Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Pisau


__ADS_3

Pagi yang sejuk di lingkungan rumah sakit.


Embun dan dinginnya pagi menyapa kulit putih sania. Saat ini dirinya berada di teras rumah setelah menemani sang suami sarapan pagi. Kau mengantarnya Rangga berangkat kerja sampai depan pintu.


Lucunya, berdiri dari rumahnya saja Sania sudah bisa memastikan suaminya sampai tempat kerja dengan selamat. Karena jaraknya memang dekat.


Tiga hari berlalu, Rangga sudah aktif bekerja menggantikan posisi pak Wijaya.


Sania sudah dua kali mengantar dan menemani makan siang suaminya.


Seperti hari ini, Sania bingung sekarang setiap hari harus memikirkan mau memasak menu apa untuk Rangga.


Untungnya Rangga tidak rewel, apa yang Sania bawakan dia tidak protes. Bahan-bahan yang didapat dari supermarket di Singapura hampir sama dengan yang di Indonesia. Sania juga mulai mencari referensi olahan makanan sebanyak - banyaknya guna menambah ilmu masaknya. Namun begitu tetap saja, tiap harinya pasti akan dilema lagi menentukan menu apa yang akan diolah.


Padahal ini baru hari ketiga. Begitulah seorang istri mengenai masalah perut.


Obat yang Richard berikan terbukti ampuh. Sania bisa memainkan pisau dengan tangan kanannya tanpa terasa nyeri sedikit pun.


Senang rasanya dirinya sudah sembuh, tapi kecemasan nampak terlihat diantara sunggingan bibir yang malu - malu itu. Dia ingat lagi, tatapan Rangga saat berpamitan sebelum berangkat kerja. Rayuan nakal yang menyuruhnya bersiap untuk nanti malam.


"Aaw"


Cerobohnya Sania, darah keluar begitu saja dari jari telunjuknya yang terkena sayatan pisau.


Bisa - bisanya Sania membayangkan adegan jorok yang akan terjadi nanti malam.

__ADS_1


"Ada apa nyonya" tanya odet yang berlari menghampiri Sania. Dirinya sedang menjemur pakaian dihalaman belakang saat Sania berteriak.


Melihat darah dari jemari Sania, odet panik. mengambil kotak obat lalu dengan cepat mengobati tangan Sania.


Dirinya menyesal membiarkan sang nyonya memegang pisau sendiri.


Dua hari kemarin ia membantu menyiapkan bahannya, sedang Sania memberi arahan. Namun hari ini Sania sudah merasa bisa memegang semua jadi dirinya menghandle pekerjaan lainnya.


"Please nyonya, bersantai lah di kamar sambil baca novel saja. Saya lihat di rak banyak sekali buku yang nyonya punya".


Sania tergelak "ini hanya masalah kecil, kenapa kau cemas sekali odet".


"Saya takut tuan marah".


"Sudah ya nyonya anda ke kamar saja, nanti kalau masakannya setengah matang saya akan bawa ke kamar untuk anda mencicipi rasanya". Odet sudah merasa bisa mengolah dengan menggunakan beragam rempah bumbu masakan khas Indonesia. Sania sudah pernah menjelaskan fungsi dari masing - masing hasil tanaman negaranya.


Setelah dibujuk akhirnya Sania menuruti perintah odet. Dia juga perlu menyiapkan diri untuk malam pertamanya.


Jangan sampai urusan kasur terlupa hanya karena mengurusi dapur.


Raganya harus siap agar tidak mengecewakan sang suami. Sania pun memulai untuk perawatan tubuhnya.


.........


"Selamat pagi tuan, ada tamu dari Jerman ingin menemui anda".

__ADS_1


"Siapa ? Tolong persilahkan masuk". Ucap Rangga menatap sebentar lalu beralih pada berkas riwayat medis seorang pasien. Baru tiga hari bekerja Rangga sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.


Kalau dulu dia hanya duduk dan memantau keamanan, saat ini otak dan tangannya benar berfungsi sebagaimana keahliannya.


Pintu dibuka dan betapa terkejutnya Rangga mendapati sosok gadis cantik masa kecilnya berdiri diambang pintu.


"Astaga" membulat sempurna netranya.


Gadis itu berjalan cepat lalu memeluk paksa Rangga yang masih tercengang di kursi jabatannya.


"Aku merindukanmu, aku mencarimu ke Jakarta. Rupanya kau tugas disini".


"Lepas ! Lepas dulu ! Aku sudah menikah kau ingat itu".


Leona menggeleng " Biar, biarkan begini dulu. Jangan larang aku. Hargai perjuanganku mencarimu !".


"Aku sangat menghargaimu, tapi tidak begini caranya. Sikapmu akan menimbulkan fitnah kalau begini".


Rangga ingat terakhir kali dia meronta membuat Leona terlempar dari raganya.


Maka harus pelan sekali dia menolaknya.


"Please lepaskan, katakan apa tujuanmu kesini".


"Ikut aku kembali ke mansion!".

__ADS_1


__ADS_2