
Tok tok tok...
"Siapa lagi ini ?" Gumam Devan menengok kembali pintu ruangan itu. Setelah kepergian Dina, lalu Adam, sekarang siapa lagi yang datang?. Pak Wijaya sudah kembali ke apartemennya sore tadi. Tidak biasanya kembali menjenguk Bu Sandra malam - malam begini.
"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu istirahatmu". Suara bariton Rangga terdengar seiring masuknya tubuh tinggi tegap itu dengan sang mantan kekasih.
"Mama tidur" ucap singkat Devan.
"Kami cuma mau jenguk sebentar, aku senang Tante sudah bisa pulang". Kata Rangga, setelah sore harinya mengantar Sania bertemu Richard alangkah lebih baik jika mereka menengok walau sebentar karena sudah bukan jam besuk toh mereka masih dalam satu lingkungan.
"Iya terimakasih atas perhatian kalian, mana buah tangannya ?" Pinta Devan tangan kanannya terulur menengadah, meminta.
Kebetulan sekali Sania membeli beberapa roti dan buah segar sengaja untuk Bu Sandra. Setelah ia memeriksakan diri.
"Ah iya ini". Istri Rangga itu memberikan papper bag yang dibawanya pada Devan.
"Ini untuk mama ?" Tanya Devan, lalu di angguki Sania.
"Untuk ku mana ?" Ucapnya lagi.
"Ha" Sania tersentak, lalu menoleh pada suaminya. Gerakan tangan Sania yang menarik lengan Rangga memberi tanda.
Bagaimana ini?.
Seolah Rangga pun paham, ia pamit sebentar untuk keluar.
Tidak sampai 5 menit Rangga pun sudah kembali lagi dengan tentengan ditangannya.
Sania sampai heran, baru saja ia duduk suaminya sudah kembali lagi membawa rice bowl beef teriyaki kesukaannya.
__ADS_1
Hanya ada dua, satu untuk Devan sedang satunya lagi untuk Sania.
Lantas Sania pun bertanya "Kenapa cuma beli dua mas ?".
"Habis, makan lah duluan. Aku nanti saja". Jawab Rangga.
Kedua duduk berdampingan sedangkan Devan duduk di depannya.
Memang sudah waktunya makan malam, kalau hanya satu untuknya maka suaminya telat makan nanti, "Kita makan berdua ya mas". Tawar Sania.
Devan mengernyit . Eh apa apaan ini, mereka mau pamer kemesraan didepanku ?.
Seketika Devan pun beranjak, meraih piring bersih diatas nakas Bu Sandra lalu membagi porsi makanannya di piring itu.
Ia geser rice bowl milik Sania kehadapan Rangga. Lalu ia sodorkan piring berisi setengah porsi dari miliknya untuk Sania.
Ukuran rice bowl nya tidak terlalu besar, maka jika dibagi setengah porsi jadi terlihat sedikit sekali jika diletakkan diatas piring keramik berdiameter dua puluh centi itu.
Netra Rangga membulat, melihat perlakuan Devan terhadap istrinya. Kalau seperti ini jadi terkesan Devan yang lebih perhatian kepada Sania, sedangkan dia yang merasa suaminya sendiri, tidak.
Tidak bisa dibiarkan, Rangga lalu melakukan hal yang sama. Memberikan setengah porsi miliknya pada piring didepan Sania.
Ah... Ia memandang kedua pria dihadapannya. Didepannya Devan lalu menoleh pada Rangga. Satu suaminya satu nya lagi mantan kekasih. Keduanya mengalah, berbagi makanan untuknya. Kalau sudah begini ia jadi makan satu porsi sedangkan dua pria itu hanya setengah saja. Sania tersenyum kikuk.
"Makanlah sayang!"
"Makanlah sunshine".
Ucap kedua pria itu bersamaan dengan panggilan sayang yang berbeda.
__ADS_1
Sania makin tidak enak saja, terlebih Devan masih selalu saja menyebut panggilan sayangnya dulu.
"Ayo sayang dimakan !"
"Ayo sunshine dimakan!".
Terheran Sania, kenapa ucapan dua pria ini selalu saja kompak sedari tadi. Bingung ia menanggapi.
Ia tatap suaminya yang melototi Devan, pria itu pun sama. Sedang membelalak kesal pada Rangga. Tatapan keduanya yang sedang beradu seolah melayangkan protes secara telepati.
"Sudah sudah... ayo makan". Lerai Sania, keputusan ada padanya. Kalau dirinya tidak bisa mengkondisikan keadaan bisa jadi kedua pria itu baku hantam memperebutkan perhatian darinya.
Setelah Sania mengunyah satu suapan dalam mulutnya, kedua pria itu pun akhirnya melakukan hal yang sama.
Sania mencuri lirik dari ekor matanya, dalam hati ia bersyukur, kedua orang ini masih akur. Tapi ia juga meminta, jangan pernah lagi dihadapkan dengan situasi seperti ini. Karena sepertinya sang mantan belum move on darinya. Entah sengaja atau tidak, hanya saja ia ingin menjaga perasaan Rangga suaminya.
Perlakuan Devan dulu pernah sangat mesra, melebihi Rangga. Bahkan pernah sangat possesif padanya. Tapi itu dulu sebelum si playboy itu menghianati cintanya dan berakhir ia tinggalkan demi memilih Rangga.
Cepat cepat Sania menghabiskan makan nya. Ingin segera mengajak Rangga pulang agar Devan tidak memantik kecemburuan suaminya berlebih. Karena dilihat dari sudut manapun saat ini Rangga tengah cemburu dan itu tidak bisa ditutupi.
Diatas ranjang sana, Bu Sandra menahan tawa melihat keponakan juga putranya berebut perhatian seorang wanita.
Walau yang beliau lihat adegan didepannya terlihat wajar saja dan natural, tapi beliau tau apa yang tengah putranya rasakan.
Devan sedang menahan sesak, harus selalu melihat kemesraan yang terkasih bersama orang yang telah memiliki jiwa raganya. Sah secara agama dan di akui oleh negara. Terikat dalam satu perjanjian sakral untuk sehidup semati bersama.
Dari segi mana pun Devan kalah telak. Tidak bisa dia ambil, dia sentuh bahkan walau hanya memandang pun tidak diperbolehkan lagi untuknya.
Bu Sandra menghela nafas, sedewasa itu sekarang putranya.
__ADS_1
Sudah mampu menahan egois dan arogannya. Sebab bisa saja, Devan dendam dan memutus persaudaraan dengan rangga lalu menyakiti Sania. Tapi itu tidak terjadi, dan Devan membuktikannya.