
"Arrrgh sial"
Siang ini Devan mendapat kabar bahwa tidak ada pertengkaran apapun di rumah Sania pagi tadi , pertemuan pasangan baru itu nampaknya baik-baik saja dan Devan tidak suka akan hal itu.
Rencananya gagal, dia lupa kalau Sania bukanlah gadis pencemburu yang selalu membesar-besarkan masalah sepele. Hanya hal macam itu takkan cukup menjadi bahan yang perlu Sania permasalahkan dengan Rangga.
Bu Sandra masuk ke kamar putranya itu, membuyarkan kekesalan Devan sejenak "Van... Dina minta izin sama mama kalau dia akan ke Singapura. Ada acara nikahan temannya"
Kesempatan bagus, jauh jauh lah kau Dina. Karna kau bisa saja menghalangi rencanaku. Gumam Devan
"Van... Apa kamu nggak apa-apa kalau di tinggal Dina?"
"Aman mah.. Devan kan sudah bisa jalan"
"Syukurlah... Van, besok mama pergi dua hari jaga diri di rumah ya, mama mau kebutik baru yang di Bandung."
"Iya mah"
Semakin berbunga Devan dengan segala strateginya untuk bertemu Sania. Tak kan ada yang melarang ini dan itu untuk beberapa hari kedepan.
Tinggal memikirkan bagaimana caranya agar Rangga tak tau bahwa Devan akan mengusik miliknya itu.
"Hallo... Awasi terus dia. Beritahu aku kemana pun dia pergi" perintah Devan.
"Baik tuan" sahut sang penerima telepon dari seberang sana.
.........
Sudah sesore ini dan Sania melewatkan jam makan siang. Rangga memberi kabar bahwa ayahnya sudah diberangkatkan siang tadi didampingi oleh sang ibu dan keponakannya.
"Hari ini rasanya sibuk banget... Bentar lagi jam pulang, tapi belum selesai juga.haah lelah besti"
"Hai.. mau pulang bareng" suara baritone Adam memasuki ruang kerja Sania.
Sania terkejut dengan kedatangan Adam yang tiba-tiba. Melewati beberapa kubikel lalu sampai di meja Sania.
"Hmm.. maaf saya belum selesai" tolak Sania sopan.
"Nggak apa apa aku tungguin. Laporanku juga deadline besok pagi, di ruangan ku kosong orang." ucap Adam.
"Oh ya ya.. tapi kalo udah, silahkan duluan aja!"
"Udah ayo selesein dulu!, aku disini ya"
Sania canggung, bukan hanya kedatangannya, tapi ada niat apa Adam menawarkan diri untuk pulang bersama. Pasalnya mereka tidak seakrab itu, bahkan mereka hanya sekedar mengenal sebagai rekan kerja biasa.
30 menit berlalu Sania fokus dengan komputernya hingga lupa ada Adam yang benar menunggunya. Biar saja, kan Adam juga sedang sibuk dengan laporannya, entah benar atau sekedar alasan saja.
Hari mulai senja, satu per satu teman- teman Sania mulai meninggalkannya. Tersisa hanya ada dirinya dan Adam.
__ADS_1
"Akhirnya... Lanjut besok lah" Sania beranjak dari kursinya.
"Sudah selesai? "
"Ah masih disini rupanya? Maaf membuatmu menunggu, sebenarnya ada perlu apa ya?" Tanya Sania nampaknya mulai curiga pada Adam.
"Nggak ada apa- apa ,cuma pengen pulang bareng" kata Adam.
Beberapa lampu ruangan digedung itu mulai padam. Sania berjalan santai menuju lift, lalu Adam mengikutinya dari belakang. Tak ada percakapan apapun diantara keduanya hingga sampai di parkiran.
"Astaga, bannya" Sania melihat pada ban motor yang kempes.
"Ada apa?"
"Bannya bocor" ucap Sania mengitari motornya mencari sesuatu yang aneh, karena tadi pagi dia rasa tak ada kendala pada motor kesayangan pemberian Devan itu.
"Mungkin ini takdir, ayok bareng aja"
Sania teringat akan Rangga. Pria itu sudah resmi menyandang status sebagai kekasihnya. "Maaf saya nanti dijemput aja"
"Nggak apa-apa ayok ! Makin gelap lho mungkin sebentar lagi hujan mending sama aku aja" rayu Adam.
Adam yang tak pandai berbasa basi sedari awal malah membuat Sania menjadi curiga. Tidak mungkin secara kebetulan bisa begini.
Sania tetap memberi penolakan secara halus pada Adam dengan bermacam alasan, sembari jemarinya dengan lincah mengetik pesan untuk Rangga.
...
"Ah udah setengah jalan handphone malah ketinggalan" gerutu Rangga.
Tin
Klakson dibunyikan, seorang security jaga menghampiri mobil Rangga.
"Maaf tuan, palang parkirnya rusak sedang diperbaiki jadi mobilnya nggak bisa masuk"
"yaudah numpang parkir disini ya"
"Maaf tuan , nggak bisa juga. Dilarang parkir didepan gerbang"
"Oh begitu" Rangga lalu pamit pulang, tak menaruh curiga kedatangannya yang ingin mengunjungi Sania seolah dihalangi.
Baru beberapa meter dari gerbang perumahan Sania, ia berpapasan dengan mobil Adam. Lalu ia menghentikan laju mobilnya dan melihat kebelakang. Rangga terheran kenapa mobil Adam bisa masuk dengan lancar tanpa dihentikan oleh security seperti dirinya tadi.
Ia kemudian memutar balik kendaraannya. Kalau Adam saja bisa,kenapa dia tidak.
"Pak tolong bukakan ! " teriak Rangga pada pak Ujang dan pak Dadang yang terlihat sedang mengobrol.
"Maaf tuan masih rusak" sahut keduanya.
__ADS_1
Ada yang nggak beres dengan mereka.
Ternyata keberuntungan memihak Rangga . Disaat yang bersamaan ada penghuni perumahan itu yang akan masuk juga, dan dari arah berlawanan ada juga mobil yang ingin keluar.
Palang pintu dibuka tanpa alasan apapun lagi dari kedua security itu, jelas Rangga telah dibohongi.
Rangga masuk dengan tatapan tak suka seolah dirinya sedang dipermainkan.
"Kenapa Sania diantar Adam" gumam Rangga.
Tak lama setelah Adam meninggalkan rumah Sania, Rangga turun dari mobilnya lalu masuk kerumah Sania.
"Maaf tadi aku diantar Adam" jujur Sania sebelum Rangga mencecarnya dengan berbagai pertanyaan karna Sania tau sudah pasti tadi Rangga melihat ada adam bersamanya.
"Kenapa tidak menghubungiku ?. Katanya mau naik motor?" Tanya Rangga lalu duduk di kursi teras.
"Ban motorku bocor. Aku sudah kirim pesan ke kamu tadi,minta dijemput. Tapi Adam memaksa mengantarku pulang."
"Oh ..maaf ponselku ketinggalan dirumah"
"Aku buatkan minum dulu ya" Sania bangun dari duduknya.
"Nggak usah, kamu capek kan"
Sania duduk lagi "aku kesini mau ambil perlengkapan ibu, besok aku akan menyusul kesana" kata Rangga.
"Baiklah aku siapkan dulu. Padahal ibu bilang lusa baru berangkat, ternyata dipercepat ya"
"Iya... Aku mau semuanya cepat selesai biar pernikahan kita nggak nunggu lama"
Sania tersipu. Secepat ini Rangga mengurus semuanya. Selama pengobatan ayah Sania berlangsung, Rangga akan mengurus semua dokumen pernikahan. Jadi ketika ayah Sania keluar dari rumah sakit mereka bisa langsung melaksanakan pernikahan, masalah resepsi nanti saja setelah ayah Sania sembuh total.
"Terserah kamu aja. Aku masuk dulu"
Sania masuk untuk mengambil perlengkapan ibu dan Sera yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Cuti Sania sudah habis terpakai beberapa waktu lalu, beruntung Rangga mampu menghandle semua bahkan biaya akomodasi ia tanggung juga.
Perlu dicurigai dua security itu, Tingkahnya aneh. Batin Rangga
Pak Ujang dan pak Dadang berkeliling komplek seperti biasa, namun ada yang beda saat ini. Mereka terkesan seperti sedang mengawasi rumah sania, bolak balik mereka seakan sedang mengintai .
.
.
.
jangn lupa komen ya .makasih banyak banyak 😘😘
__ADS_1