
Kereta kuda atau di Indonesia sering disebut delman itu, kini telah menjauh dari halaman mansion milik keluarga Leon.
Samar-samar mereka mendengar bunyi alarm peringatan menggema. Rangga paham itu, panik, sudah tentu. Gadis itu pun sama detak jantungnya tak karuan setelah tadi berlari meloloskan diri dari Mona yang ingin menyekapnya, lalu sekarang sudah seperti buronan yang melarikan diri dari selnya.
"Bagaimana ini tuan ?" Tanyanya .
"Tenang, jangan kacau konsentrasi ku. Kita sedang sama-sama kabur . Berdoalah semoga kita bisa melewati gerbang didepan sana.
Ya, ada sebuah gerbang yang memang menjadi pintu terakhir keluar masuknya semua orang atau kendaraan dari mansion itu menuju jalan raya kota.
Ditengah luasnya perkebunan dan lahan kosong itu, memang nampak berdiri megah dan besar hanya satu rumah. Yaitu hanya rumah milik Leon, yang baru saja mereka tinggalkan. Potensi untuk mereka tertangkap kembali kemungkinan masih besar. Tapi tekad Rangga sudah bulat, dia ingin cepat pulang bertemu istrinya.
Rangga menghela nafas dalam, mereka baru melewati satu hektar, terhitung dari rumah Leon juga halaman dan perkebunan sekitarnya. Setelahnya masih ada empat hektar perkebunan lagi untuk mencapai kota, itu artinya jarak tempuh mereka masih beberapa kilometer lagi untuk benar-benar sampai stasiun yang dimaksud Steve.
__ADS_1
Dari stasiun kereta nanti, mereka akan menuju bandara. Begitu rencananya, dokumen Rangga masih ada lengkap di tasnya.
Tapi tunggu, Rangga menoleh pada gadis yang terlibat dengannya saat ini. "Siapa namamu ?".
"Clara tuan". Sedari tadi Clara memantau pergerakan arah belakang mereka. Barangkali ada yang mengejar, maka dia bisa beritahu Rangga secepatnya.
Mendengar namanya Rangga hanya mengangguk tanpa bertanya lagi kenapa dia bisa berada dalam situasi yang sama seperti dirinya.
Tapi lain hal dengan gadis yang bernama Clara ini, dia perhatikan secara intens Rangga. Memastikan secara benar bahwa dia mengenali sosok pria yang membantu dan membawanya lari dari bangunan yang saat ini nampak kian kecil karena jarak mereka kian jauh.
"Hhm.." tanpa menoleh Rangga menyahut.
"Benar ternyata.." seru Clara dan Rangga mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Anda dokter Rangga putra pak Wijaya kan ?" Tanya Clara memastikan kalau dia bukan salah orang.
"Iya" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari lajunya kuda berlari. Rangga tak ingin kehilangan fokusnya pada sang kuda, dia menyadari dirinya kusir amatiran, kalau sampai salah tarik talinya bisa-bisa kuda mengamuk hilang kendali dan mereka celaka.
Awalnya ragu untuk berbicara lebih lanjut, tapi Clara memberanikan diri untuk bertanya ."Dok , saya mahasiswa magang dirumah sakit janendra di Jakarta. Apa bisa kita kembali ke Indonesia bersama dok ?".
"Iya kita akan pulang, apa dokumenmu masih ada semua ?"
"Ada, saya bawa".
Memang keduanya di bawa ke mansion dengan cara baik-baik tidak dengan diculik.
Tas dan perlengkapan pribadi pun selalu ada bersama mereka. Hanya saja koper berisikan baju ganti mereka tertinggal di rumah itu sebab memang tidak memungkinkan mereka bawa saat tadi mereka tergesa-gesa naik kereta kuda. Jadilah hanya ransel yang melakat di punggung mereka saja, beruntung semua dokumen masih ada jadi tidak perlu repot untuk mengurus data sebagai syarat penerbangan kembali ke negara mereka.
__ADS_1
Sejauh ini mereka aman, setidaknya belum ada tanda tanda pengejaran oleh orang-orang Leon. Semoga saja begitu, Namun semuanya tidak berjalan mulus begitu saja, gerbang menjulang tinggi besar telah nampak di depan mata. Situasi sulit sepertinya telah menanti kedatangan mereka.