
Baru sedetik pelukan itu dilepaskan, Sania memeluk Rangga lagi bahkan lebih erat dari sebelumnya.
"Mas...itu pasti Devan"
Mana mungkin dia tau kami disini. Batin Rangga.
"Mas jangan di buka mas, mas aku mohon mas, tolong jangan" ucap Sania mulai panik.
"Tenang, tenangkan dulu pikiranmu. Mana mungkin ada Devan disini" Rangga pun juga berusaha menunjukkan sikap tenang agar sania tak khawatir berlebih.
"Mas" lirih Sania. Bayangan Devan dengan wajah bengisnya muncul dihadapan lalu menarik paksa dirinya untuk terlepas dari Rangga.
"Jangan di buka mas !!" Sania menggeleng dan semakin mempererat pelukan tangannya pada tubuh Rangga.
"Tenang sayang, duduk sini dulu. Biar aku lihat siapa yang datang" berharap Sania menuruti perintahnya.
Tok tok tok...
"Excuse me " ucap suara seorang wanita dalam bahasa Inggris dari luar kamar mereka.
Rangga bernafas lega, nampaknya itu suara pelayan hotel yang tadi juga mengantar sarapan untuk mereka.
"Sayang, sepertinya ada tamu untukmu"
Sania makin berdebar saja, dia tidak mengundang siapapun. Kenapa Rangga malah mengatakan itu tamu untuknya.
"Tetap tenang, duduk lah !"
Dilepasnya pelukan Sania lalu berjalan membuka pintu.
__ADS_1
2 orang wanita berjalan membawa koper, dan sebuah kotak make up di tangannya. Sania melihat siapa yang ada dibelakang Rangga menghampiri dirinya, oh MUA .
Tak butuh waktu lama untuk mendandani seorang gadis yang memang sudah cantik aslinya.
Sekitar 30 menit berlalu, Sania sudah berganti pakaian memakai kebaya pengantin.
"Cantik " ucap Rangga .
Sania tersipu. "Malu mau keluar, masa kerumah sakit dandannya begini" ia terkekeh geli.
"Kenapa harus di rumah sakit, kenapa tidak buat acaranya di ballroom hotel ini".
Rangga tertawa "ayah mertuaku tidak boleh main terlalu jauh, nanti di cari oleh dokternya"
"Maaf ya mas"
"Ayo berangkat taxinya sudah menunggu" ajak Rangga.
"Susah ya ?"
"Iya.. langkahnya sus-... aww"
Tanpa meminta ijin terlebih dulu, Rangga langsung saja mengangkat tubuh Sania.
KeDua orang wanita perias tersenyum geli di belakang mereka. Rangga berjalan cepat, salah satu perias sedikit berlari mengimbangi langkah Rangga sebab ia memegangi gaun Sania yang menjuntai ke bawah. Dan satunya lagi tak mau ketinggalan, menyeret koper dan mengejar.
Sania mengalungkan tangannya pada leher Rangga dan menyembunyikan wajahnya, malu dengan riasan pengantin lalu digendong ala bridal style, melewati lobby hotel yang dimana banyak orang berlalu lalang keluar masuk tempat itu, dan jelas memperhatikan pengantin yang terburu buru akan pergi ini.
"Aku kan bisa jalan sendiri mas" Sania memanyunkan bibirnya, kesal dengan kelakuan Rangga.
__ADS_1
Cup
"MAS.." Sania terkesiap netranya membulat sempurna, calon suaminya itu mencuri cium sebelum waktunya.
"Kita harus cepat, apa kau ingin istirahat ayahmu terganggu, menunggu kita lama" jelas rangga tanpa mengatakan kalau Devan bisa saja datang menggagalkan acara mereka.
"Iya.. maaf mas. Nanti gendong lagi ya" Sania menutup mulutnya.
Rangga terkesiap, ternyata calon istrinya hanya pura- pura kesal padahal mau lagi.
Sesampainya di aula masjid janendra hospital , keduanya disambut oleh ibu Sania, pak Wijaya, Adam,dan Dina, pasukan Bu Sandra pun telah tiba disana, dan tentunya penghulu beserta jajarannya sebagai saksi pernikahan mereka.
Sekitar dua puluh orang akan menjadi saksi ikatan suci mereka, Sania masih mencari seseorang yang belum ia lihat keberadaannya.
"Kenapa sayang ?"
"Dimana ayahku?" Tanya Sania pada Rangga.
Tanpa menjawab pertanyaan Sania, Rangga lalu berjalan mendekati pak Wijaya berbincang menanyakan kabar calon ayah mertua.
Sementara seorang perawat dan 2 orang Perias tadi mengajak Sania untuk ke ruang rawat pak Hendra, menempatkan Sania di ruangan itu bersama sang ayah dengan sebuah layar televisi menyala menampilkan suasana tempat ijab kabul yang akan di lakukan nanti.
Rangga yang berbalik akan kembali pada Sania sontak terkejut mendapati sang calon istri tidak ada di tempat.
Seketika pikirannya berkecamuk.
"Duduk lah disana nak!" Perintah pak Wijaya.
"Istri ku yah ?" Maksudnya dia menanyakan dimana Sania.
__ADS_1
"Sabar, sebentar lagi kalian bertemu. Ayo !" ucap pak Wijaya lalu memegang pundak Rangga menuntunnya duduk didepan penghulu.
Sementara dia khawatir memikirkan dimana mempelai wanitanya, namun ia menurut perintah ayahnya.