
San.. sunshine.. Sania.. Sania..
Dina berlari dari kamarnya, menghampiri kamar Devan. Dua kali ini dia mendengar Devan mengigau nama Sania saat tidur. Posisi kamar Dina memang sengaja bersebelahan oleh Devan, agar kalau terjadi sesuatu dengan Devan tidak membuang waktu lama untuk menghampirinya.
Sudah beberapa hari ini pekerjaan sebagai perawat sang pewaris tunggal itu Dina jalani dengan seprofesional mungkin. Tentunya dia menahan hatinya untuk tidak baper terlalu dalam, agar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Dev bangun" tepuk dina pada pipi Devan berulang kali.
"Dev" kali ini Dina menggoyangkan tubuh Devan pelan.
"DEV" meninggikan sedikit suara karna Devan masih saja menyebut nama Sania dengan mata terpejamnya.
Pria itu mengerjap kaget bangun dari mimpi buruknya .
"Kenapa lagi sekarang ? " Tanya Dina sebal.
"Sania ninggalin aku " ucap Devan dengan pandangan kosong ke arah depan.
Kemarin saat di tempat terapi, karna dia saking semangatnya sudah bisa berjalan sendiri tanpa alat bantu. Tanpa pengawasan Dina, akhirnya dia terjatuh dan kaki Devan terkilir. Itu menyebabkan Dina dimarahi habis habisan oleh Bu Sandra. Walaupun Dina calon menantu yang dibanggakan oleh sang mama, tetap saja saat ini kesehatan Devan lebih utama dan itu tanggung jawab Dina.
Dina jadi sering menggerutu karna semangatnya Devan disebabkan tak sabar akan bertemu Sania.
__ADS_1
Walau begitu Dina tetap mau merawat Devan. Apalagi karna kelalaiannya Devan harus menambah masa terapinya.
Tangan Devan meraih tangan Dina, sontak saja pegangan tangan itu membuat Dina terheran.
"Din.. bantu aku bertemu Sania"
Hanya anggukan kepala tanpa bicara lalu Dina meninggalkan Devan begitu saja.
Kenapa tu bocah, tadi siang juga ceria. Waktunya aku mandi nih kenapa malah ditinggal.
Devan menggoyangkan kakinya yang menggantung dipinggiran ranjang, seperti bocah yang duduk ditepian kolam.
Hampir sepuluh menit, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ada gadis yang berdiri diambang pintu memperhatikan dirinya.
"Ayo mandi !" Ajak Dina pada Devan dengan muka masamnya.
Terbit senyum jahil Devan ketika melihat Dina sudah bersiap akan membantunya mandi.
Satu jam kemudian, ritual mandi dengan banyak drama pun selesai. Dina bisa bernafas lega merasa terbebas dari bayi besar yang manjanya keterlaluan. Untuk melepas dan memakai baju saja harus Dina yang melakukan.
Yang patah itu kakinya, kenapa tangannya malas tidak berguna. Gerutu Dina setelah keluar dari kamar Devan.
__ADS_1
Setelah berpakaian rapi Devan berjalan tertatih menuju balkon kamarnya "Haaaah.haha..asik juga ngerjain dia" tawa renyah Devan terdengar menyurut menyaksikan pemandangan tak biasa sore ini.
"Dia. Bukannya jengukin aku, malah Ngapel ke cowok lain" gumam Devan, melihat dibawah sana ada sosok gadis cantik yang tak lain adalah Sania, kekasihnya. Duduk sendirian di teras rumah Rangga. Sudah pasti dia bertemu Rangga tidak mungkin Reno.
"ehh sini sini..!" panggil Devan saat melihat Dina membuka pintu kamarnya dan hanya kepalanya saja yang terlihat. Devan nampak menggeser kursi kedekat pagar.
"tebak tebakan yuk" ajak Devan. saat ini keduanya sudah duduk berhadapan, dan pastinya jelas terlihat dari posisi Sania yang sedang duduk dibawah sana. Karna memang itu yang dia mau.
"mulai dari aku ya" kata Dina.
Devan mengangguk,menyimak sambil sesekali mencuri lirik kebawah sana.
"Diatas naik turun, dibawah goyang goyang. tebak apa!" .
.
.
.
.coba tebak !
__ADS_1