
Selesai makan Sania berjalan keluar rumah, mengelilingi taman dan air mancur ditemani oleh suami tentunya.
Mereka berdua bersantai sejenak duduk disalah satu bangku yang ada di taman.
Tak berapa lama dering ponsel Rangga membuat mereka harus rela meninggalkan sejuknya udara sore di taman ini.
Richard meminta mereka untuk segera datang ke ruangannya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di ruangan dokter Richard. Hanya melewati parkiran area rumah sakit lalu masuk melewati loby dan satu koridor di lantai yang sama.
"Selamat sore, tuan dan nyonya addyson"
Sapa dokter tampan berjambang tipis keturunan bule. Saat Sania dan Rangga telah tiba di ruangannya.
Keduanya tersenyum membalas sapaan Richard, kemudian duduk di kursi pasien berhadapan dengan dokter yang akan menangani Sania ini.
"Saya sudah baca rekam medisnya, tidak lama lagi tangan anda akan pulih nyonya". Richard meletakkan sebuah lembaran yang Rangga berikan, lalu mengerlingkan sebelah matanya pada Sania.
"Hei... Jangan genit dengan istriku ! Atau kau mau dipindah tugaskan ke daerah lain?" Ancam Rangga merangkul possesif Sania.
"Eiiit... Sabar. Tenang kawan. Ini bisa dibicarakan baik-baik". Richard menyengir, baru tau kawan lamanya ini se arogan itu untuk masalah pasangan.
"Oh iya. Bagaimana kondisi Tante Sandra setelah kau berikan obat dari sana?". Tanya Rangga penasaran, seberapa manjur obat yang katanya diracik langsung oleh seorang Steve yang disebut sebut bertangan dingin.
__ADS_1
Richard menunjukkan acungan jempol pada Rangga "mantap" ucapnya.
"Serius ?".
"Yeah... Tentu. Lihat saja nanti di ruangannya. Hanya saja masih belum banyak bicara seperti dulu. Karena hampir tiga pekan tertidur. Tapi untuk selebihnya sudah dinyatakan sembuh".
"Ah begitu... Syukurlah".
Tak berlama-lama, dokter Richard kemudian memeriksa kondisi Sania.
"Aw"
"Kau apakan istriku ?".Rangga beranjak dari kursinya lalu seketika menghampiri brankar pasien tempat Sania duduk untuk diperiksa.
Sebagai sesama dokter pastinya Rangga sudah tau prosedur apa yang sedang dilakukan temannya. Tapi mendengar Sania mengaduh rasanya tidak tega untuk tidak memastikan langsung keadaan sang istri.
Tidak perlu dilakukan operasi apapun terhadap tangannya. Cukup dengan dua suntikan pada pembuluh darah di tangan yang sakit setelah itu selesai.
"Kira-kira berapa hari pemulihannya ?". Tanya Rangga tak sabar.
Richard meletakkan alat medisnya lalu menulis resep obat untuk Sania. "Satu bulan".
"Hah..."
__ADS_1
"Hei... Kau mengagetkanku kawan" pekik Richard.
"Yang benar saja, kata mu obat itu manjur". Rasanya Rangga tak terima kalau harus menunggu tangan Sania sembuh lebih lama lagi.
Richard menyodorkan secarik kertas resep obat yang harus diminum oleh Sania. "Issh... Kau ini dokter. Pasti lah tau berapa lama obat itu bereaksi".
"Baik lah kalau begitu terima kasih, kami permisi dulu". Sepasang suami istri ini pun lalu beranjak pergi dari ruangan dokter Richard.
Setelah memastikan Rangga dan Sania keluar dari ruangannya. Richard terkikik geli. Jelas ketara sekali Rangga possesif terhadap istrinya.
"Bucin dia".
..........
"Mah... Mamah apa kabar ? Maaf ya mah Devan baru bisa jenguk mamah sekarang". Ucap Devan lirih, berjongkok didepan kursi roda Bu Sandra. Sesampainya di rumah sakit ini Devan menemani sang ibu berkeliling taman menikmati udara sore hari. Dengan ditemani Dina sebagai perawatnya.
Ditengah kesibukannya mengurus klinik kecantikan yang sedang ia rintis, Dina selalu menyempatkan diri menjenguk bahkan merawat Bu Sandra dengan senang hati.
Bu Sandra mengulas senyum untuk putranya. Ia sudah cukup bahagia Devan sudah mendapatkan hak nya terhadap perusahaan keluarga mereka. Dan putranya ini menunjukan perkembangan luar bisa, begitu menurut laporan dari Doni yang Bu Sandra terima.
Selain asisten, Doni adalah salah satu orang kepercayaan Bu Sandra untuk mengawasi seluruh kegiatan Devan.
Kabarnya Devan membiarkan Erik terlepas dari jerat hukum baik perdata maupun pidana. Sebab paman angkatnya itu mau bertanggung jawab menikahi Citra yang saat ini tengah hamil.
__ADS_1
Bagaimana pun dulu perempuan itu pernah menjadi orang yang ia kagumi, walau pada akhirnya membawa malapetaka bagi hubungannya dengan Sania.