Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Akhirnya


__ADS_3

Sania melihat semua yang terjadi, ia berbalik arah untuk pulang kembali ke rumah. Ia tidak percaya suaminya pergi meninggalkan Leona dalam keadaan marah.


Sebelum Sania benar-benar meninggalkan ruangan kantin, niat hati ingin mendekati Leona yang saat ini sedang menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan, namun seketika ia urungkan niatnya, takut terjadi salah paham. Akhirnya Sania pergi begitu saja.


Sesampainya di rumah.


Duduk di tepi tempat tidur, Sania menunggu Rangga yang sepertinya sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi. Itu terbukti dengan keluarnya Rangga menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Mas". Sania coba menyapanya.


Memilih duduk di sofa, Rangga tidak menyahuti panggilan Sania.


Sania sendiri bingung, sepertinya Rangga juga marah padanya.


Yang ada dipikirkan Rangga saat ini bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Leona, dia meninggalkan gadis itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Diraihnya ponsel yang dia letakkan di atas nakas samping tempat tidur, lalu mengetikkan pesan pada Richard untuk mengurus Leona.


Sania hanya diam tak bergeming melihat suaminya yang diam tak bersuara, tak menganggap ada dirinya disana, bahkan hanya Rangga lewati saat mengambil ponselnya dan kembali ke sofa.


Dengan perasaan tidak enak, Sania memberanikan diri bertanya "Mas... Ada apa ?".


Selesai dengan pesan teks yang sudah terkirim, Rangga kemudian meletakkan kembali gawai itu pada tempatnya semula.


Diam, lewat gitu aja, duduk lagi, mainan ponsel, trus sekarang ditaruh lagi ponsel nya... Kenapa dia ini.


"Jangan pernah meninggalkan suamimu bersama dengan wanita lain".


Hhh.. Sania terhenyak. Ucapan ketus Rangga menohok hatinya.


Sania mendongak, posisi Rangga berdiri tepat didepannya saat ini. "Maafkan aku mas, aku nggak bermaksud begitu".

__ADS_1


Jika saja Sania ada dari awal sampai akhir pertemuan mereka dengan Leona, mungkin dia tidak akan bersikap menyakiti Leona.


"Kamu sengaja kan?"


Tuduhan Rangga memang benar adanya, Sania sengaja memberikan Leona kesempatan untuk berbicara lebih leluasa dengan Rangga karena di pikir ada sesuatu yang penting.


Namun ternyata sikapnya salah, Rangga bahkan sengaja meminta dirinya, menemani dia menemui wanita lain agar tidak terjadi salah paham.


"Mas..." Sania lalu menunduk, ia sadar letak kesalahannya.


Rangga rendahkan tubuhnya, membangunkan Sania dari duduknya lalu membawa sang istri dalam dekapan pelukannya.


"Jangan begitu lagi !, jangan biarkan wanita lain memiliki kesempatan merayu suamimu. Jangan biarkan suamimu memiliki waktu bersama wanita lain".


Entah kenapa sesak dada Sania mendengar petuah Rangga. Ia tidak berpikiran terlalu jauh kesana, Sania hanya menilai mereka hanya teman semasa kecil yang pernah Rangga ceritakan padanya.


Tapi dari kata-kata yang terlontar dari bibir Rangga, itu artinya gadis anggun yang ia temui bersama suaminya berpotensi menggoyahkan cinta Rangga pada dirinya, dan suaminya itu sedang berusaha menepis tapi ia malah sengaja memberi ruang.


"Aku mencintaimu" Bisik Rangga, kedua tangannya sudah bergerilya dibelakang tubuh Sania.


"Mas".


"Jangan menolakku!" Ucapnya.


"Ini masih sore mas".


Rangga tak peduli, mau sampai kapan dia harus menunggu. Dia lucut! pakaian istrinya, satu persatu. Tak ada penolakan dari Sania, wanita itu sudah menyiapkan mentalnya sedari pagi untuk kegiatan ini.


Bahkan kondisi kamar pun mendukung, Sania sudah membersihkan dan memberikan wewangian di kamar tidur mereka ini.


Rangga rebahkan Sania di tempat tidur dalam keadaan polos. Baru melihatnya saja handuk yang melilit di pinggang Rangga itu tiba-tiba merosot dengan sendirinya.

__ADS_1


Sania tersenyum malu melihatnya. Ia tarik selimut menutupi tubuh polosnya. Ditarik lagi oleh Rangga. "Biar begitu saja!".


"Dingin" keluh Sania beralasan.


"Sebentar lagi panas". Rasa yang telah lama terpendam akan terlaksanakan hari ini. Penantian yang begitu lama tertahan.


Rangga mengung'kung tubuh Sania yang nyaman dibawahnya. Bibir itu mulai menciumi setiap inci wajah Sania.


Ini pengalaman pertama bagi Sania, nervous sudah pasti. Tapi tak sedikitpun raganya menolak sentuhan itu. Sentuhan lembut dari sang suami. Yang selalu membisikkan kata cintanya disetiap kecupan lembut yang dia berikan.


Menelusuri leher mulus Sania, mengeksplor turun menikmati setiap lekukannya.


"Mas.." Rasanya geli tapi mau lagi.


Indera perasa Rangga sudah bermain diarea bulat kembar yang menantang dengan pucuk coklat mudanya.


Cecapan Rangga membuat Sania melenguh geli tapi nikmat. Setelah sejenak bermain-main diarea atas. Rangga menurunkan satu tangannya mencari sesuatu yang lebih enak disana.


.


.


.


.


upload dari kmren


24 jam di review ternyata akhirnya di tolak 😂


baru juga ada adegan yg agak dewasa dikit eh langsung kena tegur.

__ADS_1


😝


__ADS_2