
"Apa masih sakit dev?" Tanya Dina setibanya di rumah Devan.
"Iya.. banget. Kamu harus merawatku baby, sampai aku sembuh baru boleh pulang" ujar Devan mode manja dengan lesung pipinya yang terbentuk.
Dina membuang muka jengah, "sakit salahmu sendiri. Tapi kau banyak menuntut ku"
"Kalau kau semalam tidak pergi, aku tidak akan mengejarmu" timpal Devan tak mau disalahkan.
Bu Sandra datang melerai "sudah sudah... Apa apaan kalian, baru juga sampai rumah sudah bertengkar sepagi ini".
"Mah... Dina buat kakiku sakit lagi, dia ajak aku main lari larian" Rajuk Devan tak tau malu.
"Sudah... Kamu ini lelaki Devan, jangan manja sama calon istri. Ayo kita makan ! Mama sudah masak banyak" Bu Sandra lalu menggandeng Dina yang digadang sebagai calon menantu.
" Baby.. tunggu.. " teriak Devan, membuat Bu Sandra seketika memukul bahunya.
Plak
Devan meringis, merajuk pada Dina. Gadis itu kembali menghampirinya, memapahnya berjalan. Sebelah kiri ada Dina sebelah kanan ada mamanya. Namun dalam pikiran Devan, masih saja memikirkan dia yang disana, yang sedang bersama suaminya.
"Kamu ini bibi pulang kampung kenapa tidak bilang, mama jadi harus masak sendiri. Awas kalau nggak kalian habiskan" gerutu Bu Sandra, sambil menggandeng putranya.
Selesai sarapan bersama, Dina pamit pulang diantar oleh supir Bu Sandra.
"Van mamah mau bicara" tatap Bu Sandra serius.
"Ada apa mah ?"
"Ganti mobil kantor yang kamu rusakin pakai tabunganmu !" Ketus Bu Sandra.
"Iya tenang"
"Mobilmu kemana ? Kenapa pinjam punya Doni "
"Dibawa citra" jawab Devan singkat.
"Sejak kapan ? Mama udah lama nggak lihat "
"Dari sebelum kecelakaan"
"Pinta lagi !.. jangan sampai semena mena begitu. Dia bukan siapa siapa kita"
"Hhm iya"
"KAPAN ?" tanya Bu Sandra menegas.
"Iya besok"
"Jangan tar sok tar sok kamu. Mau aja diporotin wanita itu"
"Iya mah" jawab Devan malas, iyakan saja dulu.
Dia sendiri malas bertemu citra, ternyata gara- gara memantik api dengan Citra, dirinya harus kehilangan kekasihnya. Padahal dulu selama dua tahun aman aman saja pikirnya.
__ADS_1
"Sudah mah pertanyaannya ?" Devan sudah akan beranjak dari kursinya.
"Van..." Lirih Bu Sandra.
"Ada lagi mah ?"
"Tas tukang kebun Doni kenapa sampai kamu bawa ?"
"Itu mah... Mmmm.. kebawa di mobilnya"
"Tapi tas itu ada di mobil Reno, dia juga sempat mengurungmu di kamar. Apa yang sebenarnya terjadi Van jujurlah !"
"Maaah..."
Devan berpindah dari kursinya, menghampiri sang ibu yang duduk diseberangnya.
Ia peluk wanita yang amat ia sayangi itu, seakan mencurahkan apa yang belum pernah bisa terungkapkan. Tentang perasaanya, tentang keinginannya, tentang ketidakmauannya menuruti aturan sang ibu.
Air mata Bu Sandra menetes, ia kini tau apa yang dirasakan sang anak. Ya ,putranya tengah jatuh cinta pada seorang wanita yang pada akhirnya direbut oleh seorang yang selama ini ia anggap sebagai saingannya. Dia pasti melampiaskannya.
Bu Sandra diam tak bergeming, mencoba menepis firasatnya. Barangkali salah dan bukan itu yang putranya akan utarakan.
"Aku mencintainya mah"
Deg
Sesak... Ya.. rasanya sesak. Hati ibu mana yang tak sakit melihat anaknya menangisi orang lain yang ternyata spesial di hatinya. Sedang ia menentang keras, juga memberi jalan terang terangan untuk memisahkan putranya dengan sang pujaan hati.
Nasi sudah terlanjur jadi bubur, tidak bisa di ubah jadi gumpalan nasi lagi atau bahkan jadi butiran beras lagi.
Bukan Bu Sandra egois bukan, di tau keponakannya lebih bisa menghargai wanita maka ia restui saja, toh pak Wijaya memang menginginkan Sania menjadi menantunya sebab beliau dan ayahnya Sania adalah sahabat lama.
Kala itu Bu Sandra berkunjung kerumah sakit untuk menjenguk ayah sania, di saat itu semua dirundingkan.
Beliau pun berfikir sama, menginginkan Devan berjodoh dengan Dina, putri dari sahabatnya dan sekaligus orang kepercayaan mendiang sang suami dulu. Ayah Dina adalah orang kepercayaan papa Devan yang meninggal juga karena kecelakaan.
"Ayo Mama antar ke kamarmu" ajak Bu Sandra, lalu membantu Devan melangkah menuju kamarnya.
Devan merebahkan diri dipangkuan sang ibu.
Tangan Bu Sandra terulur, mengelus lembut rambut kepala Devan dipangkuannya.
"Sayang, mama minta tolong tataplah masa depanmu. Lepaskan yang tidak bisa kau raih, bukalah lembaran baru!" Pinta Bu Sandra menasehati Devan.
Seketika Devan bangun, terduduk memandang sang ibu. "Maaah..."
Tak dilanjutkan, sebab menatap manik sendu sang ibu hanya akan membuatnya menangis. Sedetik kemudian ia berbaring lagi, meletakkan tangan mamanya seperti tadi dan lebih memilih tidak melihat wajah orang yang telah melahirkannya itu.
"Tolong beri aku sedikit waktu lagi mah, siapa tau Rangga meninggal dan Sania jadi janda"
Bu Sandra tersentak, menarik tangannya "VAN... Dia saudaramu, kenapa kau berharap yang tidak baik padanya"
"Untuk kali ini aku akan mengalah mah... Aku akan terima sekali pun itu bekas Rangga".
__ADS_1
"Devan..." Lirih Bu Sandra tak mengerti jalan pikiran putranya.
Bu Sandra menggeleng " kalau begitu lepaskan Dina, jangan beri dia harapan palsu"
"Jangan lah, mama sendiri yang menyodorkannya padaku"
Leher Bu Sandra terasa tercekat, bibirnya kelu untuk mengucap "buang ego mu Van, kau sudah dewasa. Akan banyak hati yang kau sakiti kalau kelakuanmu seperti ini"
"Aku tidak akan menyakiti siapapun" jawab Devan enteng.
"Van..."
"Maah... Turuti kemauanku kali ini saja mah"
Karena dari dulu selalu dituruti makanya kau seperti ini nak. Sesal Bu Sandra.
"Kasihan Dina kalau kau terus berharap pada istri orang"
"Tidak akan, dia sudah tau sejak awal"
"Kalau begitu kau membuat Dina yang mengalah padamu, kamu sangat egois Van"
"Bukan begitu mah.."
"Entahlah Van.. mama kehabisan kata kata" Bu Sandra menahan air matanya.
"Kalau kau tidak bisa memilih salah satu, maka kau akan kehilangan keduanya".
"Doa ibu mustajab mah, katakanlah yang baik pada anakmu ini !"
"Aku memang selalu berdoa yang terbaik untuk anakku. Tapi pada kenyataannya, dia bahkan mampu merubah semua doaku. Aku ingin yang terbaik untuk putra semata wayangku"
Devan bangun, memeluk mamanya yang kini sudah meneteskan air matanya.
"Devan tidak bisa janji mah... Tapi kalau memang Devan berjodoh dengan Dina sesuai keinginan mama Devan ikhlas".
Bu Sandra mengurai pelukan Devan,mungkin ini terlambat. Berbicara dari hati ke hati antara ibu dan seorang anak memerlukan waktu yang panjang dan jiwa yang tenang. Mungkin saat ini pikiran Devan sedang bergejolak tak sejalan dengan hatinya. Bahkan ia mampu, merangkai kata yang membuat sesak dada sang ibu.
Entah harus dengan cara apa menasehatinya, sepertinya egoisnya sudah membeku sekeras batu. Apa lagi rencana yang akan dilakukan Devan demi mencapai tujuannya, Bu sandra tak ingin menduga. Karena sesuai ucapan Devan, seorang ibu harus selalu berkata dan berdoa yang baik -baik saja untuk anaknya.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih atas dukungan likenya 😘
__ADS_1
author tidak bisa janji update setiap hari, masih berusaha dan belajar membuat ceritanya.
semoga semuanya sehat selalu, dan bisa terus baca cerita aku 😉