
Pagi ini Naina terbangun dengan senyum nya yang merekah indah. Tidur nya begitu nyaman malam tadi, apalagi dekapan hangat pelukan Reyza yang tak pernah lepas dari tubuh nya yang membuat nya selalu menikmati kehangatan yang benar benar sampai kedalam jiwa nya.
Naina menatap hangat wajah tampan yang masih terpejam dengan begitu tenang itu. Dia mengamati seluruh inci setiap lekukan wajah yang terpahat begitu sempurna. Hal yang selalu dilakukan nya setiap kali dia terbangun dari tidur nya, mengamati wajah suami nya yang selalu sedap dipandang meski tertidur sekalipun.
Sungguh bukan hanya wajah nya yang tampan namun juga hati nya yang begitu tulus mencintai nya, dan Naina benar benar dapat merasakan nya selama ini.
Tangan nya mengukir lembut seluruh wajah Reyza, mulai dari alis nya yang tebal, mata nya yang tajam namun memiliki bulu mata yang lentik, hidung nya yang mancung berdiri, dan terakhir tangan nya berlabuh dibibir tipis milik Reyza yang terlihat menggoda.
Naina tersenyum dan langsung mendaratkan sebuah kecupan singkat dibibir tipis itu. Namun dia malah malu sendiri akan ulah nya, bahkan wajah nya mulai merona kembali
Naina hendak beranjak dari atas tempat tidur, namun baru sedikit dia menggerakkan tubuh nya, tangan Reyza malah semakin memeluk nya dengan erat
"mau kemana hmm" tanya Reyza dengan suara nya yang terdengar serak
Naina mengernyit heran, karena mata Reyza masih terpejam rapat
"kakak sudah bangun" tanya Naina pula
"ya, ada sesuatu yang sedari tadi memperhatikan wajah ku, dan mencuri bibir ku pagi ini" jawab nya seiring mata nya perlahan terbuka. Dapat dilihat nya Naina yang tersenyum malu dan langsung menyembunyikan wajah nya didada Reyza membuat pria itu terkekeh pelan dan langsung mencium pucuk kepala istri nya
"kamu gemesin banget sih" ucap nya sembari memeluk Naina dengan erat hingga istri nya itu menggeliat kaku
"kakak sesak" rengek Naina, namun Reyza malah terbahak mendengar nya, dia melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Naina yang terlihat masih sembab khas wajah orang bangun tidur
"kamu sih gemesin, aku gak tahan" ucap nya dan langsung mencium lama bibir merah muda istri nya. Naina terkesiap kaget namun lama kelamaan dia malah terbuai dengan sentuhan Reyza yang begitu lembut. Meski sudah setiap hari dia merasakan sensasi itu namun tetap saja dia masih merasakan debaran yang tidak bisa dijabarkan.
Reyza ******* lembut bibir istri nya, melepas nya perlahan dan kembali melahap nya hingga lama lama sesuatu dibawah sana langsung berdiri dengan gagah nya membuat Naina membesarkan mata nya saat paha nya merasakan benda itu bergerak gerak perlahan.
Naina langsung melepaskan diri dari Reyza yang sudah terlihat begitu berhasrat.
"kenapa dia selalu bangun sih" tanya Naina melirik benda milik Reyza, namun yang ditanya malah tertawa
"dia memang harus selalu bangun sayang, itu adalah benda berharga ku setelah kamu" jawab nya membuat Naina mendengus kesal
"kamu mau merasakan nya" tanya Reyza tersenyum penuh arti sembari menarik tangan Naina mendekati benda itu, namun Naina langsung menepis tangan Reyza dan langsung beranjak duduk
"kakak mesuuummm!!!" teriak nya menutup wajah nya dengan kedua tangan nya
"hahaha, jika kamu sudah merasakan nya nanti kamu pasti tahu jika benda itu begitu berharga dan memang harus selalu bangun" ungkap nya membuat Naina memukul lengan nya dengan kuat
"belum boleh" seru nya
"hah, memang sungguh menyiksa" kata Reyza langsung terbaring dan merentangkan kedua tangan nya keatas kepala nya sedang mata nya juga ikut terpejam
Naina tersenyum menatap wajah frustasi Reyza, memang bukan kali ini saja Reyza harus menahan hasrat nya, itu terjadi sudah berkali kali dan hampir setiap hari. Terkadang Naina kasihan melihat nya harus menahan lebih lama lagi, dan ini memang anjuran dari dokter Bayu.
Senyum Naina seketika memudar saat mata nya melirik kembali kebagian inti tubuh Reyza yang masih saja berdiri tegak bagai tiang listrik.
Dia langsung menelan Saliva nya, berbagai macam fikiran buruk langsung berhamburan dikepala nya, apa benda itu muat ditubuh nya, apa benda itu tidak akan menyakiti nya nanti?
Naina langsung menggelengkan kepala nya dengan cepat.
Reyza melirik Naina dengan aneh, dan dia langsung tersenyum lucu melihat wajah Naina yang memerah dan sesekali melirik benda nya.
"kamu pasti sedang berfikiran mesum kan" tebak nya membuat Naina terkesiap kaget.
"enggak, sembarangan" elak Naina memalingkan wajah nya yang semakin memerah karena ketahuan oleh Reyza jika dia memang sedang mengarah kesana
"ayo ngaku, wajah kamu tidak bisa berbohong sayang" goda Reyza menarik tangan Naina hingga Naina jatuh diatas dada bidang nya
"enggak, kakak yang selalu berfikiran mesum" jawab nya lagi, namun Reyza malah terbahak melihat wajah Naina yang begitu lucu saat sedang malu
__ADS_1
"jangan berfikiran yang aneh aneh, dia memang sudah ditakdirkan untuk mu, hanya tinggal menunggu waktu nya saja" kata Reyza membuat Naina tertegun dan menatap lekat wajah Reyza
"apa benda sebesar itu bisa masuk?" tanya Naina pelan, Reyza langsung menyemburkan tawa nya mendengar pertanyaan konyol Naina membuat gadis itu mendengus kesal
"hahaha, jadi itu yang sedari tadi difikiran kamu" tawa Reyza pecah hingga Naina kembali duduk dengan wajah cemberut nya
"istriku ini polos sekali siih" gemas nya sembari ikut duduk dan menarik kedua pipi Naina yang mulai berisi kembali
"kakak iih, Nai kan cuma bertanya" kesal Naina menepis tangan Reyza yang masih saja tertawa, tawa yang jarang Naina lihat semenjak dia sakit
"kamu bisa lihat sendiri dia muat atau tidak" kata Reyza sembari mengarahkan tangan nya kearah tubuh nya hendak membuka kancing celana nya namun segera ditahan Naina
"ya jangan begitu juga kak" teriak Naina panik membuat Reyza semakin terbahak
"kata nya penasaran" jawab Reyza
"enggak" teriak Naina lagi
"hahaha, oke oke, kamu ini" Reyza langsung menarik Naina kedalam pelukan nya dan menciumi seluruh wajah nya
"jika dokter sialan itu tidak mengancam ku maka kamu pasti sudah akan merasakan kekuatan ku sayang" kata Reyza lagi membuat Naina kembali melayangkan pukulan didada nya
"kakak, jangan mesum terus" seru nya
"siapa yang mesum, kamu yang berfikiran negatif terus" elak nya , Naina hanya mendengus dan kembali merebahkan kepala nya kedada Reyza.
Mereka berdua seakan masih menikmati hari pertama mereka berada dikamar mewah Reyza tanpa perduli jika hari sudah beranjak siang dan orang orang sudah mulai berkumpul dimeja makan untuk sarapan.
Naina memejamkan mata nya dalam pelukan Reyza, namun tiba tiba dia terkesiap kaget dan dengan cepat pula melepaskan pelukan nya membuat Reyza juga ikut terkejut
"astaga" seru nya panik sembari mengibaskan selimut nya dengan cepat dan hendak turun kebawah namun ditahan oleh Reyza
"ada apa sayang?" tanya Reyza juga ikutan panik
"memang nya kenapa?" tanya nya masih tidak mengerti
"Nai bisa dipecat jadi menantu jika seperti ini." jelas nya lagi , Reyza langsung menepuk dahi nya gemas
"siapa yang berani memecat mu hmm, ada ada saja" kata nya kesal dengan Naina yang tiba tiba berubah menjadi polos
"kak, Nai sudah berjanji untuk menjadi istri yang baik untuk kakak, tapi bangun saja Nai kesiangan, bagaimana Nai bisa meladeni semua kebutuhan kakak. Mama pasti marah" lirih nya tertunduk
Reyza langsung mendengus senyum dan menarik hidung nya dengan kuat membuat Naina berdecak kesal
"sudah ku bilang jangan berfikiran yang tidak tidak. kamu itu masih dalam tahap penyembuhan sayang. mama pasti tidak akan membiarkan mu melakukan apapun selain makan dan tidur" ungkap Reyza
"benarkah begitu" tanya Naina lagi dan Reyza langsung mengangguk cepat
"mama ku sangat menyayangimu seperti dia menyayangiku, jadi jangan takut ataupun segan sayang" kata Reyza lembut
"Nai ngerasa gak berguna" lirih Naina tertunduk
"CK, seperti ini lagi" ketus Reyza , Naina langsung menatap wajah tampan yang kelihatan kesal itu
"maaf, maaf, jangan marah" ucap nya manja dan langsung mendekap tubuh Reyza, namun Reyza masih diam tak bergeming
"kakak" panggil Naina lagi namun Reyza malah memalingkan wajah nya membuat Naina semakin panik
"kakak jangan marah, Nai minta maaf" ucap Naina lagi namun Reyza masih diam. Sebenar nya dia tidak benar benar marah, dia hanya ingin melihat ekspresi wajah panik Naina yang begitu lucu. Sekuat tenaga dia berusaha menahan bibir nya untuk tidak tersenyum
"kak" panggil Naina meraih wajah Reyza dengan tangan nya, ditatap nya wajah Reyza yang masih datar itu
__ADS_1
"sayang , jangan marah. Nai janji, Nai gak akan begitu lagi. Nai akan menikmati semua yang ada disini. Nai akan menuruti semua keinginan kakak, jangan marah sayang, pliissssz" ucap nya memelas membuat Reyza langsung meleleh dan tersenyum karena panggilan sayang dari Naina yang jarang sekali didengar nya
"janji" pinta nya dengan wajah serius membuat Naina mengangguk cepat
"janji menuruti semua keinginan ku" tanya Reyza dan Naina kembali mengangguk cepat
"kalau begitu kemari" panggil nya menarik tubuh Naina untuk duduk tepat dihadapan nya
"yang pertama, jangan pernah merasa rendah dan tidak berguna lagi" ucap Reyza serius
"iya, Nai janji" jawab Naina
"yang kedua, semua yang ada disini adalah milikmu juga, jadi nikmati dan jalani seperti apa yang seharus nya memang terjadi, jangan sungkan ataupun malu lagi, kamu ratu disini, bukan pembantu" kata Reyza masih dengan wajah serius nya
"iya" jawab Naina mengangguk
"yang ketiga, jadi istri yang baik untuk ku hanya cukup dengan selalu tersenyum dan tetap sehat seperti ini, jangan pernah lupa untuk menjaga kesehatan mu selalu agar kamu bisa selalu ada bersama ku setiap saat" ungkap Reyza lagi dan kali ini tatapan nya berubah menjadi hangat dan penuh harap, membuat Naina tersentuh hati nya
"iya , Nai akan selalu jaga kesehatan selalu" jawab Naina
"janji" pinta Reyza
"janji sayang" jawab Naina lembut membuat senyum terpancar diwajah tampan itu
"satu lagi" kata Reyza membuat Naina mengernyit namun tetap mengangguk
"mulai sekarang ubah panggilan mu untukku" kata Reyza
"memang nya kenapa" tanya Naina
"itu panggilan untuk adik kakak, kita ini suami istri sayang" jawab Reyza
"jadi Nai harus panggil apa?" tanya Naina
"terserah" jawab Reyza
Nai terdiam sesaat sembari memikirkan panggilan apa yang diinginkan Reyza
"mas, hubby, sweety, sayang, baby atau apa" tanya Naina bingung
"apa yang menurut mu bagus" tanya Reyza pula
"Nai bingung kak" rengek Naina membuat Reyza tertawa
"bagaimana dengan hubby" kata Reyza
"hubby" gumam Naina dan Reyza langsung mengangguk cepat
"apa itu tidak berlebihan" tanya Naina
"mungkin tidak" jawab nya
"emm baiklah hubby" jawab Naina sedikit ragu mengucapkan nya
"kamu terlihat geli mengucapkan nya sayang" kata Reyza tertawa membuat Naina juga ikut terbahak
"ya, memang menggelikan sebenar nya" jawab Naina membuat Reyza langsung mengacak gemas rambut nya.
Jadilah pagi itu mereka menghabiskan waktu dikamar dengan obrolan absurd mereka tanpa tahu bahwa diruang makan semua orang sudah berkumpul dan tengah menunggu kedatangan mereka.
...
__ADS_1
next