
"CUKUP !
"cukup jelas Dev ,terima kasih" Sania lalu berbalik badan keluar lagi dari ruangan itu dan langsung menabrak Rangga yang baru saja tiba.
Devan yang melihat itu tak mampu berbuat apa-apa jangankan untuk mengejar, meneriaki Sania untuk kembali pun tak mampu ia lakukan. Karna saat ini tangan Devan digenggam oleh citra.
"Sudahlah...kan ada aku di sini"
Citra mencoba menenangkan Devan, walau sudah ada dirinya Devan masih sering kali kepikiran citra.
Citra juga sebenarnya tahu kalau devan punya kekasih, tapi mengingat Devan yang pernah bucin padanya ia jadi menimbang.
Tak ada salahnya mendekati Devan, baru hubungan kekasih belom hubungan menikah.
Kalau pun Devan sudah menikah dirinya pun sudah niat akan rela jadi pelakor asal bisa mendapatkan segalanya dari Devan yang royal itu.
Ketimbang dirinya yang dari dulu menunggu cintanya Rangga , namun hingga sahabatnya dinikahi Rangga lalu akhirnya meninggal saat melahirkan, cinta citra masih bertepuk sebelah tangan tak di balas oleh sang duda.
Dulu citra dengan dua sahabatnya, Dina dan cintya memperebutkan Rangga sewaktu dibangku sekolah menengah. Pesona Rangga dengan postur tinggi tegap sempurna terlihat gagah di mata gadis gadis teman sekolahnya.
Hingga pada akhirnya saat pesta perpisahan kelulusan hal tak terduga terjadi pada Rangga dan Cintya.
Cintya diperkosa oleh teman lelakinya dalam keadaan mabuk, lalu dirinya dipindahkan ke kamar Rangga oleh pria tak bertanggung jawab itu.
Bukan tanpa alasan Cintya dipindahkan ke kamar Rangga, tapi memang dengan sengaja dan telah direncanakan sebelumnya.
Sebab lelaki itu berambisi untuk menjatuhkan nama besar pak Wijaya atas perintah dari orang yang telah membayarnya. Dengan memfitnah Rangga telah menodai Cintya .
Alasan bisnis dan keserakahan seseorang yang akhirnya mampu melakukan segala cara demi mencapai tujuannya.
Pagi itu orang tua Cintya langsung mendatangi villa tempat diadakannya acara pesta perpisahan sekolah itu , setelah di telpon seseorang dan mengirimkan bukti foto Rangga yang sedang seranjang bersama putri mereka.
Rangga dan Cintya terkejut dibangunkan secara paksa dari tidur mereka. Dari kejadian itulah Rangga akhirnya dimintai pertanggung jawaban untuk menikahi Cintya.
__ADS_1
Baik Dina maupun citra tau, bukan Rangga yang melakukan hal itu pada teman mereka, tapi Rangga dengan lapang dada mau menikahi Cintya .
.........
"Kenapa San ? Ada apa?" Tanya Rangga mendapati Sania berlari menabraknya dengan sudah berlinang air mata.
"Devan bersama gadis itu didalam ..."
Tak mampu melanjutkan Sania terisak dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
Rangga yang bingung ingin memastikan langsung siapa yang dimaksud Sania, tapi baru akan melangkah mendekati pintu Bu Sandra tiba-tiba datang memaki Sania.
"Sudah menggoda keponakan saya , sekarang masih punya muka ketemu Devan ? Kurang kamu bikin cacat anak saya ?? Haa? Belum puas kamu nggak ada tanggung jawabnya sama sekali"
Semakin teriris rasa hati Sania , belum sembuh luka kecewa pada Devan sekarang ibunya terang terangan menampakkan ketidaksukaan pada dirinya.
"Sudah Tan mari masuk!" Ajak Rangga agar mama Devan menghentikan caciannya pada Sania. Dia tahu hati Sania saat ini sedang hancur.
"Uuuhh.. awas kamu" bu sandra lalu berjalan berlenggok menyenggol lengan Sania .
batin Bu Sandra seraya menatap biasa pada Citra yang sedang memeluk tangan Devan.
Seolah tidak tau apapun tentang gadis itu Bu Sandra tetap bersikap biasa aja . Beliau ingin tau seberapa jauh Citra akan memoroti Devan dengan gaya seolah mencintai putranya itu.
"Mamah" panggil Devan menoleh saat pintu terbuka.
"Van sudah siap pulang sayang ?" Bu Sandra mendekat mengelus pundak Devan.
Devan mencium punggung tangan kanan Bu Sandra.
Citra yang melihat itu pun langsung melakukan hal yang sama. Menyalimi calon ibu mertua, actingnya. Entah tulus atau tidak yang penting terlihat baik saja dululah pikir Citra.
Bukan menyalimi mencium punggung tangan Bu Sandra, tapi Citra menempelkannya dipipi mengenai telinga.
__ADS_1
Setelah tangannya dilepas, Bu Sandra nampak tersenyum sinis tanpa mereka sadari.
"Sudah siap semua Ren?" Bu Sandra bertanya pada Reno yang sedari tadi mengikuti mereka lalu membawa barang Devan yang telah dikemas oleh Citra sebelumnya.
"Sudah " jawab Reno .
Rangga dan Reno membantu Devan berpindah dari brankar ke kursi roda .
Bu Sandra mendorong kursi roda Devan dengan perlahan keluar dari ruangan itu, diikuti Citra dibelakangnya sementara Reno sudah duluan dengan membawa perlengkapan Devan.
Mereka berjalan akan melewati tempat Sania yang sedang duduk. Sedari tadi Sania enggan beranjak pergi dia memilih menunggu kepulangan Devan.
Tangan Devan terulur seakan ingin meraih Sania yang sedang duduk termenung di kursi yang ada di sana.
"Sunshine.."
Mama Sandra menyambar cepat mengalihkan arah tangan putranya itu "Devan" bisiknya.
Sedang Citra bersikap cuek masa bodoh seakan tak melihatnya.
Sania hanya menatap nanar kepergian mereka yang kini sudah semakin menjauh.
Tak terasa bulir beningnya menetes kembali.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih untuk readers yang telah meluangkan waktu baca tulisan aku 🤗
jangan lupa like dan komen 😁