Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
31. Nembak


__ADS_3

"Kenapa hanya ada satu porsi sotonya ? Aku kan juga lapar" Rangga menampakkan rasa kecewanya setelah melihat hanya ada sebungkus cimol dan seporsi soto mie Bogor.


"Loh tadi bukannya mas beli siomay ya ?" Tanya Sania heran, dia baru menyadari Rangga tak membawa apapun kecuali alas duduk yang ia sewa tadi. Padahal Sania jelas lihat Rangga menghampiri gerobak siomay Bandung .


"Nggak jadi, siomaynya ikan gabus bukan ikan tenggiri" masih mode cemberut.


"Memang apa bedanya?"


"Nggak enak" jawab Rangga singkat.


"Mau ini ? Tapi sendoknya cuma satu "


"Nggak masalah kalau boleh" Rangga tersenyum genit pada Sania.


"Ini buat mas aja dulu, aku gampang" sambil menyodorkan bungkusan soto mie nya.


"Suapin aja! " Perintah Rangga pada Sania yang langsung dibalas oleh tatapan mata bulatnya.


"Iya iya aku makan sendiri deh" diambilnya bungkusan itu, sambil mencuri lirik melihat pada Sania.


Rangga mengambil potongan risoles,sedikit mie kuning dan kuah pada sendoknya, tapi suapan pertamanya ia tujukan pada bibir Sania bukan mulutnya sendiri.


"Eh..." Sania kaget isi sendok yang menggoda itu sudah siap di lahap mulutnya.


"Ayo a.... " kata Rangga dengan memperagakan mulut terbuka seolah sedang menyuapi bocah.


Tawaran Rangga begitu menggoda, makanan itupun tak bisa ditolak oleh perutnya yang sudah bunyi seperti genderang perang sedari tadi.


Namun Sania masih menjaga gengsi untuk tidak menerima suapan itu.


Mata Rangga tak lepas dari menatap Sania, yang masih ragu membuka bibirnya.


"A.... Sunshine" ucap Rangga lirih, samar samar terdengar oleh Sania.


Hap


Sania melahap suapan yang diberikan oleh Rangga itu.


Sugesti yang Rangga berikan tadi berhasil mempengaruhi Sania. Akhirnya gadis itu berhasil dia suapi, Sania nampak mengunyah dengan lahapnya.


"Ini tempat apa mas namanya ? Sania memulai percakapan setelah menelan makanannya tadi.


"Kebun raya bogor"jawabnya Rangga.


"Nih A.. lagi !" imbuhnya.


"Sudah mas malu" Sania menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan nyesel ya " tersenyum meledek, karna makanannya akan dihabiskan oleh Rangga.


"Aku yang ini saja" ambil Sania bungkusan berisi cimol.


Rangga makan dengan lahapnya soto mie tadi tanpa merasa risih bahwa sendok yang dipakai tadi bekas dari bibir Sania.


Sania menelan ludahnya melihat itu.


Itu kan bekas aku, kayaknya dia menikmati atau karna laper banget jadi terpaksa ?


Gumam Sania dalam hati.


Setelah menghabiskan semua makanan itu mereka nampak bercanda tawa. Ada rasa yang makin tumbuh dalam hati mereka. Sungguh mereka pun tak menolak itu.


Ada rasa nyaman yang mereka rasakan saat sedang mengobrol seperti saat ini.


Bahkan sejak awal kenalan di toko buku waktu itu, Rangga sudah merasakan getaran aneh di hatinya saat baru saja melihat Sania.


Dan perasaan itu kini terpupuk semakin subur di hatinya.


Rangga belum pernah merasakan jatuh cinta pandangan pertama. Dulu dia hanya kasian dan mencoba bersikap baik pada cintya, toh akhirnya dia menerima dengan lapang dada untuk menikahinya walau terpaksa. Karna memang dia tak merasa melakukannya dengan gadis itu.


Dia menyayangi kehamilan Cintya , walau dia yakin itu bukan anak dari benihnya. Dia memanjakan wanita itu selayaknya suami siaga. Dia mencoba berusaha menerima kenyataan bahwa wanita itu sudah jadi istrinya, dan akan hidup bersama dengannya selamanya.


Tapi ketika ketulusan itu baru mulai tumbuh menjadi sayang untuk memiliki seutuhnya, takdir berkata lain.


Sania yang saat itu berjoget joget tidak jelas di arena bermain di mall kala itu, membuat Rangga akhirnya mengeluarkan senyumannya yang selama ini mahal. Ya.. dia seperti jarang sekali bahagia.


"Sepertinya mulai gelap" dilihatnya jam dipergelangan tangannya, Rangga lalu bangun dari duduknya.


"Sudah sore ayo kita pulang, sebentar lagi akan tutup" imbuhnya, melihat sania yang enggan beranjak dari duduknya.


"Gedung putih itu bagus mas" menunjuk bangunan di seberangnya, dari tadi siang dia heran, disekelilingnya ramai. Tapi di gedung sana sepi seperti tak ada pengunjung.


" Istana presiden" jawab rangga singkat.


"Benarkah ? Aku baru pertama kali kesini, lain kali ajak aku ketempat lain lagi y mas !" Rayu Sania yang kini mulai terbiasa dengan rangga.


"Iya sama anak kita" ucap rangga keceplosan.


Haaa ? Nggak salah denger ? Batin Sania.


"Apa mas?" Bertanya lagi memastikan, kini Sania sudah berdiri berhadapan dengan Rangga.


Pria itu menatap dalam mata Sania, pandangan mereka saling beradu.


Rangga memasukkan kedua tangannya kesaku depan celananya, takut tak bisa mengontrol diri untuk tidak merengkuh Sania .

__ADS_1


"Ijinkan aku masuk dalam hatimu "


Deg


Jantung Sania berdetak kencang, begitu jelas Rangga mengatakannya.


Devan ... Apa aku berdosa melakukan ini


Perasaan ini mengalir begitu saja


Sungguh aku tak mampu mencegahnya


Aku nyaman bersama dengannya


Apa aku egois untuk memilih ?


Apa kamu juga merasakan hal ini saat bersama gadis lain ?


Devan maafkan aku


"Mas ayo gulung tikarnya ,kita pulang" Sania berusaha menutupi kecanggungan ya. Dia gugup harus jawab apa untuk mengalihkan pernyataan Rangga barusan.


Rangga sudah tak bisa menahan diri, ia tak bisa mengendalikan tangannya untuk tidak menyentuh Sania.


"Mas" Sania kaget kedua pergelangan tangannya di genggam oleh Rangga.


"Aku janji akan buat kamu bahagia bersamaku"


"Beri aku waktu ya" pinta Sania , dia tidak bisa menjawab langsung apa maunya Rangga.


Karna memang dia sendiri belum memutuskan hubungannya dengan Devan.


Rangga hanya membalasnya dengan senyuman. Itu artinya masih ada harapan Sania mau membuka hati untuk dirinya.


"mas tikarnya ketinggalan " Sania panik saat sudah sampai parkiran.


"memang ditinggal, kan cuma sewa" kata Rangga gemas, lalu menghidupkan mesin mobilnya.


kini mereka sedang menikmati pemandangan senja disepanjang perjalanan pulang.


"oh ya mas, kenapa tadi tidak pakai tikar anyaman.. motifnya tadi bagus lho" Sania mengingat ingat bentuk tikar yang dibawa bocah tadi .


"aku tak mau kulitmu membatik"


hahaha...


sekilas mereka saling lirik lalu tertawa bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2