
Angin berhembus sepoi siang ini, suasana masih terasa asri dengan banyak pohon rindang juga hektaran sawah hijau sejauh mata memandang.
Ditambah halaman rumah orang tua Sania yang luas, ada pohon mangga dan rambutan yang rimbun daunnya disana. Hanya daunnya saja karena memang belum musimnya berbuah.
Seperti kebiasaannya sehari-hari, bocah kecil Sera bermain dihalaman luas itu tapi sekarang tidak seorang diri, sebab ada Santi yang mengasuhnya.
Ibu serta Sania menikmati rujakan buah yang dibuat oleh Neneng. Entah kenapa ibu tadi pagi berbelanja itu, mungkin karena sedang banyak orang jadi mungkin seru kalau rujakan.
"Non lahap banget, padahal itu mangga muda". Ucapnya.
Sania tersenyum masih menikmati, dari dulu memang suka dengan bermacam buah masam yang belom masak itu. Padahal kebanyakan orang akan merasa ngilu memakannya.
"Pedas neng" kata ibu, lalu meneguk segelas air putih hingga tandas isinya.
"Orang Jawa mah suka yang manis ya Bu, maaf Neneng lupa"
"Ya nggak semua sih, ibu juga suka pedas tapi nggak bisa banyak banyak"
"Mbak Santi sini !". panggil Sania.
Yang dipanggil mendekat, Sera masih asik sendiri dengan mainannya.
Sesaat mereka mengobrol santai, sambil mengawasi Sera.
"Bu" Dia lihat disana Sera dihampiri seorang wanita paruh baya yang Sania tidak kenal. Sania menarik tangan ibu, barangkali ibunya mengenali orang itu.
"Apa ? Oh itu, neneknya si Loren temannya sera. Sapa aja kamu kan belom kenal sama beliau" kata ibu.
Sania menghampiri akan membawa Sera keteras bersama mereka, seraya menyapa wanita yang ternyata tetangganya . Sudah waspada dia takut kalau beliau akan menculik Sera.
__ADS_1
Sebagai permintaan maafnya Sania mengajak wanita itu untuk bergabung.
Wanita itu terlihat ramah mau membaur dengan keluarga Sania.
"2 Minggu yang lalu saya kesini lho Bu, mau kasih undangan 7 bulanan" kata nenek Loren.
"Oh maaf Bu, saya dijakarta sebulan, ini juga baru pulang. Emang siapa yang hamil ?"
"Itu.. si Nora, mamanya Loren"
"Oh begitu"
"Saya dengar dengar anaknya situ udah nikah ya di Jakarta ? Anak yang mana?".
"Ini, Sania anak yang sulung" kata ibu seraya menunjuk Sania.
"Mana suaminya apa nggak ikut pulang ?"
"Sayang banget ya, harusnya pengantin baru minta cuti yang banyak biar bisa honeymoon" kata nenek Loren, sambil mengambil sepotong buah lalu memakannya. "Enak nih.. seger"
"Iya makan yang banyak Bu" neneng menimpali.
"Minta sedikit dong ! Dibungkus buat Nora, lagi ngidam dia"
Ibu menepuk tangan Santi, mengkode agar mengambil plastik untuk diberikan pada neneknya Loren.
"Sania udah isi belum ?, si Nora aja anak baru umur dua tahun udah mau nambah lagi".
Paham Sania tidak mengerti maksud nenek Loren, ibu Sania menjawab "nanti kalau sudah saatnya juga pasti hamil".
__ADS_1
Sania terkesiap, apa maksudnya wanita itu membandingkan dirinya dengan anaknya yang bernama Nora itu.
Sambil sibuk memasukkan potongan buah kedalam plastik yang diberikan Santi, nenek Nora terus mengoceh.
"Ibu kasi tau ni, mumpung masi anget pengantin baru buruanlah di gas biar cepet jadi. Jangan lama lama. Apalagi sampai pisah gini sama suami. Beuh... nggak ada romantis romantisnya kalau begini. Biasanya kan lelaki lagi lengket-lengketnya nempel sama istri kalau lagi pengantin baru. Ini kok malah berjauhan".
Bu Riska tersentak, tak menyangka nenek Loren mampu berkata demikian. Hati Sania pun mencelos mendengarnya.
Wanita itu tidak tau apa yang terjadi, tapi sudah kemana mana arah bicaranya.
Sania bangun dari duduknya lalu masuk kedalam membawa botol air minum yang isinya sudah dituang dalam gelas dan sudah habis diminum ibu.
"Eh eh nggak usah semua, nanti kalian makan apa" kata nenek Loren pada Neneng yang menuangkan seluruh isi buah ke dalam plastik.
"Tenang Bu.. Stok di kulkas masih melimpah" sahut Santi, mengerti situasi.
Berharap semoga wanita itu cepat pergi dari hadapan mereka, karena sudah mendapatkan apa yang dia mau.
"Eh yang ini ini siapa ?" Menunjuk pada Neneng dan Santi. "Bukan orang sini ya ?".
Walau kesal ibu tetap menjawab "teman teman anak saya dari Jakarta".
"Oh pendatang, sama kayak saya. Betah betahin deh tinggal disini, sini orangnya baik baik juga ramah" kata nenek Loren. " Tinggal di kontrakan mana?" Imbuhnya.
"Kami tinggal disini" jawab Santi .
"Oohh... Masih numpang".
Mereka tercengang mendengar wanita itu sangat bar bar dalam bertutur kata, tidak menyangka di tempat senyaman ini ada saja orang-orang seperti itu disekeliling mereka.
__ADS_1
Tidak segera pergi, rupanya nenek Loren menunggu Sania keluar lagi. Tadi dia dengar di lemari pendingin yang mereka punya ada stok makanan melimpah. Ia kira Sania masuk mengambilkan untuknya sebagian.
Lama menunggu Sania yang tak kunjung keluar, akhirnya nenek Loren pun berpamitan juga dengan membawa buah tangan untuk anaknya yang dia bilang sedang ngidam.