
Sania menyambar cepat kaos yang dia pegang tadi dari lantai, kaosnya terjatuh saat Devan menarik tangannya.
Dilempar ke arah Devan, ditangkap dengan tepat.
"Cepat pakai, cepat pergi !" Amarahnya belum reda.
Devan sudah selesai memakainya, mencoba mendekati Sania lagi.
"Stop Devan ! " Bentak Sania,Lalu menunduk.
Semakin lirih bicaranya, " Keluarlah ! Pulanglah Devan !", Sania sudah akan menangis.
"San maaf, maaf aku keterlaluan
Aku kan pacar kamu, aku sayang sama kamu, aku serius sama kamu "
"Serius ??"
Sania yang tadinya berpaling muka, langsung menoleh menatap serius pada Devan.
"Iya aku serius kok, aku nggak main main"
"Beneran ?"
"Iya"sambil mengangguk mencoba meyakinkan Sania.
"Temuilah orang tuaku, lamar aku kalau kamu serius"
"Aaah apa? Apa Maksud kamu san?"
"Kalau memang serius dan nggak akan main main ,datanglah kerumah orang tuaku bersama orang tuamu!"
"San kamu bercanda" tersenyum kecut,menggelengkan kepalanya.
Devan bingung, baru juga sekali dia berani peluk Sania. Dia sudah dituntut untuk menikahinya.
Sania memang cuma tanya keseriusan Devan, tapi gadis itu meminta Devan untuk melamarnya ! Bukankah setelah lamaran harus dinikahi ya ?
Aarrrgh ...tiba tiba Devan memegang kepala mengacak rambutnya.
__ADS_1
Sania yang melihat tingkah Devan mengkerutkan dahinya. Sudah bisa dia tebak, Devan akan cari alasan untuk menolak melamarnya.
Sania lalu duduk ditepi tempat tidur. Menunggu jawaban Devan.
"San aku akan lamar kamu ,tapi nggak sekarang y "
"Terserah" Menjawab acuh, menengok ke arah lain.
Devan mendekat, berlutut didepan kaki Sania.
Baru juga mau memegang tangan Sania, telpon Devan berbunyi. Sania pun melihatnya.
Masih dengan berlutut,devan menerima panggilan itu.
"Iya hallo"
...
"Sekarang?"
...
"Oke tunggu ya!" Panggilan dimatikan.
Semenit kemudian Sania bangun dari duduknya lalu keluar rumah. Ternyata Devan benar pergi karna mobilnya pun tak ada.
.........
"Laa..dang.. dari mana kmu ? Saya cari cari" pak Ujang sedang mengobrol dengan komandannya, tiba tiba Dadang datang menghampiri.
"Saya habis keliling cari angin" jawab pak Dadang santai.
Tiin...
Mereka bertiga menoleh pada mobil yang hendak keluar itu.
"Tuan Devan..." Pak komandan berjalan menghampiri duluan lalu memberi hormat.
"Bapak tugas disini?" Tanya Devan dari dalam mobilnya.
__ADS_1
"Iya tuan, saya kira malah tadi tuan Rangga"
"Hehe Mobilnya saya pinjam.. tlong pak saya buru buru!"
"Hati hati di jalan tuan"
Tin .mobil itu melaju cepat.
"Dang Jang saya pamit dulu mau ke perum lain" kata komandan security itu.
"Siap bos" menyahut bersamaan.
"Jang ..kamu tau dari mana saya tadi ?"
Dengan tatapan antusias mau mulai curhat.
"Kamu yang pergi, kok kamu yang tanya. Mau tebak tebakkan ya.. tadi saya ajak pergi keliling nggak mau, taunya malah ngilang duluan"
"Eh Ujang.. naaah itu " pak Dadang memukul lengan pak Ujang.
"Saya tadi lihat adegan mesum di rumah non Sania" tatapan pak Dadang serius.
"Mesum gimana? Itu melanggar norma ! Pangkat kita dipertaruhkan kalau begini"
"Hiiiish " pak Dadang memukul lengan pak Ujang lagi. "Tuan Devan peluk non Sania, terus non Sania teriak karena kaget"
"Dipeluk kok teriak, kan harusnya enak enak aja hahaha" pak Ujang mempraktekkan memeluk dirinya sendiri sambil tertawa.
.........
pagi ini alarm sudah berbunyi berkali kali dari jam 5 tadi.
Namun Sania tak kunjung bangun dari tidurnya, hari minggu kemarin Sania merasa sedikit tidak enak badan dan malam harinya kurang tidur.
Ternyata pagi ini dia bangun kesiangan. "Haaaah... Aku kesiangan, aku bisa telat nih"
Mandi secepat kilat, pakai baju asal dapat, tak sempat make up.
"Nanti aja touch up di kantor " lari terburu buru, lalu naik motor.
__ADS_1
"Pagi nooooon" pak Dadang menyapa Sania dari pos.
"Buuseh.... Ngebut amat non Sania, pasti kesiangan".