Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
7. Menikmati Sekejap


__ADS_3

Setelah pak Dadang semakin menjauh, Devan lalu menatap Sania.


Sudah 2 tahun kita pacaran, baru kali ini aku bisa memeluk kamu san.. my sunshine


Yang ditatap risih, salah tingkah apalagi setelah adegan pelukan yang kepergok tadi.


"Duduk Dev atau mau aku ambilkan minum? "


"Ayo aku antar ambil barengan"


Devan menaikkan sebelah alisnya, seolah kode dia ingin masuk bersama Sania ke dalam rumah.


iish...apasih ini orang, salah minum obat sepertinya. Kenapa aku mendadak takut ya...


Takut dia berbuat lebih dari pelukan tadi, maafin sania ayah.


"Sunshine"


Sunshine adalah panggilan sayang Devan pada Sania. Kehadiran Sania kala itu menjadi pencerah hidup Devan setelah meninggalnya sang ayah.


Cerah, ya...secerah cahaya matahari di pagi hari. Sebelum akhirnya citra, idola lama datang kembali.


"Hey.... Ayook !"


"Oh ya kamu mau bicara apa? Dari tadi kita belum ada bahas apapun "


Melihat Devan diam tidak menjawab Sania lantas berbalik arah masuk ke dalam rumah.


Masi di dapur, sudah dibawanya 2 gelas minuman dingin itu dengan nampan.


Buugh


Prrrraaaaaaank


"Aaaaaa...

__ADS_1


"Kenapa harus tiba tiba si ? Aku kaget"


"Maaf"


"Nggak bisa ya, sabar tunggu di luar aja! Kenapa harus mengagetkan" Sania memaki Devan.


"Baju mu basah cepat lepas, akan ku pinjami kaos polos ku !"


"Apa ? Serius suruh buka?" Devan lalu membuka kancing bajunya. Sambil matanya terus memperhatikan Sania yang sedang membersihkan tumpahan minuman tadi.


Selesai membersihkan, Sania lalu berlari ke kamar untuk ambil kaosnya. Lagi lagi Devan membuntutinya.


Menutup pintu lemari lalu berbalik badan.


Degh


Sania terkejut lagi, untuk kedua kalinya.


Devan benar benar seperti hantu, cepat sekali pindah tanpa terdengar langkah kakinya.


Bukanya mengambil kaosnya, Devan malah menarik tangan Sania hingga tubuh Sania mendekap Devan.


"Apa apaan kamu Dev.. kamu kenapa si dari tadi selalu begini "


Dipeluknya erat Sania ," sebentar saja san, dari dulu aku pengen banget bisa nyentuh kamu, peluk kamu begini"


"Dev jangan Dev, tolong dev kita nggak boleh begini Dev" Dipukulinya punggung Devan.


"Dev lepas Dev .... Aku teriak nih biar security dateng lagi " ancam Sania.


Devan semakin berani mendengar ancaman Sania. Tangan kanan melingkar dpinggang sania, sedang tangan kirinya menyentuh leher Sania.


Devan mencium bibirnya, Sania terkesiap jantungnya berpacu dengan cepat seakan darah pun mengalir begitu derasnya.


masih menutup rapat bibirnya, Sania terus memukuli Devan.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat tangan Devan mengunci tangan Sania dibelakang pinggang gadis ini.


Sania tak berkutik, bergerak pun sulit. Devan sungguh ingin lebih.


Menciumi bibir Sania lembut mencoba memancing Sania mengikuti permainannya.


Bibir Devan tetap menahan menempel di sana, akhirnya belahan bibir Sania terbuka.


Sania melihat Devan yang memejamkan mata, seketika Sania mendorong devan.


"Sayang!..."


"Apa apaan kmu ? Semakin kurang ajar kamu dev, nggak cukup kamu melecehkan aku dari tadi ? Apa sebenernya yang kamu mau? Sekian lama nggak ketemu, sekali ngajak ketemu cuma mau begini ? Ha ?"


Devan gelagapan menjawab, dia tau Sania marah dengan sikapnya.


"Nggak nggak ,nggak gitu San" Devan mencoba mendekat dengan dada polosnya.


"Stoop !


Enough Devan !"


Sania ketakutan, takut jikalau dia menyinggung Devan, pria itu akan semakin berbuat berani.


Jantungnya berdegup kencang, nafas naik turun. Jika Sania merasakan takut dan marah ,beda dengan devan.


Devan juga merasakan jantungnya berdegup kencang, nafasnya memburu.


Nafsu Devan memang sedang naik kalau tadi Sania tak menolak bisa jadi Devan lupa diri dan melanjutkan hal yang lebih.


Karna memang momen ini yang Devan mau dari dulu dari Sania. Tapi gadis ini selalu menolak pacaran mereka hanya sampai pegangan tangan saja, dirangkul pun Sania enggan, malu dilihat orang katanya.


Tapi mereka saat ini hanya berduaan, di kamar pula. Tak ada yang melihat, juga mendengar.


Apalagi memang Devan sudah mengunci pintu depan tadi, selepas ditinggal Sania di dapur.

__ADS_1


"San maaf ...aku khilaf "


__ADS_2