
"Apa tuh jawabannya kok rasanya aneh ya, jawabannya sebuah benda atau suatu kegiatan?" Tanya Devan berpikir keras.
"Jawab aja!" Kata Dina.
"Biduan pegang mic sambil goyang" seru Devan.
Buahahaha.....
Tawa lepas Dina terdengar nyaring sampai telinga Sania. Membuat gadis itu mencari sumber suara.
Sania memicingkan matanya, jelas dia melihat Devan sedang tertawa bersama perawat yang tempo hari bertemu dengannya di rumah sakit.
"Salah ya" Devan mengacak rambutnya.
"Oh aku tau" lanjutnya ,lalu berdiri dari duduknya mencondongkan tubuhnya kedepan membisikkan sesuatu ketelinga Dina.
Dina nampak terkejut wajah Devan tepat berhadapan dengannya. Namun tak kalah terkejut pula dengan Sania yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Dari bawah sana posisi Devan seperti mencium Dina. Membuat hati Sania memanas. Cemburu pasti, pantas saja pesan yang sania kirim tak pernah dibalas. Devan sibuk dengan gadis lain rupanya.
Jantung Dina berdebar hebat, seakan membuat deru nafasnya terdengar. Matanya seolah tajam mengintai, menerka adegan apa yang akan terjadi berikutnya.
__ADS_1
Bukan kali pertama Dina merasakan desiran aneh dalam hatinya, tapi Devan terlalu sering membuatnya terbawa perasaan.
"Making love" bisik Devan .
"Aa..apa?" Tanya Dina tergagap, memastikan Devan tak salah bicara. Apa maksudnya Devan spontan mengajaknya bercinta.
"Ya making love" seru Devan mengulangi agak keras karna dia rasa Dina tidak dengar. Lalu Devan kembali duduk di kursinya.
Devan... Satu tetes air mata sania jatuh begitu saja.
"Sania" panggil Rangga yang sudah siap akan pergi, matanya tertuju pada wajah Sania yang terlihat sayu dengan bekas air mata mengalir di pipinya.
Arah pandangan Rangga mengikuti arah lirikan mata Sania. Dia pun meihat dua sejoli sedang bersenda gurau di atas sana.
Namun lain bagi sania, hatinya tersayat sakit melihat kekasihnya lagi dan lagi bermesraan dengan gadis lain.
"Mau kesana ? Ayok aku antar" ucap Rangga melihat Sania sepertinya butuh penjelasan atas apa yang mereka saksikan sekarang.
"Boleh" jawab Sania menerima tawaran Rangga.
Baru saja mereka sampai dihalaman, Bu Sandra turun dari mobilnya lalu menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Rangga, sebaiknya ajak dia pergi. Biarkan Devan move on dari gadis ini" setelah mengucap itu Bu Sandra berlalu masuk meninggalkan mereka.
Harus bersikap seperti apa Sania, sudah jelas calon ibu mertua tidak merestui hubungan Sania dan Devan.
Rangga meraih tangan Sania, menggenggam mengajaknya keluar dan pergi dari sana.
"Eehmm nyerah" ucap Devan pasrah.
"Haha gitu aja nyerah" sahut Dina. Sedetik kemudian dia diam melihat Devan memandang kebawah sana sudah tak lagi peduli dengan jawaban dari tebakan tadi.
"Ada apa ?" tanya Dina, penasaran karna Devan terus memandangi mobil Rangga yang perlahan mulai bergerak.
"Ponselku !" Ucap Devan.
"PONSELKU ! CEPAT !" Teriak Devan.
Dina terkejut dengan Devan yang tiba-tiba membentaknya. Namun begitu dia langsung sibuk mencari benda yang disebut Devan.
"kau letakkan dimana tadi?" tanya Dina sebelum Devan berteriak lagi.
"cari saja !... biasanya kau tau semuanya" sahut Devan masih dengan pandangan yang tak lepas dari kendaraan yang melaju itu.
__ADS_1
"tidak ada" mulai panik apa yang dicari tak kunjung dapat, tangan Dina Masi sibuk menyibak seperangkat alat kasur yang sprainya kini terlihat berantakan.
"sunshine" lirih Devan.