Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Mirip


__ADS_3

Cukup sadar diri tidak bisa menginap bersama kekasihnya sembarangan. Tak lama setelah makan malam selesai, Ricky diantar oleh supir Reno ke hotel yang sudah disiapkan untuknya menginap.


Lina tidak ikut, dirinya lebih suka menghabiskan waktu bercerita dengan kakaknya, toh putrinya sudah terlelap tidur bersama neneknya.


"Kak, coba ceritakan awal kalian kenalan !"


Sania senyum, lalu bercerita mulai dari di mall dan semuanya, termasuk dia yang tadinya bersama Devan. Namun tidak pada bagian Devan yang berbuat tak senonoh padanya. Entah ibu juga tau atau tidak, Sania juga tidak akan cerita.


Pintu kamar di ketuk. Ibu masuk, ikut bergabung dengan dua anaknya yang sudah dewasa ini.


"Kita tidur disini aja Bu, bertiga biar ngirit lampu" celetuk Lina, membuat mereka tergelak bersama. Ketiganya tidak suka kegelapan. Selalu tidur dalam keadaan lampu menyala.


"Kakakmu mungkin rindu dengan suaminya, biarkan dia tidur di kamar suaminya". Kata ibu.


"Nggak Bu, aku disini aja" sejak menyimpan berkas sore tadi, Sania belum masuk ke kamar itu lagi. Masih canggung rasanya keluar masuk kamar orang lain yang padahal sudah jadi suaminya.


"Oh ya kak, adik iparmu itu seperti mata mata. Lirikannya tajam seakan sedang mengintai sesuatu" celoteh Lina, merasa Reno selalu melihat gerak gerik kekasihnya dimana pun berada.


"Hush... Jangan ngomongin orang, udah bagus dia mau nerima kita yang rakyatnya banyak" sela ibu.


"Ya dia kesepian kali, rumah Segede gini ditempatin sendiri"


"Suami kakakmu tinggalnya disini, makanya sementara kakak iparmu tidak ada, kakakmu tinggal disini dulu".


Lina mengangguk " besok kita pulang kampung aja Bu, aku kangen rumah"


"Aku gimana ?" Tanya Sania.


"Ikutlah... Itung itung liburan"


"Iya sih mas Rangga emang ngizinin, tapi kalau Reno ikut gimana ?" tanya Sania.


"Ya ajak aja nggak apa apa, jadi gantian dia yang nginep di rumah kita" ucap ibu, antusias.


"Oh ya Lin, kok kayaknya muka kalian mirip ya ? Kamu sama Ricky" Tanya Sania, ibu pun merasa demikian.


"Masa si kak ?" Lina lalu menatap ibu "apa tandanya jodoh ya Bu ?"


Ibu menggeleng ". Kakakmu juga nggak mirip tapi menikah"


"Menikah kan belum tentu jodoh Bu, banyak yang sudah menikah tapi berpisah"


Telunjuk ibu mendarat di kening Lina "hushh.. kalau bicara di saring dulu. Doakanlah yang baik untuk kakakmu"


Sania terdiam, ibu melotot ke arah Lina lalu melirik Sania. "Ibu dan ayah tidak mirip pun jodoh, sudah dua puluh tahun kita bersama"


Sejenak mengatakannya ibu pun lalu tertegun, Lina anak bawaanya dari suami sirinya terdahulu sedang Sania anak pak Hendra dengan mendiang istrinya, jadi Bu Riska dan pak Hendra tidak mempunyai keturunan dari pernikahan mereka.


"Sudah sudah... Untuk apa membahas ini. Jodoh di tangan Tuhan. Kita hanya bisa berdoa minta yang terbaik padaNya"


Ibu pun mengakhiri percakapan malam ini, lalu kembali ke kamarnya.


..........

__ADS_1


Pagi sekali Reno sudah selesai jogging mengitari perumahannya.


"Hai Ren... Aku dengar kakakmu itu ke Jerman ya ?"Devan bertanya, ketika bertemu Reno, pagi ini sebenarnya dia sengaja menunggui Reno yang biasanya lari pagi. Memang sengaja mau mengorek informasi tentang mantan kekasihnya yang sedang di tinggal suaminya. Kesempatan pikirnya.


Reno membuang muka.


" Berapa lama Ren ?" Tanya Devan lagi.


"Sebulan"


"Kakak ipar barumu itu dimana sekarang?"


"Ada tu di rumah"


Seketika Devan beranjak menuju halaman rumah Reno. Reno sontak mengejar Devan. Lalu ditariknya baju Devan.


"Heh ..lepas sialan !"


"Jangan macam macam ya ! Mau aku bedil kepalamu" ucap Reno.


"Lepaaaaaaasss,...!" Devan menggoyangkan tubuhnya seperti bebek berenang.


"Enggak bakal lepas... balik sana kerumahmu" masih memegang, menarik baju bagian belakang Devan.


Devan akan berlari.


Reno ketarik olehnya. Kalau dilihat lihat sudah seperti karapan sapi saja mereka. Devan sapinya, Reno memegang kendalinya.


"Pak isal..tolong paaak !!" Teriak Reno meminta bantuan.


"Pegang jangan dilepas !!" Pekik Reno.


Devan pun terlepas dari tarikan Reno, seketika itu juga dia berlari.


"KEJAR PAK !!!"


Buuug.. Pyaaar


Sania menjatuhkan secangkir teh yang ia bawa ke teras, untuk bersantai dengan Lina.


"Ampun deh... Kalian sudah besar kok lari larian" sarkas Lina.


Sania segera berjongkok membersihkan pecahan belingnya.


"Sunshine jangan" Devan menahan tangan Sania, membantunya berdiri lagi "tanganmu bisa terluka nanti".


Semua orang disana terdiam, Reno yang baru datang lalu mendorong Devan secara brutal.


"Aaaarrggh..." Pekik Devan, lengannya tergores pecahan itu.


Reno tak ambil pusing, dia sendiri tidak tau ada pecahan beling disitu. Dia lantas menarik tangan kakak iparnya menjauh.


"Ya ampun nak Reno.. Jangan begitu nak !"

__ADS_1


"Ayo ayo bangun" ibu membantu Devan bangun.


"Lina ,panggil pelayan suruh bawa p3k"


"Iya Buu" Lina bergegas lari kedalam sesuai perintah sang ibu.


Sedang tangan kanan Sania masih dicekal genggaman Reno.


Darah segar mengalir dari lengan ketelapak tangan Devan.


Secara bersamaan Dina tiba-tiba datang dari arah rumah Devan. "Van... Aku cari cari ternyata kamu disini"


Dina mendekat "astaga Devan.. tanganmu berdarah".


Gadis itu mengambil alih tangan Devan dari Bu Riska, "Biar saya saja yang rawat Bu" lalu menuntun Devan kembali kerumahnya.


Mereka melewati tempat Sania berdiri, Devan dengan sengaja menyentuh tangan kiri Sania.


Dilihatnya sentuhan Devan, ada darah tertinggal, menempel di tangan Sania.


"Devan..." Lirih Sania.


"Lepas Ren, jangan seperti anak kecil. Tolong jangan di ulangi lagi!" Sania lalu melepas genggaman Reno, dan berlari masuk ke rumah.


"Bu.. mana orangnya tadi ?" Tanya Lina bersama seorang pelayan dengan kotak p3k ditangannya.


"Sudah pergi ! Tolong kamu bersihkan saja ini" ibu pun berlalu ingin menyusul Sania.


Apa aku salah ? Aku mau mandi saja .gerutu Reno .


Tin


Sebuah taxi masuk ke pekarangan rumah besar itu, ternyata Ricky yang datang.


"Minyak.. Kenapa kacau sekali. Pasti kamu ceroboh ya, pecahin gelas" Ricky menarik hidung mungil Lina.


"Heh sakit tau"


Reno menatap malas, namun tidak jadi pergi. Dirinya malah duduk di kursi teras seakan akan mengawasi keduanya.


Dia bilang tadi mau mandi, kenapa malah duduk disitu. Batin Lina.


"Sayang.. papa telpon, mama kambuh lagi. Aku harus pulang sekarang, maaf ya nggak bisa lama nemenin kamu di sini"


"Oh gitu ya " Lina mengangguk (yes, siapa juga yang minta di temenin. Padahal dia sendiri yang maksa. Pulang sono pulang !) Teriak Lina dalam hati bersorak girang.


Ibu, Sania serta Sera dan pengasuhnya keluar. "Eh ada nak Ricky, kapan datang ?" Tanya ibu berbasa basi.


"Baru saja Bu" jawab Ricky.


"sudah sarapan nak ?" tanya ibu lagi.


"sudah Bu"

__ADS_1


Bener, kenapa wajahnya mirip sekali dengan Lina. batin ibu


__ADS_2