
Sania berlari- lari di koridor rumah sakit setelah hampir 2 jam dia menunggu jam besuk tiba, karna dengan alasan apapun tadi Sania tidak diperbolehkan masuk oleh security disana.
"Nona.. tolong jangan menimbulkan langkah yang berisik" tegur seorang perawat yang berpapasan dengan Sania.
"Maaf maaf.. (Dev aku datang Dev)" sania
berjalan cepat ia terus meneteskan air matanya.
Entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan itu , sedari dia sadar dari pingsan ketika masih di rumah orang tuanya, lalu diperjalanan masih terus menangisi Devan hingga kini ia sedang mencari cari kamar perawatan Devan yang belum juga ketemu.
Sania melihat nama kamar yang terpampang di atas pintu disetiap ruangan yang ia lewati.
"Ini sudah di lantai ruang VVIP tapi dimana devannya" Sania seakan frustasi, geram dan terus memaki dirinya sendiri, sambil terus berjalan mondar mandir.
Bugg
"Maaf hiks hiks maaf maaf" Sania menundukkan kepalanya meminta maaf merasa telah menabrak seseorang sambil sesegukan akibat tangisnya sedari tadi.
"Hey.. Sania" rangga memegang kedua lengan tangan Sania menyadarkan wanita itu kalau yang ia tabrak adalah dirinya.
__ADS_1
Sania mengangkat wajahnya melihat siapa yang dia tabrak itu.
"Mau jenguk Devan ?" Tanya Rangga kemudian.
"ii iiya" jawab Sania.
"Dia baru saja dipindahkan, tu kamarnya " Rangga menunjuk kamar kedua dari posisi mereka berdiri sekarang.
Sania menoleh "Ayok.." segera menarik tangan Rangga.
Rangga yang ditarik menurut saja.
"Assalamualaikum " Sania perlahan membuka pintu kamar ruang perawatan Devan, lalu melangkahkan kakinya masuk.
Sania berbalik badan salah tingkah "Kamu nggak bilang kalo ada orang tua Devan"
Bertanya pada Rangga seraya mengusap air matanya, berharap mata sembabnya tidak menambah kesan kucel wajahnya.
Karna baru pertama kali ini Sania akan bertemu orang tua Devan, ada perasaan takut akan dimarahi karna bagaimana pun Devan kecelakaan karna berkendara jauh untuk bertemu dengan Sania.
__ADS_1
"Ayo aku kenalkan" ajak Rangga pada Sania yang langsung menurut.
"Ayah, tante.. ini sania teman kami, mau jenguk Devan" Rangga kenalkan Sania pada mama Devan dan ayahnya, yang langsung diangguki oleh pak Wijaya dengan senyuman.
Sebelumnya pak Wijaya sudah pernah bertemu Sania saat menolong gadis itu ketika kecelakaan.
Sedangkan Bu Sandra menengok sekilas pada Sania, dirinya masih lemas merasakan tubuh yang tak bersemangat melihat putra semata wayangnya sedang terbaring lemah tak berdaya.
Setelah menyalimi mama Devan dan ayah Rangga, Sania berjalan ke arah Devan.
Dipandangi kaki Devan yang tertutup selimut itu.
Dibawah selimut sana ada kaki yang patah tulangnya walau sudah dioperasi tapi kemungkinan tidak bisa sembuh total seperti semula, mungkin cacat sementara atau bahkan selamanya.
Nyeri rasanya hati Sania kenapa dia tidak menahan Devan untuk tinggal semalam, malah pulang dan akhirnya kecelakaan.
Sania menyalahkan dirinya sendiri, dia berdiri disisi kiri ranjang devan. Disentuhnya tangan devan dengan selang infus yang masih menancap dpunggung tangannya, tak terasa air mata Sania mengalir lagi.
Tangan kanan dan kaki kanan Devan yang terluka sedari tadi tak lepas dari pandangan sania.
__ADS_1
"San.. apa kamu baik-baik saja ?" Tanya Rangga yang melihat Sania tak berbicara sepatah kata pun.
"Devan" Sania hanya mengucap nama Devan, bukan menjawab pertanyaan Rangga.