Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Tidur bersama


__ADS_3

"kenapa duduk disana ?" Tanya Rangga pada istrinya.


"Tempat tidurku kamu tempati, aku kira kita tukeran" Sania sudah akan beranjak dari kasur milik Rangga.


"Memangnya tidak mau berduaan ?"


"Sempit mas, nanti kalau jatuh gimana?" Lanjut Duduk lagi.


"Kan kamu yang bawah aku yang atas" ucap rangga tersenyum menggoda.


Bukan Sania tidak tau maksudnya, hanya saja malu untuk menjadikannya bahan obrolan.


"Sini ! Mendekat lah"


Istrinya kemudian mendekat, mencoba memberanikan diri padahal degup jantungnya sudah tidak karuan.


"Aku pijat, mau ?" Tawar Rangga tangannya sudah berada di bahu Sania.


"Terima kasih mas, bagaimana kalau aku saja yang pijat. Kamu pasti lelah mengurus semua ini"


Tangan Rangga yang tadinya dibahu kini bergerak ke tengkuk leher Sania, mendekatkan bibirnya dengan bibir sang istri. Mencium lembut dan menunggu respon balasan.


Rangga melepaskan ciumannya menatap Sania lekat, ia tersenyum, Sania menurut tanpa perlawanan walau belum bisa memberi balasan.


Sania diam tak bergeming dadanya bergemuruh. "Ya Tuhan, kenapa jantung ini serasa ingin lompat, rasa apa ini. Kenapa jadi gugup begini"


Melihat istrinya hanya diam membuatnya penasaran, Rangga mendekatkan dirinya lagi lebih dekat . Tangan kanan memeluk pinggang Sania, sedang tangan kirinya memegang tengkuknya menarik dan menahannya lebih dekat. Ciuman rangga kini lebih agresif menuntut lebih sang lawan untuk membalas pagutannya.


Perlahan Sania membuka mulutnya, hingga Rangga memperdalam ciumannya , memagutnya menyesap lembut membuat gairahnya naik.


Tangan kanan Rangga mulai meraba bagian belakang Sania .


"JANGAN TOLONG JANGAN" Teriak Sania melepas paksa pagutan Rangga.


"Kenapa sayang, ada apa ? Rangga tersentak .


Sania memejamkan mata, mengalir butiran air dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Maaf mas" lirih Sania. Ia teringat akan perlakuan Devan malam itu.


Membuatnya tak bisa menikmati sentuhan yang Rangga berikan. Dipeluknya erat tubuh sang istri dalam dekapannya.


"Jangan takut, aku tak akan menyakitimu." Ucap Rangga seraya mengusap rambut dan mencium kening Sania.


"Belum siap untuk malam ini??" Tanyanya.


Gadis itu mengangguk " maaf" membalas pelukan suaminya. Detak jantung dan sentuhan tangan yang terasa dingin dapat Rangga mengerti, istrinya nervous berlebihan dengan rangsangan yang diberikan oleh dirinya.


Baiklah mungkin untuk malam ini hanya sentuhan perkenalan saja . Karena sejujurnya ini pernikahan kedua tapi pengalaman bercinta pertama juga bagi Rangga.


Rangga bangkit "Tidurlah disini, aku yang disana" menunjuk tempat tidur yang kemarin ia tempati.


Seketika tangan Rangga di cekal Sania. "Bagaimana kalau kasurnya disatukan ?"


"Hmm haha" mengacak rambut Sania. "Suka sekali repot. Biarlah malam ini kita tidur masing- masing aku tunggu untuk besok malam" imbuhnya seraya mengedipkan sebelah matanya.


Sania menjadi tak enak hati, suaminya ini punya kesabaran di atas rata- rata lelaki lainnya.


Ia berbaring menempatkan posisi ternyaman, Rangga membantunya mengenakan selimut. "Tidurlah istriku" muuach. Satu kecupan mendarat di kening .


"Jangan jauh-jauh baby nanti kau jatuh, mendekatlah !"


"Heh Devan... Jangan macam- macam kamu. Akan aku adukan kau pada Tante sandra"


"Adukan saja ! Paling cepat di nikahkan" tantang Devan pada Dina yang sedang memanyunkan bibirnya.


"Nikah denganmu . iiih ogaaah"


Tidur berbalik membelakangi Devan lalu memeluk guling.


Grreeep .secepat kilat Devan berpindah mengungkung Dina.


"Aaaaaaarrhhh... Apa apaan kau sialan, pergi dari atasku" teriak dina, tubuhnya terkurung di bawah Devan.


"Jangan pernah menolakku, karena aku bisa pastikan suatu saat kau akan memohon ku nikahi hahahaha" Devan berpindah lagi.

__ADS_1


Semakin lama sama dia aku bisa mendadak serangan jantung kalau begini. Hah. Gerutu Dina dalam hati.


"Aku mau tidur, jangan coba- coba kabur dariku" ucap Devan memeluk gulingnya.


"Dasar sumo" umpat Dina masih bisa didengar Devan.


"Apa sumo sumo... Kalau iri sama guling, bilang !!"


Hiihh siapa juga yang iri dasar susah move on.


"Kenapa hawanya terasa panas sih" Devan membuka kaos yang dipakainya lalu melemparnya ke sembarang arah.


Nit nit nit


Tombol remote AC di tekan Devan coba mengatur posisi terdingin, lalu menyembunyikannya dibawah bantal.


"Devan.. ini terlalu dingin, pakai bajumu !! Kau bisa masuk angin kalau begitu"


"Aku kan punya perawat setia, biar saja".


Tetap lanjut memejamkan mata.


"Susah sekali di aturnya" Dina menarik selimut, tak apalah berbagi selimut daripada Devan sakit Dina juga yang akan repot.


"Haaaaccciuh.."


Setelah 30 menit menunggu Devan terlelap, Dina mencari remote AC .


Dicari cari tidak ada, padahal dirinya sudah kedinginan sampai bersin bersin bagaimana Devan yang tidak memakai baju, bisa beku anak itu.


Nyerah. Tubuh lelah dan mata pun sudah payah tidak kuat lagi bertahan akhirnya dina pun masuk dalam selimut berdekatan dengan Devan, Devan yang juga dingin reflek mendekap tubuh Dina mencari kehangatan.


Keduanya pun tidur dengan saling berpelukan.


.


.

__ADS_1


.jangan lupa di like, komen kalau suka dengan critanya 😉 terima kasih .😘


__ADS_2