Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Karena Ular


__ADS_3

Sebuah gapura gerbang dengan tiang besar disisi kanan dan kiri juga kokoh menjulang tinggi itu tertutup, nampak beberapa orang berdiri siaga akan menghadang siapapun yang datang dan melewatinya.


Tak jauh dari mereka berdiri, ada sebuah bangunan rumah disana. Kemungkinan besar itu pos jaga yang lebih terlihat seperti markas tukang jagal.


Orang-orangnya tinggi besar, berkepala botak, wajahnya bengis dan banyaknya coretan gambar dominan warna hijau dikulit tubuh mereka. Yang berdiri berjaga jumlahnya masih bisa dihitung jari, tapi entahlah berapa yang ada didalam markas sana.


Rangga menghentikan laju kereta kudanya. Clara yang dari tadi menghadap dan mengawasi belakang pun berbalik lalu bertanya. "Ada apa dok ?". Memanggil rangga dengan sebutan dokter. Sebab belum terlalu akrab untuk Clara memanggil dengan sebutan lain, yang Clara tau Rangga adalah calon dokter muda, baru, sekaligus putra pak Wijaya pemilik rumah sakit tempat ia magang. Setidaknya ia tau itu sebelum mereka diberangkatkan ke lab untuk mengikuti sebuah kegiatan penelitian namun berakhir seperti ini. Dipisahkan dari rombongan kemudian ditahan ber hari-hari lalu sekarang bagai tawanan yang kabur dari penjaranya.


Rangga diam, tidak menyahut pertanyaan Clara. Dia nampak menimbang sesuatu untuk dijadikannya alasan agar dapat keluar dengan mudah dan dengan cara baik-baik tanpa harus melakukan perlawanan terhadap mereka, karena Rangga sadar dia tak akan bisa untuk melawan sendirian para algojo keamanan tempat tersebut.


Baru saja akan melajukan kudanya dengan mencambukkan pelan tali kekangnya ke badan kuda. Clara mengganggu konsentrasinya.


"iiihh.."


Rangga menoleh kebelakang, melihat pada gadis muda itu yang ternyata memandang arah belakang sana tapi kakinya bergerak-gerak tak nyaman seperti menghindari gigitan nyamuk.


Rangga acuh, akan melaju lagi. Dia yakin dengan pakaian yang saat ini ia gunakan layaknya tukang perkebunan ladang Leon dia akan bisa mengelabuhi para algojo itu. Tak lupa memakai masker sebagai penutup, kata Steve semua pekerja dimansion terbiasa pakai masker, jadi tidak akan terlalu dicurigai hanya karena wajahnya tertutup. Poin yang menguntungkan untuk Rangga .


"iiiiissh..." Suara Clara terdengar sangat tak nyaman. Rangga pun bertanya. "Kenapa ?"


Clara berbalik, "haaa ? Kakiku seperti ada yang menggerayangi dok".


Kening Rangga mengkerut, "apa maksudmu ?". Pandangan mereka pun tertuju kebawah, melihat ke arah kaki Clara.


Sontak keduanya terkejut dengan satu sosok binatang melata panjang berwarna hijau yang menggelayuti pergelangan kaki Clara.


"Aaaaaaa" pekik Clara, spontan menendangkan kakinya ke udara berusaha mengibaskan makhluk hijau itu dari kakinya.


Tuk... Ular itu mematuk pergelangan kaki Clara sebelum akhirnya berhasil terlepas dari sana, dan terlempar keluar dari delman.

__ADS_1


"CLARAA" Rangga seketika panik bergeser ke belakang, saat Clara pingsan. Beruntung Rangga sigap menangkap tubuh gadis itu sebelum terjatuh, sebab akan lebih menyusahkan dirinya jika Clara pingsan dan jatuh dari delmannya.


Susah payang Rangga membaringkan tubuh gadis itu, lalu memeriksa bagian yang kena patuk oleh binatang melata tadi.


Delman ini terbiasa dibawa ke area perkebunan, juga untuk mengangkut sayuran yang dipanen dari sana. Sudah pasti binatang seperti itu kemungkinan besar terbawa dari habitat asalnya hingga dia mendiami turut jadi penumpang di delman yang saat ini mereka gunakan. Belum lagi beberapa saat yang lalu, kendaraan ini terparkir di dekat tumpukan jerami.


Rangga mencari sesuatu untuk mengikat betis Clara sebagai pertolongan pertama agar racun ular tidak menyebar kemana mana. Beruntungnya Rangga melihat tali yang teronggok dibawah kursi yang diduduki Clara, jadi tidak sampai harus merobek kain untuk mengikatnya.


Mudah baginya menemukan seutas tali yang memang sudah ada disana, dilihat dari bentuknya sepertinya tali itu untuk mengikat gepokan sayuran.


Rangga pastikan lagi, itu betulan tali dan bukan ular yang menyerupai tali.


Dibolak balik, ditekan tekan dicari ujungnya, mana tau ujungnya berkepala lonjong dengan mata melotot menatapnya. Akan lain ceritanya jika dia juga sampai terpatuk ular dikondisi yang bersamaan.


"Maaf" Rangga berucap saat membuka dan menyentuh pergelangan kaki Clara, walau si empunya raga tidak tahu tapi Rangga harus melakukan itu.


Sempat melihat bentuk rupa ular tadi, Rangga yakin yang mematuk Clara adalah ular pucuk.


Ular bernama ilmiah Ahaetulla Prasina. Ular ini termasuk jenis ular sawah yang paling unik. Persebarannya terbilang lebih luas dibandingkan dengan ular jenis lainnya.


Ciri fisik ular ini ialah adanya taring belakang dan bentuk kepala yang unik, yakni lancip atau meruncing. Ular pucuk dapat tumbuh hingga 2 meter. Sesuai dengan namanya, ular pucuk bisa ditemukan bertengger di pohon dengan warna yang menyerupai daun atau batang pohon hijau.


Habitat hewan ini berada di area hutan, perkebunan maupun sawah. Ular pucuk memangsa kadal, katak, cicak dan burung. Gigitan ular ini tidak terlalu berbahaya, hanya akan menyebabkan pembengkakan. Taringnya membekas setitik kecil pada kulit mulus Clara, mungkin karena tertutup kaos kaki juga celana jeans yang dipakai olehnya jadi tidak sampai benar-benar mengenai tubuh gadis itu.


Namun begitu Rangga tetap mengikat betis Clara.


Setelah memastikan posisi Clara aman, tidak akan terjatuh saat delmannya berlari nanti. Rangga lalu duduk kembali pada posisinya, meraih tali kendali kuda lalu mencambuknya pelan, memberi perintah agar hewan kaki empat itu jalan.


Dengan jantung berdebar tak karuan seolah dirinya akan menantang perang, Rangga perlahan mengendalikannya kudanya setenang mungkin.

__ADS_1


Jangan sampai memancing kecurigaan mereka kalau dia bukan tukang kebun asli daerah ini. Itu salah satu trik yang Rangga coba agar tak membuat mereka menyadarinya.


Delman perlahan berhenti tepat di depan gerbang, saat dua orang tinggi besar berkulit hitam bertato mawar menghadang laju langkah kuda.


Seakan sudah mengerti,kuda itu menurut saat orang itu memeriksa.


"Permisi tuan, apa yang terjadi dengan gadis anda ?".


Tanya salah seorang yang mendekat pada Rangga yang masih duduk berusaha tenang di posisinya.


"Maaf, aku harus cepat membawanya kerumah sakit. Kakinya terpatuk ular". Jawabnya, dengan raut wajah meyakinkan.


Orang itu tidak serta merta percaya begitu saja, dia lalu melihat dan memeriksa keadaan Clara.


"Oh.astaga.. Kakinya membengkak".


Seru si botak itu dengan mata melebar.


Rangga terperanjat, secepat itukah efeknya. Tapi itu lebih bagus, dengan begitu orang-orang ini tidak akan menunggu dan menahan mereka lebih lama.


"hei sialan, cepat buka gerbangnya!. Tuan Rico membawa seseorang yang terluka".


Sedikit terkesiap, tenyata si botak itu mengenal tukang kebun yang biasa lewat sini, namun tidak sadar bahwa Rangga bukan asli orang yang dia sebutkan namanya barusan.


Terserah apalah itu, yang terpenting untuknya saat ini. Mereka bisa segera melewati pintu penjara ini.


Terlebih ada nyawa yang harus segera ia selamatkan sekarang juga.


Setelah pintu besar itu terbuka, Rangga lalu bergegas memacu kudanya berlari meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2