
Tiiin...... Brrrrrruuuuaaaakk
Nyatanya kondisi fisik tak bisa dipaksakan walau diawal perjalanan terasa baik- baik saja.
Kelelahan dan ngantuk mulai menyerangnya, Devan hilang kontrol terhadap kemudinya.
Rem mobil Devan berdecit dua belas meter jauhnya, meninggalkan bekas hitam ban yang bergesekan dengan aspal.
Bagian mobil depan hancur hingga kap mobil itu terbuka karna membentur pembatas jalan sebelah kanan lalu membuat mobil itu terpelanting kekiri.
Untungnya masih tertahan pagar besi pembatas sebelah kiri sehingga mobil itu tak sampai jatuh masuk parit yang ada dibawah jalan bebas hambatan itu.
Kondisi Devan cukup parah dengan kaki yang terjepit pintu yang sempat membentur tadi. Seketika Devan tak sadarkan diri.
.........
Pagi ini ayah dan ibu Sania melihat berita sambil menikmati sarapan paginya.
"Kasian ya yah, gitu tu jadinya kalau maksain nyetir tengah malam sendirian"
"Iya. Bisa jadi capek dan ngantuk nggak ada yang diajak ngobrol karna sendirian" sahut ayah menanggapi ibu.
__ADS_1
Sania keluar dari kamarnya sambil memainkan gawainya.
Mendadak Sania Terpaku ditempat masih berdiri, tak terasa air matanya menetes membasahi pipi putihnya. Dengan pandangan serius melihat layar ditangannya.
Putra tunggal keluarga saloka bernama Devandra Arya Saloka mengalami kecelakaan tunggal dini hari, diperkirakan dirinya kelelahan akibat tugas luar kota yang sedang diembannya, itu diketahui berdasarkan kendaraan operasional kantor yang digunakannya mengalami kerusakan parah. Dan dalam kecelakaan yang dialami hanya ada dirinya seorang, saat ini devan dirawat di Unit Gawat Darurat rumah sakit x di Jakarta.
Sania melemah detak jantungnya berpacu dengan cepat, pikirannya melanglang buana tak karuan. Devan bukan sedang tugas kerja, tapi Devan siang kemarin datang kerumahnya menemui dirinya.
Devan kelelahan karna menyetir sendiri mobil itu tanpa didampingi supir yang bisa menggantikannya saat lelah.
Sania tak sempat menawarkan Devan menginap karna dia buru- buru pergi pamit pulang saat itu.
"Dev.. Devan.." lirih Sania, pandangannya mulai kabur kepalanya pusing.
"Dev...."
Brruug
Sania jatuh pingsan.
"San ..lho lho..lho.. Sania " ibu Sania seketika berlari mendekati Sania yang pingsan di depan kamar.
__ADS_1
"Buk.. kenapa ini Bu, Sania san san Sania" pak Hendra panik menepuk nepuk pipi Sania, tak kunjung bangun Sania akhirnya diangkat dari lantai itu oleh ayah dan di bantu oleh ibunya.
.........
Disisi lain, Bu Sandra mama Devan sedang menangis histeris dipelukan pak Wijaya kakaknya.
Setelah kepergian suaminya dua tahun lalu, segala sesuatu yang berhubungan dengan tingkah polah Devan menjadi tanggung jawab pak Wijaya juga sebagai keluarga.
Rangga dan Reno nampak baru datang di Rumah Sakit lalu berjalan cepat menghampiri Tante dan ayahnya itu.
" Ayah.. gimana keadaan Devan ? Apa kakinya masih bisa diselamatkan ?" Mendengar perkataan Rangga Bu Sandra tambah histeris, ia tak kuasa membayangkan akan bagaimana masa depan Devan kalau sampai kakinya harus diamputasi.
Menjelang senja mama Devan, Rangga, Reno dan pak Wijaya masih menunggui operasi kaki Devan yang belum menunjukan tanda- tanda akan selesai itu.
Walaupun ruang tunggu yang mereka tempati saat ini didesain senyaman mungkin dengan fasilitas lengkap tak bisa membuat mereka nyaman .
Pak Wijaya sudah berusaha mengerahkan team dokter spesialis terbaik. Bahkan untuk perawatan Devan selanjutnya jika memang di rumah sakit yang ia miliki ini kurang maksimal maka mereka sepakat akan membawa Devan menjalani perawatan di rumah sakit luar negri demi kesembuhan Devan.
Baik pak Wijaya maupun Bu Sandra tak ingin sampai telat memberikan pertolongan untuk Devan. Apalagi Devan anak semata wayang bu sandra dan satu-satunya keturunan dari keluarga saloka mendiang ayah Devan.
"Ya Allah... Sembuhkan lah anakku Devan " lirih Bu Sandra yang sedang memanjatkan doa dalam ibadahnya.
__ADS_1