Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Keluarga Harmonis


__ADS_3

Devan menyibukkan diri dengan fokus bekerja. Tidak mau mengusik rumah tangga sepupunya. Cukup mencurik lirik kerumah pak Wijaya saat akan berangkat dan pulang kerja, berharap ada Sania yang dia lihat apapun itu aktifitasnya.


Ketika dia melihat sang mantan ada di samping rumahnya itu, rasa semangat menjalani rutinitas padatnya seakan muncul seiring dengan senyuman Sania.


Tidak ada tegur sapa, tidak ada balasan tatapan untuk Devan. Hanya Devan saja lah, yang melihat apapun aktifitas Sania di sana.


Saat ini nampak rumah pak Wijaya ramai di datangi para tetangga komplek, serta puluhan anak yayasan yatim piatu.


Tepat di hari ini, hari yang telah dipersiapkan Sania untuk menyambut kepulangan sang suami.


Benar suaminya pulang, dirinya juga pulang selepas musibah yang membuat ia harus menggendong depan tangan kanannya.


Lelaki itu tersenyum, dia tidak akan datang. Dia hanya akan melihat acara itu dari balkon kamarnya di lantai atas.


Biarlah mereka menjalani kehidupan bahagia mereka dan Devan fokus dengan karirnya sebagai pengusaha muda.

__ADS_1


Masih ada Dina yang bisa memberikan perhatian padanya, itu pun kalau masih mau. Sebab Dina pun sebagai wanita pasti tidak mau terlalu agresif mendekati Devan sedangkan Devan sendiri tak mau membalas perasaannya.


Senja berubah petang, keramaian di dalam rumah pak Wijaya belum surut.


Para tamu undangan serta anak panti sudah berpamitan, namun di rumah itu ada 3 kepala keluarga yang saat ini berkumpul, pak Wijaya serta Reno, keluarga pak Hendra, dan tentunya Rangga bersama sang istri, serta para pelayan yang masih sibuk berlalu lalang membereskan rumah selesai acara, jadi masih ramai saja dilihatnya.


"Ayah, setelah ini Rangga akan membawa Sania ke singapur. Kami akan tinggal disana". Ucap Rangga pada pak Hendra saat mereka tengah duduk santai di ruang keluarga.


"Kenapa nak ? Kenapa nggak disini saja ?". Tanya pak Hendra, sudah hampir empat tahun lamanya ditinggal Sania merantau dari Semarang ke Jakarta ,tapi tetap saja, tidak rela kalau sekarang harus ke luar negeri.


Pak Wijaya tersenyum, "Singapur dekat kok Hen, kita bisa kapan saja menjenguk mereka".


Rangga mengangguk, mengiyakan. Apapun yang Sania inginkan akan ia turuti semampunya. Hasil diskusi malam kemarin saat baru pulang dari rumah sakit. Sampai di rumah Rangga mengutarakan niatnya pada sang istri. Akan keinginannya melanjutkan studi sebagai dokter spesialis di negara itu, sebab dia juga akan mengambil peran bekerja di rumah sakit pusat karena pak Wijaya akan fokus pada rumah sakit yang di Jakarta.


"Ibu cuma bisa kasih doa buat kalian. Semoga semua anak-anak ibu di beri kesehatan serta kemudahan disetiap langkah kehidupan". Ucap Bu Riska . Sania sudah menikah, orang tua tidak bisa lagi melarang ini itu karena putri mereka sudah ada yang bertanggung jawab atas hidupnya.

__ADS_1


Sebagai orang tua, selain doa, juga dukungan terbaik yang harus mereka berikan. Dukungan yang paling mudah adalah dengan tidak membebani langkah putra putrinya dalam mengambil keputusan. Jangan memberikan syarat ini dan itu. Membuat mereka harus mempertimbangkan lagi keputusan yang mungkin sudah cukup menguras pikiran saat merencanakannya.


"Terima kasih Bu" Sania lalu memeluk Bu Riska, ibu sambung yang mengurusnya sedari kecil. Namun kasih sayangnya begitu tulus ia rasakan, bahkan tidak pernah membandingkan dengan Lina yang sebagai anak kandungnya. Hidup rukun kedua orang tua Sania amatlah Sania impikan dalam rumah tangganya bersama Rangga.


Tidak pernah ada percekcokan, walau dulu pernah di uji dengan habisnya harta pak Hendra juga sakit yang tak kunjung sembuh. Hingga pada akhirnya membuat Bu Riska harus banting tulang membantu perekonomian keluarga, di lanjut Lina dan Sania kerja part time saat masih bersekolah, lalu Sania merantau setelah lulus sekolah demi bisa membantu Lina melanjutkan kuliah. Walau pada akhirnya Lina mengalami musibah hamil karena diperkosa saat bekerja part time malam hari, Sera putrinya diasuh oleh Bu Riska lalu Lina tetap melanjutkan kuliahnya sedang Sania harus mentransfer setidaknya setengah gajinya untuk biaya hidup yang tidak bisa seluruhnya dipenuhi oleh hasil toko roti milik ibunya.


Sungguh perjuangan yang luar biasa, sebuah keluarga yang penuh dengan cobaan hidup.


Namun kini semua sudah membaik, uang yang pak Wijaya pinjam dulu kepada ayah Sania, menjadi saham milik pak Hendra yang dikelola oleh rumah sakit di Jakarta.


Janendra adalah nama gabungan nama Wijaya dan Hendra. Ayah Sania begitu bersyukur atas pertemuan Sania dengan teman lamanya ini yang akhirnya sekarang menjadi besanan.


Tidak menyangka, disaat kondisinya memburuk, pertolongan tiba tepat pada waktunya. Sempat menyerah dengan keadaan yang bertahun-tahun membuatnya tidak bisa lagi membahagiakan keluarganya dengan materi. Tapi siapa sangka seluruh uang yang pernah ia ikhlaskan pada pak Wijaya dulu kini menjadi penolongnya.


Tuhan tidak tidur, semua akan indah pada waktunya, siapa yang tanam dia yang akan tuai. Terbukti dalam hidup keluarga pak Hendra.

__ADS_1


Selagi masih dalam masa pemulihan kondisi fisiknya, pak Hendra sudah bisa bekerja di rumah sakit bersama pak Wijaya sebagai manager keuangan, karena itu keahliannya.


Selesai berbincang dilanjutkan makan malam, satu persatu dari mereka meninggalkan meja makan kemudian masuk kedalam kamar mereka masing-masing.


__ADS_2