas... Jujurlah !" Perdebatan nampaknya tengah dimulai, Sania curiga Rangga menyembunyikan sesuatu mengenai keberangkatannya.
"Sekalipun kau menyusul ku kesana, kita tidak akan bisa bertemu"
Sania menggeleng, alasan macam apa itu.
"Aku harus fokus disana, tidak bisa berkomunikasi dengan orang luar apalagi bertemu"
Sania tersenyum sinis, "kalau aku kenapa napa disini artinya kamu tidak akan peduli ya mas?"
"Bukan begitu... Ada ayah dan Reno yang akan menjagamu" ucap Rangga kehabisan kata untuk memberikan pengertian pada istrinya.
Deraian airmata Sania semakin menjadi, ia terisak dipelukan sang suami. Seakan harus melepas seorang yang dicintai itu ke Medan perang. Sania memeluk erat Rangga. Berharap ini salah satu bercandaan sang suami yang selalu memberinya sebuah kejutan.
"Akan apa aku dirumah, aku kan sudah nggak kerja" isak Sania.
"Perawatan sayang, sibukkan merawat dirimu dan bermain dengan Sera. Aku akan sewakan apartemen disini untuk kalian"
"Janji hanya sebulan ya !" Pinta Sania.
"Iya janji, doakan aku berhasil demi masa depan kita"
cup
Pipi Sania dikecup. Sania merona rasanya ingin selalu bermanja manja dekat suaminya. Tapi tak apalah hanya sebulan dia harus bersabar menunggu sang suami.
Rangga masih menahan hasrat yang sudah bergejolak dalam diri kelakiannya. Ingin rasanya segera menerkam Sania saat ini juga.
sabar sabar, malam ini harus jadi malam penyatuan romantis. Tunggu mood dia baik dulu.
"Terima kasih Tuhan kau berikan aku istri sebaik gadis cantik ini" lirih Rangga.
Sania tersenyum malu dalam dekapan suaminya. Selalu ada saja yang membuat dia tak menolak jatuh cinta pada pesona Rangga.
"Mas.. boleh lihat ponselmu ?" tanya Sania.
"boleh, lihat yang lainnya juga boleh banget"
Sania terkesiap teringat akan sesuatu, suaminya itu belum tau masalah ia yang sedang datang bulan.
Menepiskan kegugupannya, Sania meraih ponsel yang disodorkan Rangga.
"mas wallpaper gawainya ganti ya ! pasang foto pengantin kita, supaya mas selalu ingat kalau kita sudah menikah" rayu Sania dengan senyum manjanya.
"lihatlah dulu foto siapa ini" kata Rangga mengambil ponselnya kembali dari tangan Sania dan memasukkan password untuk membukanya.o
Sania sontak menutup wajahnya, malu. Itu salah satu foto dirinya yang ia upload di akun media sosial miliknya.
"sejak kapan mas tau foto ini?"
"sejak mengenalmu"ucap Rangga ,membelai rambut Sania.
__ADS_1
Rangga teringat kala ia penasaran lebih jauh dengan sosok Sania, ia cari cari semua tentang Sania. Semakin dia lihat semakin dia kagumi sosok wanita ini.
Diam diam dia simpan foto hasil curiannya di media sosial itu, lalu dilihatnya setiap akan pergi tidur. Rangga tersenyum mengingatnya.