Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Cemburu


__ADS_3

Pegal diantara kedua kakinya sudah tidak terasa. Sania melangkah santai memasuki ruangan Rangga. Ruang kerja pribadi dengan praktek dokter berbeda, sepertinya siang ini Sania memilih makan siang di ruangan Rangga saja.


Ketukan pintu disambut dari dalam, Sania pun masuk seiring terbukanya daun pintu.


"Selamat siang dokter" sapanya pada sang suami.


Rangga mendongak terkekeh lalu bangkit dari kursinya, mendekat dan memeluk Sania. "Sayangku datang muuach".


Mencium tubuh bagian mana pun sudah menjadi kebiasaan pria ini sekarang.


Wangi tubuh Sania seakan candu untuknya.


"Aku bawakan aromaterapi untuk ruangan ini mas".


"Beli dimana ? Sayangku sudah jalan-jalan kemana hari ini ?". Tanya Rangga sembari merangkul Sania mambawanya duduk pada kursi besarnya.


"Wanita terapis yang Odet bawa memberikannya untukku".


"Oh... Sudah enak kan badannya ?" Rangga berdiri disamping kursi tapi tangannya terus merangkul, mengusap dan menciumi rambut Sania.


"Terima kasih mas".


Senyum Sania membuat Rangga tak tahan untuk tidak menyambarnya.


Namun disaat bibir itu beradu, ketukan pintu seketika membuyarkan kehangatan cumbuuan mereka. Lantas Sania pun merapikan rambutnya yang sedikit berantakan saat bersandar tadi. Bahu Sania ditahan Rangga agar tetap duduk nyaman pada posisinya.


"Masuk !" Titah Rangga.


Sedetik kemudian seorang berpakaian perawat sekaligus asisten Rangga, nampak membawa seseorang gadis yang berdiri menunduk dibelakangnya.

__ADS_1


"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda tuan. Ada yang ingin bertemu dengan anda".


"Duduklah !". Ucap Rangga pada gadis yang dianggap tamunya.


Perawat itu pun lalu pamit keluar setelah merasa tugas nya mengantar selesai.


Bukannya duduk, gadis itu malah terisak menghampiri Rangga lalu memeluk satu tangan Rangga.


Baik Rangga maupun Sania tersentak heran.


"Kak... Aku mohon kak, tolong bebasin Kelvin".


"Clara".


"Iya kak, kakak masih kenal aku ?".


"Duduk dulu ! Bicaralah yang tenang !".


"Kekasihmu memang bersalah, dia berniat mencelakai istriku".


"Istri ?".


"Iya, ini adalah istriku Sania namanya".


"Tapi kak, Kelvin tidak sengaja, dia tidak berniat begitu. Dia hanya sakit hati diacuhkan pihak rumah sakit dan kehilangan kabar tentang aku".


Rangga pun sadar akan hal itu, pak Wijaya mengatakan mereka terputus kontak saat Rangga dibawa ke mansion.


"Bebaskan saja mas, kita bantu dia membebaskan Kelvin". Sania iba.

__ADS_1


"Tapi orang itu mencelakaimu, dan Devan yang memenjarakannya. Bukan kita".


Rangga nampak kesal, gara-gara tangan Sania sakit dia masih harus menunggu kesembuhannya untuk melakukan itu.


"Aku akan bilang Devan untuk mencabut laporannya".


Clara menyentuh tangan Sania yang ada di atas meja. "Terima kasih kak".


Cantik, baik hati, pantas saja pak dokter ini setia pada istrinya.


"Baiklah kalau begitu Clara pulang kak, sekali lagi terimakasih ya".


Setelah berpamitan pun gadis itu akhirnya pulang. Tidak sia-sia terbang sampai Singapura untuk menemui Rangga dan Sania.


"Mas... Apa sebelumnya kalian pernah kenal ? Sepertinya kalian dekat". Tanya Sania curiga.


"Maaf aku lupa cerita, dia gadis yang kabur bersamaku dari mansion. Kami sama - sama ditahan waktu itu".


Tak ingin mempermasalahkan hal itu, Sania memilih diam.


Cup. Pipi kanan Sania dikecup.


"Sayangku kenapa, maaf ya lupa cerita?"


"Dia memeluk tanganmu, kau diam saja" Sania cemberut, teringat Devan yang sering menikmati digandeng wanita lain.


Rasanya tak ingin Rangga seperti itu, walau saat dirumah sakit pun dia melihat Leona melakukan hal yang sama pada suaminya. Tapi dia juga lihat Rangga menepisnya.


"Oh.. jadi sayangku cemburu ya ?".

__ADS_1


Dipeluknya tubuh Sania, "maaf, aku pastikan tidak akan pernah terulang lagi".


__ADS_2